Film ‘Tenet’ Cocok untuk Ngajak Pacar yang Hobinya Mesum di Bioskop

Film ‘Tenet’ Cocok untuk Ngajak Pacar yang Hobinya Mesum di Bioskop terminal mojok.co

Film ‘Tenet’ Cocok untuk Ngajak Pacar yang Hobinya Mesum di Bioskop terminal mojok.co

Entah bagaimana bisa, kok ya masih ada saja orang yang menjadikan bioskop sebagai tempat mesum. Entah karena sudah terlalu konak, kehabisan uang untuk menyewa tempat, atau ya ini perihal fetish, saya nggak paham. Yang jelas tipe orang seperti ini masih ada. Lha wong menjadikan bioskop sebagai tempat ciuman saja sudah aneh, kok ya ada jenis manusia yang menjadikan sebagai tempat mesum. Melalui tulisan ini, saya nggak bakal memberikan spoiler berlebihan mengenai film Tenet. Mungkin ada tulisan lain yang menjelaskan film tersebut secara lebih deep. Bisa saja orang itu bernama Riyanto, Chicco Jerikho versi beta mas-mas barista Yogyakarta.

Tulisan ini hanya menjadikan film Tenet sebagai pisau analisis bahwa film ini bisa menjadi alternatif bagi kamu yang punya pacar kalau ke bioskop ngajak mesum terooos.

Biasanya, kalau pacarmu mesum, pol mentok ya ngajak nonton film horor Indonesia produksi Raffi Ahmad. Film yang biasanya nggak nonton 30 menit bagian awal pun tetap paham. Film yang blas nggak usah menyertakan logika sebagai pemahaman utama. Film-film seperti ini kenapa laris? Ya karena banyaknya muda-mudi mesum yang menjadikan film-film macam ini sebagai pelicin aksi. 

Makanya biar lebih bervariasi, saya bakal memberikan rekomendasi lain. Nah, kalau memilih film Tenet, jelas ini adalah alternatif paling adiluhung.

Alasan pertama dan paling utama adalah film Tenet adalah film yang kudu mikir. Walau kata Riyanto, film ini nggak berat-berat amat, namun sebagian pemirsa di jagad raya media sosial bilang film ini kudu mikir jeru. Orang-orang mesum, biasanya ogah mikir atau cenderung nggak bisa mikir. Setelah melihat film ini, wes to aksi nggatheli tangan pacarmu semisal mesum itu bakal teralihkan.

Jatuhnya malah diskusi dadakan bak memecahkan problematika Covid-19 di Indonesia. Kamu dan pacarmu malah jatuh kepada dialektika menegangkan dan diskusi berat mengenai film ini. “Ha kok bisa gitu?” atau kalau nggak “Sek, sek, sek, aku nggak paham, kok bisa si A jadi si B?” proses berpikir, saya yakin bakal menghancurkan pikiran kotor nan bathil Astagfirullah.

Alasan kedua adalah film ini menarik. Kalau film-film horor yang sempat saya sentil di atas kebanyakan sudah nggak seru sejak dalam pratayang, film Tenet bisa dibilang berbeda. Sejak menit awal sebagai pembuka, film ini memang kurang ajar bikin penasaran. Alasan ini yang memperkuat bahwa aksi jahil pacarmu itu, bisa ditanggulangi lantaran film ini sudah panas sejak awal.

Jika menarik sejak menit pertama, pikiran-pikiran kotor bakal luruh dan berubah menjadi rasa penasaran atas jalannya cerita. Jangan kaget semisal pacarmu itu yang biasanya tangannya njrantal ke sana dan ke sini, berubah menjadi anteng bahkan cenderung kemringet. Bisa juga wajahnya jadi spaneng, mringkel ketakutan dan mbregeli karena saking menegangkan.

Alasan ketiga adalah aksi yang ciamik dan cenderung menegangkan. Sajian laga yang menawan ditampilkan dalam alur cerita film Tenet. Sudah dibikin mikir, menarik, sekarang disajikan visual yang menawan. Gerakan para aktornya, John David Washington dan Robert Pattinson—yang nggak berubah menjadi vampire—amat menyenangkan untuk dilihat.

Ditambah nih ya, alur yang maju mundur adalah kombinasi yang sungguh wangun. Lha wong saya lihat aksi Jackie Chan aja sudah sorak-sorai bergembira, apalagi ditambah alur yang kurang ajar nggak tertebak. Pun dengan visual yang mantap, mbuh apa istilahnya, entah itu CGI atau teknologi lainnya, saya jamin pacar kamu yang biasanya mesum di bioskop, bakalan anteng menyaksikan tokoh “aku” bergulat dengan takdirnya yang… brrr!

Wes to, saya jamin nggak bakal itu ada aksi tangan-tangan nakal pacarmu yang bikin jengkel. Semisal masih dan pacarmu nggak menyaksikan film Tenet dengan khusyuk, tendensinya ya hanya dua: pacarmu memang sedang sange atau pacarmu itu memang sudah nggak bisa mikir dengan sehat!

BACA JUGA Tempat Pacaran di Jogja yang Sungguh Nrimo Ing Pandum dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version