Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam

Di setiap sekretariat organisasi mahasiswa (ormawa)—entah itu BEM, Hima, UKM, atau organisasi ekstra seperti yang dibahas tulisan Mojok sebelumnya—selalu ada satu sosok “hantu” yang menolak pergi meski ritual pengusiran (wisuda) sudah dilakukan bertahun-tahun lalu.

Sosok itu biasanya datang saat rapat kerja (Raker) atau pelantikan pengurus baru. Dengan jaket almamater yang sudah kekecilan di bagian perut atau kemeja flanel lusuh, dia duduk di pojok ruangan, menyeruput kopi sachet milik inventaris adik tingkat, sambil mengisap rokok dengan gaya filsuf Yunani yang sedang memikirkan nasib alam semesta.

Dia adalah Senior Abadi. Atau lebih tepatnya: Alumni yang Gagal Move On.

Sebagai pengamat dinamika kampus yang sering nongkrong di warung kopi belakang rektorat, saya melihat fenomena ini lebih berbahaya daripada sekadar “keluar dari PMII dicap pengkhianat”. Kalau keluar organisasi dicap pengkhianat itu menyakitkan hati, kalau diintervensi senior pengangguran itu merusak masa depan organisasi kampus.

Mari kita bedah anatomi makhluk menyebalkan ini.

Sindrom Post-Power di ruang sempit sekretariat organisasi

Kenapa ada sarjana yang sudah lulus 3 atau 4 tahun lalu tapi masih rajin datang ke kampus, ikut campur rapat proker (program kerja), bahkan memarahi ketua umum yang baru menjabat?

Jawabannya sederhana dan menyedihkan: validasi.

Di dunia nyata (dunia kerja), si Senior ini mungkin bukan siapa-siapa. Dia mungkin pengangguran yang lamarannya ditolak puluhan perusahaan.Atau dia berakhir sebagai budak korporat level bawah yang tiap hari dimaki bosnya hanya karena salah input Excel. Di luar sana, dia kecil. Dia tidak berdaya. Egonya remuk.

Namun, begitu dia melangkahkan kaki masuk ke gerbang kampus dan menuju sekretariat organisasinya dulu, dia berubah menjadi Dewa.

Di sana, dia dipanggil “Kanda”, “Mbak”, atau “Mas” dengan nada penuh hormat (atau ketakutan), titahnya didengar, dan di sana, dia bisa membentak mahasiswa baru dengan dalih “mentalitas”.

Kampus menjadi pelarian (eskapisme) bagi mereka yang gagal menaklukkan dunia nyata. Mereka memelihara feodalisme di organisasi kampus karena hanya di situlah mereka merasa memiliki kekuasaan.

BACA JUGA: Harus Memanggil Teman Sendiri “Bang” di Organisasi, Itu Rasanya Aneh Sekali

Kalimat sakti: “dulu zaman mas nggak gini…”

Senjata utama Senior Abadi untuk mengintervensi juniornya adalah kalimat keramat: “Dek, dulu zaman Mas nggak gini…” atau “Ini melanggar tradisi organisasi kampus!”

Saya pernah menyaksikan rapat BEM yang chaos gara-gara intervensi semacam ini. Pengurus baru ingin membuat proker turnamen esports karena itu yang diminati mahasiswa zaman now. Tiba-tiba, datanglah Sang Senior, lulusan 2020, sekarang tahun 2026 masih ngurusi kampus dengan wajah merah padam.

“Apa-apaan ini?! BEM itu agent of change! BEM itu parlemen jalanan! Kok malah main game? Dulu zaman Mas, kita bakar ban di depan gedung DPRD! Kalian ini generasi lembek!” bentaknya.

Padahal, realitadnya, zaman sudah berubah. Mahasiswa sekarang lebih peduli kesehatan mental dan skill digital daripada teriak-teriak di jalanan yang isunya sering kali titipan politisi.

Tapi si Senior tidak peduli. Dia memaksakan romantisasi masa lalunya kepada junior. Dia ingin juniornya menjadi “kloningan” dirinya. Akibatnya? Organisasi mahasiswa itu jalan di tempat. Bukannya inovatif, malah jadi museum sejarah hidup si Senior.

Parasit logistik

Selain mengganggu secara ideologis, Senior Abadi ini seringkali menjadi beban logistik organisasi.

Maaf kalau saya kasar, tapi ini fakta lapangan. Mereka datang ke sekretariat dengan tangan kosong dan tanpa rasa bersalah menghabiskan kopi, gula, serta mi instan dari uang kas adik-adiknya.

Bahkan ada tipe senior yang lebih parah: meminjam uang kas organisasi.

“Pinjem dulu ya Dek Bendahara, buat bensin balik. Mas lagi ada proyek nih, ntar cair Mas ganti lebih.”

Satu bulan, dua bulan, setahun berlalu. Uang itu tidak pernah kembali. Proyeknya fiktif. Dan adik-adik junior tidak berani menagih karena sungkan dengan label “Kanda Senior”.

Ini bukan lagi pembinaan (mentoring), ini pemalakan berkedok senioritas. Mereka memanfaatkan kepolosan mahasiswa baru yang masih memandang mereka dengan tatapan kagum.

Kaderisasi atau Kaderi-sapi?

Senior jenis ini sering berdalih, “Saya datang untuk mengawal kaderisasi.” Dan itu semua tak lebih dari omong kosong.

Kaderisasi yang sehat bertujuan melahirkan pemimpin yang mampu berpikir dan bertindak sendiri, bukan sekadar mengikuti arahan. Jika sebuah organisasi tidak bisa berjalan tanpa campur tangan alumninya, berarti kaderisasinya GAGAL.

Yang dilakukan para senior gabut ini bukanlah kaderisasi, melainkan Kaderi-sapi. Mereka “memerah” energi, waktu, dan rasa hormat juniornya demi kepuasan ego mereka sendiri.

Mereka menciptakan ketakutan. Junior takut membuat keputusan sendiri karena takut salah di mata senior. Akhirnya, ketua organisasi mahasiswa yang terpilih secara sah hanyalah boneka. Dalangnya ya si alumni pengangguran yang nongkrong di warung kopi sambil main slot itu.

Lingkaran setan feodalisme dalam organisasi

Yang paling mengerikan, budaya ini menular. Junior yang hari ini mengalami penindasan dan intervensi, berpotensi melakukan hal serupa kepada adik tingkatnya di kemudian hari.

“Dulu gue diginiin sama senior gue, sekarang giliran gue yang ngajarin kalian,” pikirnya.

Ini adalah lingkaran setan feodalisme yang membuat organisasi mahasiswa di Indonesia—baik intra maupun ekstra—sulit berkembang. Kita sibuk merawat tradisi dan hormat pada senior, tapi lupa merawat relevansi dengan zaman.

Lihat saja organisasi-organisasi besar yang berafiliasi politik (seperti yang disebut di referensi awal). Konflik di dalamnya seringkali bukan karena adu gagasan antar-mahasiswa, tapi karena titipan kepentingan para alumni yang berebut pengaruh. Mahasiswanya cuma jadi pion.

BACA JUGA: 4 Pemikiran Aneh Anak Organisasi Mahasiswa Eksternal yang Pernah Saya Dengar

Solusi: Berani “Membunuh” Dewa

Lantas, apa yang harus dilakukan kalian, para mahasiswa aktif yang sedang membaca tulisan ini sambil menahan kesal pada senior kalian?

Jawabannya satu: lawan.

Ingat, kalian adalah pengurus yang sah. Kalian yang punya SK (Surat Keputusan). Kalian yang bayar UKT. Dan kalian lah yang punya hak penuh atas arah gerak organisasi kampus. Hormat kepada senior itu wajib, tapi taat buta itu bodoh. Jika ada alumni yang datang membawa nasehat yang baik, dengarkan, ambil ilmunya, lalu beri dia kopi (sebagai tamu). Tapi jika dia datang memaksakan kehendak, mengacak-acak proker, apalagi meminjam uang kas: usir.

Katakan dengan sopan tapi tegas: “Maaf Mas/Mbak, masa jabatan Anda sudah habis. Biarkan kami belajar dengan cara kami sendiri. Kalau kami salah, itu bagian dari proses kami. Mas/Mbak urus saja CV dan LinkedIn-nya biar cepat dapat kerja.”

Kalimat terakhir mungkin terdengar kejam, tapi kadang kita harus menyampaikan kebenaran secara brutal agar orang sadar.

Epilog: untuk para senior organisasi (termasuk saya)

Tulisan ini juga menjadi kritik buat diri saya sendiri dan angkatan tua lainnya. Adik-adik mahasiswa itu bukan aset kita. Mereka bukan bawahan kita. Mereka adalah generasi baru dengan tantangan baru.

Tugas kita sebagai senior/alumni cuma dua: Support (jika diminta) dan Transfer (jika ada uang lebih).

Kalau kita tidak bisa menyumbang dana, minimal jangan menyumbang masalah. Kalau kita tidak bisa memberi solusi, minimal jangan merecoki. Biarkan mereka terbang. Biarkan mereka jatuh dan bangkit sendiri.

Dan buat Mas Senior yang sekarang lagi baca ini di sekretariat sambil nungguin juniornya beliin rokok: Pulanglah, Mas. Orang tuamu menanti kabar kamu dapat kerja, bukan kabar kamu menang debat lawan maba semester satu.

Penulis: Roh Widiono
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jadilah Senior Ormawa yang Tidak Berlebihan, Kampus dan Mahasiswa Sudah Berubah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version