Kapan ya bisa bangun sekolah sendiri ~
Kemarin saya baca tulisan Mas Iqbal AR yang berjudul Pertemukan dengan duit Rp100 miliar, saya akan bangun usaha kue, laundry kiloan, dan toko buku. Saya tidak habis pikir, Rp100 miliar kan duit yang nggak sedikit ya, dan jelas duitnya sisa banyak sekali kalau cuma membangun 3 usaha tadi.
Akan tetapi, saya tidak mau berkomentar banyak. Sebab, in this economy, menyimpan duit dalam bentuk cash atau tunai memang lebih baik daripada bikin usaha yang belum tentu bakal berkembang dan cuan.
Saya jadi tertarik untuk ikut berandai-andai, kalau dapat rezeki nomplok duit Rp100 miliar, apa yang akan saya lakukan ya?
Jujur, saya sih pengin buka sekolah sendiri ya. Dengan duit Rp100 miliar saya tidak hanya bikin sekolah yang punya fasilitas komplit, tapi juga bisa memuliakan guru dan karyawan.
Berangkat dari fenomena sekolah elit, gaji guru sulit
Keinginan untuk membuka sekolah ini bukan semata karena saya punya latar belakang profesi di dunia pendidikan. Jauh dari itu, keinginan ini lahir dari rasa jengah yang menumpuk di dada. Saya jengah melihat berita-berita di media sosial soal sekolah swasta yang uang gedungnya sampai puluhan juta, SPP muridnya juga jutaan per bulan, tapi giliran bayar gaji guru? UMR pun nggak sampai.
Padahal, saya yakin pemilik yayasan paham betul bahwa tugas guru itu tidak sedikit. Apalagi, kalau sekolahnya adalah sekolah swasta elit. Mereka tidak hanya harus berjibaku memenuhi tuntutan administratif yang seolah tiada habisnya, tetapi juga harus berhadapan dengan tekanan psikologis dari orang tua murid yang merasa berhak menuntut kesempurnaan karena sudah membayar mahal.
Sebut saya menyimpan dendam kesumat pada ketidakadilan ini. Tapi, saya yakin siapa saja pasti akan setuju jika membiarkan institusi meraup keuntungan dari kantong wali murid tanpa mau menghargai keringat pendidiknya dengan upah layak adalah bentuk eksploitasi.
Bangun sekolah yang mengerti kebutuhan siswa
Balik soal impian membangun sekolah.
Kalau bicara soal jenjang sekolah yang akan dibangun, pilihan saya jatuh pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pilihan ini bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan fakta di lapangan.
Saat ini, jumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) swasta berlabel unggulan sudah menjamur. Sebaliknya, jenjang SMA belum terlalu banyak. Padahal, masa SMA ini fase paling krusial bagi masa depan anak remaja.
Di fase ini mereka sering kali kebingungan menentukan arah hidup seusai lulus. Maka dari itu, di SMA yang akan saya bangun ini, sistem pendidikannya tidak akan disamaratakan secara kaku.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di gerbang kelas sepuluh, setiap siswa akan diajak mengenali potensi dan minatnya untuk diplot ke dalam jalur yang jelas: apakah mereka mantap ingin merintis jalur wirausaha, atau fokus penuh menembus gerbang Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impian.
Nah, dengan penjurusan yang terarah sejak dini, pola pembelajarannya pun dibuat jauh lebih spesifik dan aplikatif. Anak-anak yang memilih jalur bisnis akan digembleng langsung dengan praktik kewirausahaan nyata, sementara mereka yang fokus akademik akan mendapat ekosistem belajar yang suportif untuk menaklukkan ujian masuk universitas.
Alokasi dana Rp100 miliar
Saya yakin dengan dana Rp100 miliar di tangan, mewujudkan SMA seperti apa yang saya impikan bukanlah perkara sulit.
Hitungannya begini, di tahap awal akan saya alokasikan sekitar Rp10 miliar rupiah untuk membeli lahan di kawasan pinggiran kota yang asri dan tenang. Lokasinya mungkin agak jauh dari bisingnya kendaraan, tapi tetap mudah diakses.
Selanjutnya, sekitar Rp30 miliar rupiah digelontorkan untuk pembangunan fisik bangunan sekolah yang fungsional, ramah lingkungan, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Dana ini mencakup ruang kelas ber-AC yang nyaman, laboratorium sains dan digital modern, perpustakaan representatif, lapangan olahraga terbuka, serta fasilitas penunjang bakat siswa lainnya.
Menjamin kebutuhan guru dan karyawan
Nah, sisa anggaran sebesar Rp60 miliar rupiah itu akan saya alokasikan untuk dana operasional dan cadangan kas strategis, termasuk untuk menggaji guru dan karyawan secara layak. Termasuk, dana untuk perlindungan kesehatan, tunjangan hari tua, serta subsidi khusus untuk pengembangan kompetensi para guru.
Dengan demikian, tidak akan ada lagi cerita guru harus mencari pekerjaan sampingan hingga larut malam demi menutupi kebutuhan dapur mereka. Waktunya pulang ya pulang. Istirahat di rumah supaya besok pagi bisa berangkat dengan kondisi badan fit dan hati bahagia.
Bagaimana? Mulia sekali kan rencana saya? Jadi, tolong doain supaya saya segera bisa dapat uang Rp100 miliar ya~
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
