Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg

Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels) malang

Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels)

Saya tetap tidak bisa menikmati dan terbiasa dengan sound horeg di Malang. Mungkin suatu saat nanti bisa, tapi tak kaget juga kalau tak akan pernah bisa

Sudah hampir dua tahun lamanya saya menghirup udara Kota Malang. Banyak orang membayangkan kota ini dengan udara sejuk, deretan kampus dari negeri hingga swasta, serta suasana yang nyaman untuk belajar. Saya pun datang dengan bayangan yang tidak jauh berbeda.

Ditambah lagi dengan tata letaknya yang tidak jauh dari destinasi, ingin ke gunung dekat, ingin ke pantai pun juga bisa, bahkan ingin merasakan kepadatannya kota pun bisa, semuanya serba ada dalam satu kota bernama Malang ini.

Namun, ada satu hal yang hingga hari ini belum benar-benar bisa saya biasakan. Bukan dinginnya udara yang menusuk tulang saat malam tiba. Bukan pula kemacetan yang mulai menyerupai kota-kota besar. Yang justru membuat saya terus terkejut adalah dentuman sound horeg yang mampu mengubah malam yang tenang menjadi lautan suara hingga dini hari.

Awalnya saya mengira pengalaman itu hanya bertahan paling lama 3 jam. Nyatanya, suara tersebut bisa bertahan hingga pukul 2 dini hari tergantung situasi dan kondisi, paling bentar ya pukul 12 malam.

Walaupun sudah diberikan surat edaran sebelum pelaksanaan agar bersiap-siap tetap saja sukses membuat saya terkaget-kaget hingga saat ini. Yang membuat saya semakin heran bukan hanya volumenya yang menggelegar, melainkan bagaimana masyarakat sekitar tampak tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

Sering kali muncul pertanyaan di kepala saya. Bagaimana warga asli Malang bisa bertahan dengan sound horeg?

Kekagetan yang mengerikan

Pertanyaan itu memang terdengar berlebihan. Namun, bagi seseorang yang berasal dari daerah dengan suasana malam yang relatif tenang, pengalaman ini benar-benar terasa seperti bentuk culture shock yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Melansir dari Kompas, fenomena sound horeg ternyata mulai muncul pada era 2000-an dan semakin dikenal luas sekitar tahun 2014 melalui berbagai pawai di Kabupaten Malang. Seiring berjalannya waktu, penggunaan perangkat audio dengan daya sangat besar menjadi daya tarik tersendiri dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Sayangnya, hiburan yang awalnya ditujukan untuk memeriahkan acara perlahan memunculkan perdebatan. Tingkat kebisingannya bahkan disebut dapat mencapai lebih dari 135 desibel. Angka tersebut bukan lagi sekadar suara keras. Pada tingkat tertentu, kebisingan seperti itu berpotensi memberikan dampak buruk bagi kesehatan pendengaran apabila seseorang terpapar dalam waktu tertentu.

Belakangan ini saya juga menemukan adanya sebuah situs peringatan dini yang memberikan informasi mengenai lokasi dan jadwal sound horeg. Jujur saja, saya merasa situs tersebut sangat membantu. Setidaknya saya bisa mempersiapkan diri apabila di sekitar tempat tinggal akan ada kegiatan yang menggunakan sound horeg.

Rasanya cukup unik ketika sebuah kebisingan buatan manusia sampai membutuhkan sistem peringatan layaknya peringatan bencana alam yang akan terjadi. Walaupun terdengar lucu, kenyataannya informasi tersebut benar-benar berguna bagi banyak orang yang membutuhkan waktu istirahat atau memiliki aktivitas penting keesokan harinya.

Dampak sound horeg yang saya rasakan saat tinggal di Malang

Dampak yang saya rasakan pun bukan sekadar suara yang mengganggu telinga. Ketika sound horeg melintas di dekat kos saya di Malang, dada terasa ikut bergetar. Dinding kamar seolah beresonansi mengikuti irama bass yang menghentak. Jendela bergetar tanpa henti hingga saya sempat mengira terjadi gempa kecil.

Sensasi tersebut sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah mengalaminya secara langsung. Getaran itu bukan hanya terdengar, tetapi juga benar-benar terasa oleh tubuh.

Saya memahami bahwa bagi sebagian masyarakat, sound horeg telah menjadi bagian dari tradisi dan bentuk hiburan yang memiliki nilai kebersamaan. Saya juga tidak berada pada posisi untuk menghakimi budaya yang tumbuh di daerah orang lain.

Sebagai perantau di Malang, saya percaya setiap daerah memiliki kebiasaan yang berbeda dan patut dihormati. Namun, menghormati sebuah tradisi bukan berarti menutup mata terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan bagi orang lain.

Kebisingan sound horeg dengan intensitas tinggi dapat mengganggu waktu istirahat, menurunkan kualitas tidur, memicu stres, hingga meningkatkan risiko gangguan pendengaran apabila paparan terjadi secara berulang. Efeknya memang tidak selalu langsung dirasakan.

Akan tetapi, berbagai penelitian yang saya baca dan telah dikemukakan oleh banyak pakar di bidangnya menunjukkan bahwa paparan suara dengan tingkat desibel yang sangat tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ pendengaran.

Aturan yang jadi angin segar

Beberapa waktu lalu juga terasa angin segar dari pemerintah daerah yang telah mengeluarkan surat edaran terkait pelaksanaan sound horeg. Kehadiran aturan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini memang menjadi perhatian bersama.

Meski demikian, dalam praktiknya saya masih sering menjumpai kegiatan yang berlangsung hingga larut malam dengan volume yang tetap sangat tinggi. Hal inilah yang membuat saya masih merasa cemas setiap kali mendengar kabar akan ada pawai atau kegiatan serupa di sekitar tempat tinggal.

Mungkin suatu hari nanti saya akan benar-benar terbiasa dengan fenomena ini. Mungkin juga tidak. Namun, sebagai seseorang yang datang dari luar daerah, pengalaman menghadapi sound horeg telah menjadi salah satu culture shock paling berkesan selama tinggal di Malang.

Saya belajar bahwa setiap daerah memiliki warna budayanya masing-masing. Di sisi lain, saya juga berharap selalu ada ruang untuk mencari titik temu antara menjaga tradisi dan menjaga kenyamanan bersama. Sebab, sebuah hiburan akan terasa lebih indah ketika mampu menghadirkan kegembiraan tanpa mengorbankan ketenangan orang lain.

Penulis: Alban Hogantara
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mereka yang Menemukan Cinta dan Keindahan dalam Gelegar Sound Horeg

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version