Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Dilema Pemakan Riba Berhadapan dengan 4 Tipe Customer Gadai

Indra oleh Indra
9 November 2019
A A
Dilema Pemakan Riba Berhadapan dengan 4 Tipe Customer Gadai
Share on FacebookShare on Twitter

Tiga bulan lalu, karena perusahan tempat saya berkerja mengalami kesulitan keuangan. Dengan terpaksa mereka mengeluarkan 8 dari 20 karyawan mereka. Sialnya, saya termasuk dalam 8 orang yang kurang beruntung. Setelah pulang ke Yogya saya sempet bingung mau kerja apa. Sadar usia yang sudah tidak muda dan modal ijazah cuma SMA. Kalau mau buka usaha, tabungan saya masih terlalu mepet.

Hingga akhirnya ada kawan menawari saya bekerja di pegadaian elektronik. Tidak usah tanya soal perizinan ya. Bicara legalitas di kantor saya adalah sesuatu yang tabu. Sama tabunya ketika kita bicara masalah nananina. Apa itu nanaina? Nananina ya nananina. Tidak perlu dijelaskan, namanya saja tabu.

ADVERTISEMENT

Awalnya saya ragu untuk ambil pekerjaan ini. Masalahnya di medsos sedang rame hastag #ngeRIBAnget. Banyak orang rame-rame keluar dari bank resmi untuk jualan obat-obatan herbal. Lha ini saya malah mau kerja di pegadaian hayal nggak jelas.

Walaupun pada dasarnya saya beda keyakinan dengan pengikut gerakan #ngeRIBAnget, tapi nurani saya terus berontak menuntut penjelasan. Masalahnya, bukan halal atau haram rezeki yang akan terima. Tetapi apa bisa dibenarkan, jika saya memanfaatkan kesusahan orang orang lain demi keuntungan diri saya sendiri? Sekeras apa pun saya berpikir, saya tetap tak mampu membenarkannya.

Karena sudah mentok, akhirnya saya terima juga tawaran itu. Alasannya cuma satu, yaitu kepepet. Kalau sudah kepepet semua bisa dimaklumi. Lagipula saya kan tidak melanggar UU yang berlaku di Indonesia.

Dilema riba itukan hanya masalah pertimbangan moral dan hati nurani. Kalau sudah kepepet apa iya perlu ndakik-ndakik ngomongin moral dan hati nurani? Pejabat yang nggak kepepet aja tega nyolong, kok. Mosok iya, masyarakat misquen seperti saya harus pusing soal moral dan nurani gara-gara #ngeRIBAnget?

Customer saya kepepet butuh duit, kebetulan bos saya punya duit, saya yang melayani mereka berdua. Salahnya di mana? Inikan cuma sekadar simbiosis mutualisme. Wajarlah jika bos saya mengambil margin 10% dari uang yang dipinjamkan. Bagaimanapun juga dia punya keluarga yang harus dihidupi, dan juga punya karyawan yang butuh hidup. Lagipula margin 10% itu tergolong kecil bagi seorang pengusaha. Bisnis makanan marginnya bisa lebih 100%, tapi nggak ada tuch yang nyinyir.

Setelah 3 bulan, ternyata saya belajar banyak hal. Yang paling menarik adalah mempelajari perilaku dan sifat para customer. Dalam dunia gadai, perilaku dan sifat customer bisa menentukan nilai tafsir barang yang mereka bawa. Penilaian tafsir harga berdasar perilaku dan sifat ini penting bagi saya untuk tetap mengasah nurani, biar nggak makin pragmatis. Kalau sudah berhadapan dengan uang, manusia bisa menjadi serigala bagi sesama. Sejauh ini saya bisa mengelompokan orang-orang yang datang ke tempat gadai menjadi 4 tipe.

Baca Juga:

Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit

Satu: Orang Tua Kepepet

Tipe pertama ini jumlahnya paling sedikit. Mungkin cuma sekitar 15% lah. Mereka ini benar-benar orang yang sedang butuh. Mayoritas yang datang ibu-ibu. Alasannya rata-rata untuk keperluan sekolah anak. Ada yang kesulitan karena anaknya banyak, tapi ada juga karena mereka belum punya pekerjaan tetap.

Sebagian besar, menikah muda dan belum siap menjadi orang tua. Barang yang dibawa biasanya barang-barang jadul. Menghadapi mereka terkadang bikin pusing karena buta teknologi dan nggak ngerti harga pasar. Sering banget terjebak pada debat kusir, karena mereka ngotot pakai patokan harga beli dulu. Padahal belinya sudah lebih dari 5 tahun lalu.

Untuk alasan kemanusiaan saya berani memberi tafsir yang tinggi. Saya sendiri pernah melihat pusingnya orang tua saya cari uang buat sekolah saya. Customer tipe pertama ini cenderung menghargai barang dan tertib. Jarang barangnya yang akhirnya lepas. Kalaupun lepas sebisa mungkin akan mereka beli kembali.

Dua: Pekerja Sosialita

Tipe kedua ini jumlahnya sedikit lebih banyak dari tipe pertama, yakni sekitar 20%. Usia rata-rata mereka 25-35 tahun, dan didominasi orang-orang newbie di dunia kerja. Pada dasarnya gaji mereka masih mepet tapi gaya hidup nggak realistis. Akhirnya ya gadai.

Barang-barang yang digadai biasanya tipe terbaru. Mereka ini sangat mengikuti tren meski kemampuan tidak memadai. Kadang-kadang bikin jengkel karena omongannya yang kedhuwuren. Kalau model-model begini tingkahnya agak sombong dan omongane sengak maklumi aja.

Tapi jangan pernah kasih tafsir harga tinggi. Meski barangnya bagus, perlu juga waspada, bisa jadi barangnya masih kredit. Tipe ini sama sekali tidak menghargai barang, karena sering nggak ditebus. Kalau telat bayar, demi menyelamatkan gengsi dan harga diri mereka akan memberi alasan ra mutu.

“Maaf Mas, nggak sempet ke sini kemarin, soalnya aku baru liburan ke Bangkok. IPhone-nya masih bisa aku perpanjang kan? Didenda berapa pun nggak masalah.”

“Maaf Mbak, IPhone-nya sudah dikirim ke management untuk dilelang.”

Setelah itu dengarkan mereka ngomel sambil tersenyum manis. Pada akhirnya mereka akan capek dan pulang.

Tiga: Mahasiswa Kepepet

Mahasiswa memang segmen pasar utama kami. Sehingga jumlahnya cukup banyak. Enam puluh lima persen customer kami adalah mahasiswa. Dan separonya masuk dalam mahasiswa kepepet. Kelompok ini sama dengan orang tua kepepet. Mereka sama-sama orang yang membutuhkan. Mereka datang ke tempat gadai karena kiriman telat, atau ada keperluan kuiah yang mendadak. Barang-barang yang dibawa lebih variatif.

Berhadapan dengan mereka juga lebih mudah karena sebagai orang muda mereka lebih mengerti soal teknologi dan tahu harga pasar. Mereka juga selalu menunjukkan etiket baik. Beberapa yang nilai gadainya tinggi, berinisiatif untuk mencicil hutang mereka. Bahkan ada juga yang kuliah sambil kerja. Makanya ketika berhadapan dengan mereka saya tak ragu memberi tafsir tinggi.

Empat: Mahasiswa Sosialita

Populasi customer tipe terakhir ini selalu bersaing ketat dengan tipe ketiga. Sesuai namanya mereka setipe dengan pekerja sosialita. Bedanya mereka nggak sombong dan lebih realistis. Ibaratnya mereka ini anjing kecil yang baru lepas dari rantainya. Kalau anjing kecil baru aja lepas, pasti dia lari kesana-kemari sambil jingkrak-jingkrak.

Nah, orang muda yang hormonnya memuncak trus hidup merantau tingkahnya kurang lebih sama. Rasa ingin tahu kelewat tinggi semua hal baru dicoba. Akhirnya nggak kerasa uang kuliah kepake. Solusinya ya, datang ke tempat gadai. Mengatasi masalah dengan masalah. Jika akhirnya orang tua mereka yang datang sambil marah, ngomel, atau bahkan nangis dan curhat, nikmati saja sebagai hiburan gratis. Anyway, saya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan kelompok terakhir ini, karena mereka pasar potensial untuk bisnis sampingan saya: jualan amer.

BACA JUGA Udah Kerja Keras Bagai Kuda, Kok Tabungan Nggak Nambah-Nambah? atau tulisan Indra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2019 oleh

Tags: pegadaianpekerjaanriba
Indra

Indra

ArtikelTerkait

kredit

Jual Beli Kredit Bukan Berarti Riba Lalu Haram

29 Juni 2019
Keresahan Radiografer yang Istilahnya Nggak Ada di KBBI dan Suka Dikatain Mandul radiographer ahli radiografi radiologi terminal mojok.co

Keresahan Radiografer yang Suka Dikatain Mandul dan Profesinya Nggak Ada di KBBI

13 September 2020
5 Pekerjaan yang Menghasilkan Banyak Cuan dalam Hitungan Jam selain Tukang Parkir dan Pak Ogah

5 Pekerjaan yang Menghasilkan Banyak Cuan dalam Hitungan Jam selain Tukang Parkir dan Pak Ogah

21 Agustus 2024
hobi resign dari tempat kerja alasan ragu cara memutuskan menyesal mojok.co

Yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Kebelet Resign Sebelum Dapat Kerjaan

26 Agustus 2021
bos marah cara mengatasi bos marah mojok

3 Hal yang Sebaiknya Anda Lakuin Saat Diomelin Bos

14 Oktober 2020
asn

Aparatur Sipil Negara (ASN) Bukan Profesi yang Cocok Untuk Orang Nyinyir

15 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.