Ada sebuah mitos urban yang lebih awet daripada pengawet mie instan di kepala banyak orang tua dan praktisi HRD di Indonesia, bahwa Diploma 4 (D4) hanyalah D3 yang “dipaksa” sekolah setahun lagi.
Banyak yang mengira lulusan D4 itu statusnya nanggung. Mau disebut Diploma, tapi kok gelarnya Sarjana Terapan (S.Tr). Mau disebut S1, tapi kok jalurnya vokasi. Dilema ini bukan sekadar urusan gengsi di undangan pernikahan atau perdebatan di grup WhatsApp keluarga, melainkan masalah “hidup dan mati” di portal lowongan kerja yang sistemnya sering kali lebih kaku dari kanebo kering.
Secara administratif, pemerintah sebenarnya sudah kasih garis tegas lewat Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Derajat D4 dan S1 satu level, yaitu level 6. Sama-sama nempuh 144 SKS, sama-sama ngerjain tugas akhir yang bikin tipes, dan sama-sama punya hak buat lanjut S2.
Bedanya cuma di orientasi. Kalau anak S1 banyak bergulat dengan pertanyaan “Why” demi mendalami teori, sedangkan anak D4 sudah khatam dengan “How”. Kami ini pasukan siap tempur yang dibekali 60% praktik. Kami tahu cara megang alat, tahu cara simulasi industri, dan magang kami itu nggak cuma sebulan-dua bulan buat bikin kopi di kantor orang, tapi sering kali satu semester penuh buat beneran kerja. Tapi ya gitu, realitas di lapangan sering kali lebih pahit dari kopi tanpa gula di tanggal tua.
BACA JUGA: 5 Program Studi D4 UGM yang Paling Favorit
Kacamata kuda di meja HRD
Masalah paling besar muncul saat kita berhadapan dengan meja HRD. Masih banyak sistem rekrutmen perusahaan besar yang pakai “kacamata kuda”. Mereka pakai sistem Applicant Tracking System (ATS) yang secara otomatis bakal auto-reject berkas kita cuma karena kode pendidikannya bukan S1.
Bagi sebagian HRD tradisional, ada asumsi malas kalau lulusan S1 itu lebih jago analisis, sementara lulusan D4 cuma cocok jadi teknisi senior atau mandor lapangan. Ini diskriminasi nyata. Padahal, secara fungsional, lulusan vokasi justru lebih hemat biaya pelatihan (training cost). Kami nggak perlu diajarin dari nol cara megang meteran atau baca blueprint, kami sudah melakukannya sejak semester satu!
Menolak lulusan D4 dalam lowongan yang butuh skill teknis itu kerugian logis. Itu kayak nolak smartphone canggih cuma karena tampilannya nggak mirip telepon kabel jaman dulu.
Gengsi orang tua dan lingkaran setan D4
Dilema ini makin parah karena doktrin di meja makan. Bagi mayoritas orang tua di Indonesia, istilah “Sarjana” itu sakral. “Kuliah itu ya S1.” Begitu titahnya. Gelar Bachelor dianggap tiket emas, sementara label “Diploma” dianggap membatasi karier.
Ketidaktahuan kolektif ini bikin lingkaran setan. Pemerintah teriak-teriak “Vokasi Kuat, Menguatkan Indonesia”, tapi pintunya masih dikunci rapat sama stigma lama. Apa gunanya mencetak ribuan tenaga ahli kalau “pagar” industri masih pakai sistem filtrasi purba? Kalau begini terus, jangan salahin kalau calon mahasiswa tetap berbondong-bondong masuk prodi akademik yang sudah jenuh, hanya demi label “S1” yang dianggap lebih aman di pasar kerja.
Sudah saatnya kita kalibrasi ulang. Menyamakan D4 dan S1 bukan bentuk belas kasihan, tapi keadilan yang logis. Di dunia kerja modern, sekat antara “pemikir” dan “pelaksana” itu sudah makin kabur. Kita butuh pelaksana yang bisa berpikir strategis, dan kita butuh pemikir yang tahu cara eksekusi ide.
Lulusan D4 adalah jawaban atas kebutuhan itu. Pada akhirnya, mesin nggak peduli apakah operatornya punya kode ijazah S1 atau D4. Laporan keuangan nggak bakal jadi benar cuma karena diaudit lulusan universitas ternama. Yang dicari adalah problem solver.
Berhentilah menganggap D4 sebagai sarjana tanggung atau sarjana jadi-jadian. Kami bukan warga kelas dua. Kami adalah spesialis yang ingin menguasai profesi secara presisi. Mari akhiri diskriminasi ini, sebelum potensi besar bangsa ini cuma berakhir jadi tumpukan berkas yang ditolak oleh sistem otomatis.
Penulis: Ferdy Ahmad Inshoofa
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Perbedaan Kuliah Jenjang D4 dan S1 yang Perlu Dipahami biar Nggak Salah Pilih
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















