Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Kalau sedang main atau sekadar lewat ke daerah yang kanan-kirinya dipenuhi bangunan pabrik raksasa, pasti pikiran pertama yang langsung terlintas di otak kita adalah, “Kok bisa ya orang-orang betah tinggal di lingkungan seperti ini?”. Nah, fenomena batin inilah yang pasti kamu rasakan saat melintasi Kawasan Industri Jaten di Karanganyar.

Ya bagaimana tidak, belum juga roda kendaraan kita benar-benar melewati gerbang kawasannya, kita sudah langsung disambut oleh pemandangan truk-truk kontainer segede gaban. Kendaraan raksasa itu berjalan lambat merayap, tapi sukses bikin jantungan setengah mati kalau posisi kita sedang berkendara tepat di sebelahnya.

Stereotip orang luar tentang sebuah kawasan industri memang sudah mentok di situ-situ saja. Tidak jauh dari bayangan tentang polusi abu-abu yang pekat, jalanan hancur lebur yang dipenuhi lubang menganga, serta suara bising mesin yang siap bikin telinga budeg.

Jujur saja, semua omongan miring mereka itu tidak salah-salah amat. Di Jaten Karanganyar, keadaannya juga begitu.

Siap mental

Realitasnya di lapangan memang seserem itu kalau kita sedang apes. Memutuskan tinggal di sekitar Jaten Karanganyar berarti harus siap mental dan membuat kuping menjadi super kebal. Setiap hari, menu sarapan wajib warga adalah deru konstan mesin pabrik yang bergetar hebat dan suara klakson telolet truk muatan yang bunyinya nyaring memekakkan telinga.

Belum lagi kalau jam digital sudah memasuki waktu-waktu krusial, yaitu pas buruh pabrik sedang jam istirahat siang atau saat bubaran kerja sore hari. Wah, itu jalanan langsung mendadak berubah jadi lautan manusia dan kendaraan yang macet total.

Urusan infrastruktur jalan yang rusak juga sudah menjadi makanan sehari-hari yang menjengkelkan. Baru seminggu aspalnya diperbaiki hingga mulus, besoknya sudah bolong-bolong lagi gara-gara dilewati kendaraan dengan muatan puluhan ton setiap jam tanpa henti. Kalau musim hujan tiba, jalanan otomatis berubah menjadi kubangan lumpur cokelat yang licin dan berbahaya.

Sebaliknya, kalau musim panas datang, debu jalanan yang beterbangan sudah kayak membuat kita mendapat bedak gratisan di muka. Intinya, kalau kamu mencari ketenangan hidup yang estetik dan damai seperti yang sering lewat di FYP medsos, ya jelas tidak bakal nemu di Jaten Karanganyar.

Tapi, apa iya roda kehidupan di tengah kepulan asap ini isinya cuma penderitaan dan air mata doang? Ya tentu tidak, lah.

BACA JUGA: 3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Tinggal di Karanganyar

Jaten Karanganyar memang “seseksi” itu

Kalau memang situasinya seburuk itu, pasti daerah permukiman di sekitar pabrik sudah kosong melompong ditinggal pergi oleh warganya sejak lama. Kenapa sampai sekarang justru makin ramai dan padat? Jawabannya jelas, karena ada perputaran duit yang luar biasa kencang di sini.

Sisi positif yang paling berasa tentu saja urusan perut alias ketersediaan lapangan kerja yang melimpah. Di saat orang-orang di luar sana pusing tujuh keliling mencari kerjaan sampai stres, warga di sekitar kawasan industri Jaten Karanganyar seenggaknya punya peluang jauh lebih gede buat keterima kerja di pabrik-pabrik besar tersebut. Mereka tidak perlu merantau jauh-jauh ke ibu kota dengan modal nekat. Peluang mengubah nasib sudah tersedia tepat di samping rumah sendiri.

Efek domino ekonomi ini juga berjalan sangat gede buat warga lokal yang memilih tidak bekerja di dalam pabrik. Karena jumlah pekerjanya ada ribuan, otomatis mereka butuh makan, butuh tempat tinggal, hingga butuh jasa laundry pakaian. Akhirnya, warga sekitar memutar otak dengan membangun kos-kosan, membuka warung makan, sampai jualan pulsa dan kebutuhan harian.

Ekonomi mikro di desa-desa sekitar pabrik di Jaten itu hidup banget. Bahkan bisa dibilang jauh lebih makmur dan mandiri dibanding daerah lain yang sepi. Pihak manajemen pabrik juga biasanya rutin menggelar tanggung jawab sosial berupa dana bantuan atau CSR buat desa. Entah untuk perbaikan fasilitas umum atau mendanai acara-acara warga setempat. Pemasukan kas desa jadi ikutan sehat walafiat, kan?

Kawasan industri tidak selalu buruk

Jadi kesimpulannya, hidup di tengah kepungan kawasan industri seperti di Jaten Karanganyar itu tidak selamanya zonk atau membawa apes bagi masyarakat. Memang sih, ada harga mahal yang harus dibayar lewat polusi udara yang pekat serta jalanan yang hancur lebur. Masalah lingkungan ini tetep menjadi PR besar yang harus terus dituntut ke pemerintah daerah. Juga pada pihak perusahaan biar segera dibenahi demi kesehatan bersama.

Tapi di balik semua pekatnya udara itu, dari tanah yang bising dan penuh debu inilah dapur milik ribuan kepala keluarga bisa tetep ngebul setiap hari. Ini cuma soal cara kita menggeser sudut pandang saja; mau terus-terusan fokus ke polusinya, atau mau mulai bersyukur sama efek perputaran ekonominya yang nyata dirasakan masyarakat.

Penulis: Vira Karila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Karanganyar, Kota Satelit Penuh Potensi yang Sayangnya Terlalu Bergantung pada Solo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version