Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Di Jogja, Cintamu Bisa Kandas karena Rekayasa Lalu Lintas

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
17 September 2024
A A
3 Daerah Tidak Ramah Perantau di Jogja yang Perlu Dihindari

3 Daerah Tidak Ramah Perantau di Jogja yang Perlu Dihindari (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya menulis artikel ini setelah menyumpahi belasan kilometer jalanan Jogja. Mengutuk betapa semrawutnya kota ini. Entah saat musim liburan atau hari biasa, sama saja ruwetnya. Saya tidak terbayang jika Jogja nanti akan punya tol. Bahkan sebelum jalan tol selesai, rekayasa lalu lintas sudah dicanangkan.

Percayalah, Jogja (baca: Daerah Istimewa Yogyakarta) akan dan selalu semrawut, karena Jogja sudah salah urus sejak dalam pikiran. Jalan tol yang jadi “mimpi” banyak orang Jogja bisa berakhir keruwetan tanpa solusi.

ADVERTISEMENT

Jangan pikir ini perkara sepele. Kisah cinta dan kariermu sedang terancam oleh keruwetan baru Jogja. Pertanyaannya, apakah Pemprov siap dengan potensi kemacetan yang membuat semua jalan jadi semacet Gejayan?

Jogja, si paling rekayasa lalu lintas

Bicara rekayasa lalu lintas, Jogja adalah jagonya. Jangankan karena pembangunan tol, nikahan bangsawan saja bisa membuat rekayasa lalu lintas. Hampir setiap ada kegiatan skala besar, tiba-tiba jalan Kota Istimewa menjadi labirin.

Jangankan mengubah arah atau membuat contraflow. Membongkar pembatas jalan Ringroad yang jelas tidak masuk akal saja bisa kepikiran. Jadi jangan meremehkan kemampuan (baca:kenekatan) kota ini perkara rekayasa lalu lintas. Mungkin Jogja bisa jadi pusat studi banding rekayasa lalu lintas untuk berbagai negara.

Tapi yang jadi masalah bukan kemampuan merekayasa lalu lintas semutakhir mungkin, karena masalah Jogja bukan perkara atur ulang alur lalu lintas. Jogja sudah punya masalah menahun, bahkan puluhan tahun. Sialnya, masalah ini seperti kanker yang terus menggerogoti kenyamanan dan keamanan jalanan.

Salah tata kota sejak penjajahan Belanda

Kata orang, setiap sudut Jogja itu romantis. Tapi tidak ada yang bilang kalau setiap sudutnya itu rapi dan tertata. Inilah realitas Jogja yang kini tersibak dari tabir keindahannya. Tata kota ini memang sudah semrawut, bahkan sejak Kasultanan Yogyakarta masih digdaya.

Jalanan Jogja memang tidak direncanakan untuk kepadatan seperti Jakarta. Tidak pula siap menanggung tumpahan kendaraan seperti Surabaya. Silahkan lihat jalan utama di dalam kota saja. Rata-rata lebarnya tidak lebih dari 10 meter. Jalan Jogja juga penuh persimpangan. Menunjukkan kota ini memang ditata sebagai kota lengang yang lambat.

Baca Juga:

Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

Ketika jalan Jogja dihajar muatan kendaraan, tidak ada cukup ruang untuk mengurai. Ketika rekayasa lalu lintas karena efek pembangunan tol dilakukan, bisa dibayangkan kepadatan di titik-titik contraflow. Jangankan untuk contraflow, untuk arus normal saja sudah kewalahan.

Rekayasa yang membuatmu tua di jalan

Ketika wacana rekayasa lalu lintas ini terlaksana, maka bisa dibayangkan bagaimana kepadatan menjadi rutinitas. Misal wacana rekayasa untuk pembangunan pintu tol area Prambanan. Meskipun contraflow diwacanakan di wilayah Klaten, dampaknya jelas sampai ke area Jogja. Wacana rekayasa di area Ringroad juga akan membawa dampak yang sama: semrawut.

Kemacetan di area tepi ini pasti akan berdampak di area pusat. Apalagi ketika musim libur datang seperti Nataru. Jangankan bicara distribusi barang, kisah cintamu saja bisa terancam. Kepadatan akibat tata kota ini bisa menambah kisah ambyar banyak nom-noman Jogja. Bayangkan kamu mau ngapel pasangan, tapi terjebak macet. Datang-datang doi malah lamaran.

Kariermu bahkan bisa terancam. Bayangkan gajimu rutin terpotong karena harus terjebak macet setiap hari. Mau berangkat lebih pagi juga percuma, lha wong masalahnya adalah jalanan yang tidak mampu menampung pergerakan manusia. Apa rela harus kena SP dari perusahaan karena terjebak kemacetan yang tak pernah terjawab?

Kepadatan selama ini saja sudah sering memakan korban nyawa. Akibat upaya ugal-ugalan melawan kemacetan. Apalagi ketika bicara wisatawan yang belum paham area Jogja. Sudah pasti rekayasa ini akan menambah potensi kecelakaan.

Dampak rekayasa yang tidak dibarengi dengan penataan ulang Jogja memang berdampak di berbagai lini. Sialnya, urusan ini tetap tidak diperhatikan. Bahkan tidak jadi isu yang diangkat saat musim pilkada tahun ini. Yang ada malah terus menerus menggenjot pariwisata yang sebenarnya jadi (sumber) masalah utama kota ini.

Apa rela Jogja terus menerus semrawut?

Kita sedang menyongsong Jogja yang lebih padat dari sebelumnya. Rekayasa jalan tidak lagi bisa menjawab pergerakan para penghuni dan wisatawan. Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan pemerintah Jogja?

Apa mau memberi imbauan macam “warga di rumah saja”? Jelas tidak mungkin. Lha keruwetan ini akan jadi keseharian. Rekayasa lalu lintas sudah berkali-kali terbukti gagal mengurai semrawutnya jalanan. Ingin ubah tata kota? Mungkin melebarkan jalan utama? Atau menambah cakupan dan kesadaran transportasi umum? Saya sih merasa sudah terlambat. Tapi mungkin tinggal ini satu-satunya solusi.

Sampai keputusan masuk akal menjadi realitas, saya dan Anda harus siap menyongsong keruwetan baru. Karena Jogja sudah begah dengan kepadatan jalan yang tak pernah diselesaikan. Jadi, mari berangkat kerja lebih pagi, lapangkan hati lebih luas lagi, karena sebentar lagi, kesabaran kita akan makin teruji.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kalian Masih Membela Upah Murah Jogja ketika Defisit Gaji Jadi Realitas? Mending Kita Gelut!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2024 oleh

Tags: Jogjakemacetan jogjarekayasa lalu lintas
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Jogja Darurat Sampah, Monumen Ketidakbecusan Pemerintah (Unsplash) sampah di jogja

Retribusi Sampah Jogja: Solusi Jangka Pendek yang Bagus, Tinggal Menunggu Solusi Jangka Panjangnya

30 Oktober 2024
Alasan ATM 20 Ribu di Jogja Tidak Boleh Lenyap Mojok.co

Alasan ATM 20 Ribu di Jogja Tidak Boleh Lenyap

14 Februari 2025
friends biaya hidup mahasiswa jogja Tempat Nongkrong Hits dan Legendaris di Jogja yang Pernah Jaya Pada Masanya

Berapa sih Biaya Hidup Mahasiswa di Jogja?

1 Juli 2020
4 Kelebihan Kuliah di Samarinda yang Bikin Kuliah di Jogja Jadi Kelihatan Biasa Saja

4 Kelebihan Kuliah di Samarinda yang Bikin Kuliah di Jogja Jadi Kelihatan Biasa Saja

31 Agustus 2024
Percayalah, Pergi Jauh Tanpa Izin Orang Tua Adalah Ide yang Sangat Buruk

Naik Bus Trans Kota Mengajarkan Kita tentang Kesabaran

6 Maret 2020
Balai Yasa, Tempat Terbaik di Jogja untuk Buka Puasa

Balai Yasa, Tempat Terbaik di Jogja untuk Buka Puasa

24 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.