Mencari lowongan freelance di LinkedIn, grup Facebook, Threads, bahkan Upwork sekarang itu mirip main ranjau darat di gim Minesweeper. Salah klik sedikit, bukan cuan yang didapat, malah saldo ATM yang meledak. Semua harus ekstra hati-hati dan penuh kecurigaan. Bukannya saya mengimbau untuk jadi pribadi yang suudzon, tapi daripada menyesal di belakang, lebih baik jadi pribadi yang sedikit skeptis.
Sejak saya banting karier dari kantoran menjadi freelance, tepatnya virtual assistant, sudah tidak terhitung berapa lowongan palsu yang hampir menjebak saya. Tapi, lama-kelamaan, sebagai freelance newbie yang selalu hampir tertipu, saya jadi punya seni mendeteksi lowongan palsu yang mungkin bisa menyelamatkan orang-orang polos lainnya.
Setidaknya, ada lima ciri bahwa lowongan tersebut penuh tanda bahaya yang bisa kalian deteksi dari awal.
Calon klien minta pindah ke Telegram, markas besar para anonim
Telegram itu aplikasi bagus, tapi di tangan penipu, fungsinya berubah jadi safe house. Kalau ada klien yang mengajak pindah ke Telegram dengan alasan “biar lebih enak koordinasinya” atau “lewat email itu repot”, harap waspada. Itu kode keras. Jelas bakal enak di dia, tetapi bonyok di kita para pelaku freelance. Karena di sana, mereka bisa menghapus pesan untuk semua orang tanpa jejak, lalu menghilang seperti temanmu yang belum bayar utang.
Gaji sultan untuk kerja yang remeh-temeh
Kalau ada penawaran untuk freelance dengan gaji yang terlalu indah untuk dilupakan, skeptislah. Masa iya di zaman ekonomi seperti ini ada yang menawarkan gaji USD1,000 atau setara 16 juta rupiah sebulan cuma buat tugas convert Word ke PDF atau “like-like” video? Logika saya langsung meronta. Kalau kerjaan semudah itu dibayar semahal itu, pengangguran di negeri ini sudah punah sejak lama.
Janji surga ini biasanya sepaket dengan kalimat “kerja santai bisa sambil rebahan”. Padahal, freelance beneran itu rebahan saja jarang. Yang ada punggung encok demi mengejar deadline akibat kelamaan duduk. Fenomena tawaran gaji too good to be true ini tidak hanya berasal dari klien luar yang profil Facebook-nya tidak jelas. Bisa juga dari orang lokal yang tiba-tiba mengontak kamu dengan foto profil wanita cantik profesional yang menawarkan pekerjaan admin perusahaan ternama.
Kalau memang itu perusahaan ternama, pastikan lowongannya ada di situs web resmi atau akun media sosial mereka, bukan dari orang asing yang hanya bermodal foto profil meyakinkan.
Employer freelance alergi kamera dan kontrak
Klien asli itu biasanya juga penuh kecurigaan karena mereka takut ditipu freelancer, apalagi kerjanya jauh dan tidak bisa terpantau. Umumnya, mereka mau diajak discovery call, entah lewat Zoom atau Google Meet, buat memastikan kita ini benar-benar ada atau untuk mengecek vibes dari komunikasi singkat paling hanya 15-20 menit.
Tapi kalau penipu, mereka tentu punya banyak alasan menghindari ajakan discovery call. Kalaupun tipenya klien yang super introvert, maka mereka akan konfirmasi untuk menghubungi kita via email perihal trial test (tergantung tipe kerjaan) tapi tetap bersedia membayar. Bukan mendadak jadi orang paling sibuk sedunia atau beralasan kameranya lagi pindah alam.
Kalau sudah seperti ini, sodorkan saja mereka kontrak kerja. Mau itu klien beneran atau penipu, kontrak adalah hal penting bagi freelancer. Jika mereka tidak mau tandatangan kontrak, yuk, mundur perlahan.
Jebakan “sistem pembayaran” phishing berkedok profesional
Modus phishing yang menyerang freelancer ini rapi dan dibungkus bahasa profesional. Kita dikasih tautan “sistem” buat menarik gaji, bahkan diperlihatkan dashboard penghasilan kita. Padahal itu cuma situs web abal-abal buat phishing. Kita diminta mengisi data pribadi sampai detail rekening dengan dalih sinkronisasi pembayaran. Bukannya gaji yang sinkron masuk ke dompet, malah saldo kita yang sinkron berpindah ke rekening entah siapa.
Kawan saya sudah ada yang terjebak mengisi, baru dia menyesal belakangan karena benar-benar data rekening juga diisi lalu berujung bingung bagaimana membatalkannya.
BACA JUGA: Freelance Memang Menggiurkan, tapi Tidak Semua Orang Cocok Menjalaninya
Puncak komedi: admin fee freelance yang bagong
Ini adalah poin paling bagong dari semuanya: disuruh bayar atau top-up admin fee hingga biaya deposit untuk mulai kerja. Hati-hati, lowongan legit tidak akan pernah meminta pekerjanya untuk membayar sepeser pun, kecuali kebetulan kamu ada utang ke employer di masa lalu yang belum lunas. Kita ini cari kerja karena butuh uang, tolong jangan mau kalau disuruh setor uang.
Bahkan ketika mereka benar-benar membayar setelah kamu setor admin fee yang masih terbilang kecil, lama-kelamaan nilai top-up depositnya bisa sampai jutaan, dan di titik itulah kamu akan di-ghosting. Kalau sudah begitu, namanya bukan lowongan kerja, itu namanya sedekah paksa kepada sindikat penipu.
Menjadi freelancer, entah klien luar atau lokal, sama-sama punya peluang yang menjanjikan. Tapi jangan sampai logika kita terlalu lugu karena silau melihat tawaran yang tidak masuk akal. Lebih baik rempong di awal demi kejelasan dan keabsahan lowongan dengan banyak tanya atau menjadi detektif dadakan yang menelusuri semua informasi si employer, daripada sekalinya kita terhanyut tapi ternyata cuma jadi korban admin fee yang bagong itu.
Kalau sudah terjebak, nilainya tidak kecil, ada yang sampai belasan juta bahkan ada yang setara harga dua motor PCX. Skeptis di awal itu tidak merugikan. Karena jika kita cermat, semua modus lowongan penipu itu punya template yang bisa kita bongkar dari awal. Semangat ya, para pekerja lepas!
Penulis: Pratita Saraswati
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Sisi Gelap Kerja Freelance dari Situs Penyedia Pekerjaan Lepas
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
