Saya memegang prinsip yang mungkin dianggap goblok dan kontroversial: seseorang boleh congkak dan sombong jika memang dia amat berprestasi dan suksesnya nggak ngotak. Maka dari itu, saya tak pernah punya masalah dengan arogansi yang ditunjukkan Cristiano Ronaldo.
Cristiano punya semua yang orang bisa impikan. Kekayaan, prestasi, karier yang amat moncer, nama yang begitu besar, semua yang pernah ada di anganmu pada tengah malam ada pada dirinya. Misalnya dia memilih untuk mendongak, saya rasa, tak ada masalah dengan itu.
Mungkin ini kontradiktif dengan postingan saya yang benci betul dengan para influencer atau pejabat yang flaunting their wealth excessively. Sebab ya, berbeda. Influencer dan pejabat tidak seharusnya melakukan itu, karena uang yang didapat belum tentu bersih, serta mereka punya beban moral untuk tidak melakukan itu.
Tapi Cristiano, beda. Mungkin dia pengecualian. Atau mungkin karena bias zero to hero yang bikin saya menaruh respek kelewat besar padanya.
Cristiano Ronaldo, epitome of hard work
Kita tahu betul, kerja keras tidak pernah jadi garansi utama kesejahteraan. Misal, Bapak saya bekerja kelewat keras, tapi kesejahteraan masih jauh dari kata layak. Melihatnya, saya bisa paham kenapa kekayaan, atau kemakmuran, tak pernah bisa diraih semata lewat kerja keras.
Di sisi lain, kerja keras yang saya lakukan bisa membuat saya ada di titik yang lebih baik dari yang pernah saya bayangkan. Dan pada titik tertentu, sebenarnya Bapak saya juga berhasil. Sebab, kerja kerasnya membuat anak-anaknya setidaknya pernah mengenyam pendidikan tinggi.
Tapi Cristiano Ronaldo membuat kerja keras seakan-akan menjadi garansi kesuksesan. Dia adalah contoh terbaik bahwa usaha yang maksimal akan menghasilkan sesuatu yang di luar akal. Dia mengaburkan realitas bahwa itu semua tak pernah cukup. Ronaldo bikin kita merasa usaha keras kita hanyalah sepele, dan membakar sesuatu dalam diri kita, untuk memaksa kita menantang batas yang kita tetapkan.
Memang itu yang Cristiano lakukan. Dia memaksa dirinya menembus batas, menciptakan kondisi kompetitif pada dirinya tiap hari, dan mengabaikan kenyamanan yang meski dia bisa nikmati pun, dia memilih untuk tetap menantangnya.
Apa pun yang dia lakukan, sanggup bikin kita merasa bersalah dan mempertanyakan definisi kerja keras yang kita punya. Brengsek betul memang manusia itu. Dia sudah punya segalanya, tapi tetap mengusahakan hal-hal yang di luar akal.
Megalomania
Mungkin yang bikin Cristiano Ronaldo berbuat seperti itu semata karena ingin menjadi yang terbaik. Untuk manusia yang terobsesi pada sesuatu, sikap dan norma kadang disingkirkan. Itulah kenapa dia arogan, itulah kenapa dia terkesan megalomaniak, menuntut hal-hal yang mungkin tak masuk di akal.
Tapi ketika hal itu tepat ada di depan mata, apakah seseorang bisa tidak gelap mata? Saya sih, tidak yakin.
Jika kamu hanya butuh 15 gol menuju 1000 gol, apakah kamu akan menganggap biasa satu tendangan yang melenceng? Apa bisa kamu tenang saja melihat umpan kawanmu yang macam tai? Apa kamu bisa biasa saja melihat kawan-kawanmu tidak berjuang sekeras dirimu?
Kita bisa saja bilang, bisa kok. Tidak semua harus sukses, tidak semua tujuan harus tercapai. Ya bisa, orang nggak ada di posisi itu kok. Nggak pernah, malah.
Maka dari itu, saya tidak ingin serampangan menaruh predikat arogan atau megalomaniak pada Cristiano Ronaldo. Sulit, sebab jika saya ada di posisi tersebut, berpikir jernih kadang jadi kemewahan. Sebab, hal yang diimpikan, tepat di depan mata, tapi belum teraih.
THE GOAT
Seseorang yang diberi predikat terbaik, seringnya, adalah seseorang yang tidak bisa menerima standar rendah. Orang tersebut akan menaikkan batas-batas agar tetap berfungsi di level tertinggi. Usaha hariannya adalah usaha tertinggi yang sulit dicapai orang lain.
Itulah kenapa, saya menahbiskan Cristiano Ronaldo sebagai The GOAT. Dia adalah epitome of hard work. Contoh terbaik seseorang yang mengusahakan level tertinggi, sekalipun badannya mulai menunjukkan penurunan, sekalipun manusia-manusia menganggapnya arogan.
Mungkin kalian tak setuju. Messi dianggap lebih pantas. Tapi saya sih tak peduli. Kita bisa berdebat semalam suntuk, dan saya tak akan mengubah pendapat saya. Sesederhana karena Ronaldo menembus batas-batas yang sekiranya tak masuk di akal.
***
Cristiano Ronaldo memutuskan untuk pensiun dari Timnas Portugal. Perjalanannya di timnas sejak 2003 akhirnya berakhir. 23 tahun, 146 gol, 3 trofi untuk Portugal, saya kira bukanlah catatan yang buruk. Meski akhir yang dia ambil tidak semegah yang ada di pikiran orang-orang, tapi tak berarti 23 tahun ini sia-sia.
Cristiano meninggalkan sepak bola internasional sebagai batas atas. Sebagai tolok ukur kesuksesan. Sebagai contoh terbaik kerja keras. Pemain-pemain kelas dunia sekarang mengejar rekornya. Mengejar hal-hal yang dia ciptakan dengan begitu hebat.
Dan, sebagai penutup, saya cuma mau mengulang yang sudah saya bilang di paragraf sebelumnya, bagi saya, Cristiano Ronaldo adalah The GOAT.
Obrigado, Ronaldo!
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok