Bagi orang awam, khususnya anak muda yang terbiasa tidur nyenyak ber-AC, suara gesekan sekop beradu dengan batu koral di atas terpal jam 12 malam adalah sebuah teror. Rasanya pengin marah, tapi berhubung ini di desa, niat itu langsung surut. Di kampung, bunyi sekop dan sahut-sahutan orang kerja di tengah malam bukan pertanda ada proyek siluman atau mistis, melainkan tanda bahwa para tukang desa sedang melakoni ritual paling berat: cor dak lantai dua secara manual.
Semua dilakukan tanpa mesin molen, tanpa armada ready mix. Murni mengandalkan ketahanan otot, sekop, cangkul, dan estafet ember cor plastik.
Banyak orang menyangka keputusan cor dak manual sampai larut malam, bahkan sampai subuh, adalah bentuk penyiksaan dari pemilik rumah atau sekadar kenekatan tukang yang kejar setoran. Padahal, kalau mau jujur dan agak kritis, ada logika teknis serta sains ilmiah yang mendasari kenapa adonan semen manual itu lebih afdal diaduk saat matahari sudah lama tenggelam.
Para tukang di desa mungkin tidak pernah membaca buku teks Mekanika Rekayasa atau menghafal rumus reaksi kimia hidratasi. Namun, pengalaman bertahun-tahun membentuk intuisi sains yang luar biasa presisi. Inilah alasan kenapa mereka melakukan cor dak lantai 2 di dini hari, meski itu terlihat konyol.
Cor dak malam hari memperlambat evaporasi demi beton yang anti-retak
Sains paling mendasar dari pengecoran adalah reaksi hidrasi. Yaitu proses kimia ketika semen bercampur dengan air untuk membentuk ikatan kristal yang kuat. Reaksi ini secara alami menghasilkan panas (heat of hydration).
Jika pengadukan dilakukan secara manual di bawah terik matahari siang hari, air dalam gunungan adonan semen dan pasir akan menguap sangat cepat sebelum proses hidrasi selesai secara sempurna. Akibatnya terjadi apa yang di dalam ilmu teknik sipil disebut plastic shrinkage cracking, alias retak rambut pada permukaan beton.
Nah, kalau cor dak malam hari menawarkan suhu udara yang dingin dan kelembapan yang relatif stabil. Menguapnya air adonan berjalan jauh lebih lambat, membuat ikatan semen mengeras dengan tenang dan sempurna. Tukang desa menyebutnya sederhana: “Biar adonannya enggak kaget dan enggak gampang retak.”
Baca halaman selanjutnya
