Tabungan kalian juga terkikis sedikit demi sedikit demi menyambung hidup?
Belakangan scrolling media sosial terasa begitu suram. Ekonomi yang lesu membawa banyak kabar yang nggak enak di hati.
Mulai dari melemahnya rupiah, gelombang PHK, hingga anjloknya daya beli. Tidak sedikit masyarakat yang menilai kalau kondisi ekonomi hari-hari ini lebih buruk dibanding saat pandemi.
Tidak heran kalau sekarang ini makin banyak warga yang membuka usaha kecil-kecilan seperti penjaja makanan. Persoalannya, kalau semua orang berjualan, lantas siapa pembelinya? Apalagi di tengah ekonomi yang lagi nggak jelas seperti ini.
Saya satu suara dengan keresahan massal itu. Mau ikut-ikutan gelar lapak dagangan pun bingung bakal menawarkan apa.
Beda situasinya jika dibandingkan ketika pandemi. Waktu itu, pasarnya masih terbaca jelas. Saya masih bisa cari celah cuan dengan jualan masker kain warna-warni atau mainan edukasi buat anak yang terpaksa sekolah dari rumah.
Memang masa yang berat
Sekarang ini, seorang lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis seperti saya pun mengibarkan bendera putih. Teori di atas kertas sering melempem begitu saja berhadapan dengan kenyataan di lapangan.
Aslinya, saya memegang prinsip idealis. Membongkar atau “makan” tabungan itu dosa besar. Ibaratnya, berutang pada masa depan diri sendiri yang harus segera dilunasi.
Akan tetapi, hari ini, idealisme itu terpaksa saya gadaikan demi bertahan hidup. Mau nggak mau, tabungan harus rela terkikis sedikit demi sedikit demi menyambung hidup. Tanpa ada secercah kepastian kapan atau apakah uang itu bisa saya kembalikan ke pos semestinya.
Untungnya, jauh sebelum badai datang, saya sempat menyempatkan diri meraba-raba dunia investasi. Paling nggak, hasil secuil dari instrumen itu masih bisa diandalkan. Walaupun, nilainya memang cuma seupil dibanding ganasnya ombak ekonomi yang sedang menghantam.
Menguras tabungan untuk keperluan sekolah yang tidak bisa menunggu
Ujian hidup paling nyata adalah ketika kalender memasuki musim anak naik kelas.
Bagi saya, momen ini adalah babak baru di mana rekening harus bersiap menghadapi ujian di level berikutnya. Naik kelas berarti selusin pengeluaran baru otomatis mengantre. Dari belanja buku pelajaran wajib, hingga menebus seragam baru karena tubuh buah hati mendadak melar dan seragam lama sudah mirip potongan crop top.
Sialnya lagi, beban ini disempurnakan dengan agenda tahunan paling klise, tapi mematikan. Apalagi kalau bukan kenaikan uang SPP dan biaya sekolah lainnya.
Mau bagaimana lagi, inflasi di sektor pendidikan yang konstan meningkat 10% sampai 15% setiap tahunnya memang nggak pernah peduli dengan kondisi dompet rakyat yang sedang sekarat.
Pindah sekolah ke negeri pun bukan opsi bijak yang bisa diambil sembarangan. Sebab, ada sederet opportunity cost dan trade off yang harus dikalkulasi matang-matang jika nggak mau mengorbankan masa depan anak.
Akhirnya, saya lagi-lagi harus berlapang dada merelakan sisa tabungan yang nggak seberapa tadi untuk dikuras habis.
Bahkan, dalam situasi paling terjepit, saya terpaksa mengorek nilai pokok investasi demi menutup defisit anggaran jangka pendek. Konsekuensinya jelas dan saya pahami betul. Nilai pokok yang tergerus bikin return di periode berikutnya menciut drastis. Kalau ditarik garis merah, siklus ini terasa seperti strategi bunuh diri finansial pelan-pelan yang berjalan secara sistematis.
Frugal living bukan pilihan tepat saat sudah punya anak
Sebenarnya, agak gengsi juga rasanya mau ikut-ikutan mengeluh seperti ini. Pasalnya, saya sangat sadar kalau di luar sana masih bertebaran jutaan rakyat jelata yang nasibnya jauh lebih ngenes. Buat mereka, memikirkan biaya sekolah anak saja sudah jadi kemewahan.
Bahkan, urusan mengisi lambung setiap hari pun sering kali harus dilewati dengan perut keroncongan. Tapi, hei, sebagai WNI kelas menengah yang posisinya hobi digencet di antara kebijakan pemerintah dan stagnasi dompet, saya tetap punya hak asasi buat sambat, dong?
Dulu, semasa masih jadi mahasiswa perantauan, saya dan gaya hidup hemat ala frugal living sudah lengket bak sahabat karib. Tapi, apa boleh dikata, jurus sakti itu mendadak jadi dongeng omong kosong yang mustahil dipraktikkan setelah saya resmi punya anak.
Mengajak anak kecil kompromi soal anggaran itu rasanya sama mustahilnya dengan menagih utang ke teman yang hobi ghosting.
Alhasil, rumus bertahan hidup saya saat ini terpaksa disederhanakan jadi tiga tahap saja. Tekan habis pengeluaran pribadi, coba cari tambahan cuan dari kesempatan apa pun, dan dengan berat hati mulai makan tabungan sendiri seperti fenomena yang banyak terjadi saat ini.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Ingin Lihat Indonesia Emas Sekaligus Indonesia Gelap? Datang Ke Pogung Jogja!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
