“Kalau tujuan kamu cuma cari gelar, ngapain pilih kerja sambil kuliah program Ekstensi UI yang bikin hidupmu tambah susah?”
Pertanyaan itu beberapa mampir sejak saya memutuskan menjadi mahasiswa lagi di program Ekstensi Universitas Indonesia (UI), tepatnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Biasanya saya cuma menjawab pendek, “Pengen kuliah yang ketemu langsung sama dosen dan temen kelas hehe.” Jawaban yang aman, meski sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa.
Kalau dipikir-pikir, saya memang tidak punya alasan yang terdengar mendesak untuk berkuliah lagi di kampus Ekstensi UI yang biayanya hampir 10x lipat dari kuliah ekstensi yang umumnya dipilih mayoritas ASN. Pun dari segi waktu, masa kuliah yang harus saya tempuh jauh lebih lama, 6 semester atau 3 tahun lamanya. Itu berarti, jika dihitung dari awal saya kuliah diploma, butuh 6 tahun berkuliah untuk bisa mendapatkan gelar sarjana.
Saya sudah bekerja sebagai ASN di salah satu Kementerian pusat, pekerjaan saya pun bisa dibilang cukup menantang apalagi di era pemerintahan sekarang. Kalau tujuan saya sekadar menambah gelar, pilihannya juga banyak. Ada program yang lebih fleksibel, kelas daring, atau jadwal yang jauh lebih ramah untuk pekerja karena cukup datang saat ujian atau bahkan momen wisuda.
Hidup saya mungkin akan lebih sederhana daripada sekarang. Namun, entah kenapa saya justru memilih jalan kerja sambil kuliah yang sedikit lebih merepotkan.
Kembali ke bangku kuliah setelah hampir 3 tahun bekerja
Waktu pertama kali masuk dunia kerja, semuanya terasa baru. Saya banyak bertanya, banyak mengamati, dan hampir setiap hari pulang dengan membawa cerita dan pelajaran. Saya menikmati proses itu. Rasanya seperti setiap minggu selalu ada potongan pengetahuan baru yang bisa saya bawa pulang.
Akan tetapi, lama-kelamaan ritmenya berubah. Bukan berarti pekerjaan saya menjadi membosankan. Justru sebaliknya, pekerjaan terus datang silih berganti. Yang berubah adalah saya mulai terbiasa. Saya terbiasa untuk melakukan dan menuliskan segala hal yang diminta tanpa terlebih dahulu mempertanyakannya.
Sebagai lulusan PKN STAN, saya dibesarkan dengan cara berpikir yang sangat sistematis. Kalau ada persoalan, cari aturannya. Kalau masih ragu, buka lagi regulasinya.
Kebiasaan itu sangat membantu ketika saya mulai bekerja. Namun, semakin lama saya berada di birokrasi, semakin sering saya menemukan pertanyaan yang tidak pernah selesai hanya dengan membaca aturan.
Mengapa kebijakan yang sama bisa diterima berbeda di setiap daerah? Mengapa sesuatu yang tampak masuk akal di atas kertas berubah ketika bertemu kenyataan di lapangan?
Saya tidak sedang meragukan pekerjaan saya. Saya hanya merasa ada cara pandang lain yang belum saya kenal. Mungkin karena itulah saya mulai berpikir untuk kembali ke kampus.
Baca halaman selanjutnya: Suasana kelas Ekstensi UI …













