Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian Mojok.co

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian (unsplash.com)

“Kalau tujuan kamu cuma cari gelar, ngapain pilih kerja sambil kuliah program Ekstensi UI yang bikin hidupmu tambah susah?”

Pertanyaan itu beberapa mampir sejak saya memutuskan menjadi mahasiswa lagi di program Ekstensi Universitas Indonesia (UI), tepatnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Biasanya saya cuma menjawab pendek, “Pengen kuliah yang ketemu langsung sama dosen dan temen kelas hehe.” Jawaban yang aman, meski sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa.

Kalau dipikir-pikir, saya memang tidak punya alasan yang terdengar mendesak untuk berkuliah lagi di kampus Ekstensi UI yang biayanya hampir 10x lipat dari kuliah ekstensi yang umumnya dipilih mayoritas ASN. Pun dari segi waktu, masa kuliah yang harus saya tempuh jauh lebih lama, 6 semester atau 3 tahun lamanya. Itu berarti, jika dihitung dari awal saya kuliah diploma, butuh 6 tahun berkuliah untuk bisa mendapatkan gelar sarjana.

Saya sudah bekerja sebagai ASN di salah satu Kementerian pusat, pekerjaan saya pun bisa dibilang cukup menantang apalagi di era pemerintahan sekarang. Kalau tujuan saya sekadar menambah gelar, pilihannya juga banyak. Ada program yang lebih fleksibel, kelas daring, atau jadwal yang jauh lebih ramah untuk pekerja karena cukup datang saat ujian atau bahkan momen wisuda. 

Hidup saya mungkin akan lebih sederhana daripada sekarang. Namun, entah kenapa saya justru memilih jalan kerja sambil kuliah yang sedikit lebih merepotkan.

Kembali ke bangku kuliah setelah hampir 3 tahun bekerja

Waktu pertama kali masuk dunia kerja, semuanya terasa baru. Saya banyak bertanya, banyak mengamati, dan hampir setiap hari pulang dengan membawa cerita dan pelajaran. Saya menikmati proses itu. Rasanya seperti setiap minggu selalu ada potongan pengetahuan baru yang bisa saya bawa pulang.

Akan tetapi, lama-kelamaan ritmenya berubah. Bukan berarti pekerjaan saya menjadi membosankan. Justru sebaliknya, pekerjaan terus datang silih berganti. Yang berubah adalah saya mulai terbiasa. Saya terbiasa untuk melakukan dan menuliskan segala hal yang diminta tanpa terlebih dahulu mempertanyakannya. 

Sebagai lulusan PKN STAN, saya dibesarkan dengan cara berpikir yang sangat sistematis. Kalau ada persoalan, cari aturannya. Kalau masih ragu, buka lagi regulasinya. 

Kebiasaan itu sangat membantu ketika saya mulai bekerja. Namun, semakin lama saya berada di birokrasi, semakin sering saya menemukan pertanyaan yang tidak pernah selesai hanya dengan membaca aturan. 

Mengapa kebijakan yang sama bisa diterima berbeda di setiap daerah? Mengapa sesuatu yang tampak masuk akal di atas kertas berubah ketika bertemu kenyataan di lapangan?

Saya tidak sedang meragukan pekerjaan saya. Saya hanya merasa ada cara pandang lain yang belum saya kenal. Mungkin karena itulah saya mulai berpikir untuk kembali ke kampus.

Baca halaman selanjutnya: Suasana kelas Ekstensi UI …

Suasana kelas Ekstensi UI benar-benar berbeda

Malam pertama kuliah masih saya ingat. Sebetulnya bukan di hari pertama sebagaimana teman-teman saya. Hari pertama kuliah saya di Ekstensi UI adalah hari ketiga di semester baru karena 2 hari pertama sudah langsung saya gunakan untuk izin karena pekerjaan mengharuskan saya menyelesaikan dinas di luar di daerah timur Indonesia.

Malam itu, saya datang langsung dari kantor. Laptop kerja masih ada di dalam tas karena memang belum sempat mampir ke rumah. Di perjalanan menuju kampus, muncul pikiran yang sebenarnya agak konyol, “Apa saya masih cocok jadi mahasiswa?”

Pertanyaan itu hilang begitu saya masuk kelas.

Teman-teman saya ternyata datang dengan cerita yang tidak jauh berbeda. Ada yang baru selesai rapat, ada yang masih mengenakan batik kantor, ada yang buru-buru menghabiskan makan malam sebelum dosen datang. 

Kami sama-sama sedang belajar menyiasati waktu. Rasanya berbeda dengan ketika saya kuliah dulu.

Di kelas saya bertemu ASN dari kementerian lain, pegawai pemerintah daerah, BUMN, sampai teman-teman dari sektor swasta. Ketika dosen menjelaskan satu teori, hampir selalu ada yang mengangkat tangan lalu menghubungkannya dengan pengalaman kerja masing-masing. 

Dari situ saya baru sadar bahwa satu persoalan bisa terlihat sangat berbeda tergantung dari mana kita melihatnya. Sesuatu yang selama ini saya anggap biasa ternyata bisa diperdebatkan berjam-jam tanpa ada yang benar-benar merasa paling benar.

Saya sudah lama tidak merasakan hal seperti itu.

Menikmati jadi mahasiswa Ekstensi UI

Awalnya saya pikir kehidupan kampus saya saat disambi dengan bekerja hanya akan berhenti di ruang kelas. Datang, belajar, lalu pulang, sebab esok hari kami harus berubah titel sebagai pekerja sebelum malamnya kembali menjadi mahasiswa. 

Akan tetapi, saya memutuskan kembali ikut organisasi. Saya bergabung dengan BEM PE FEB UI di Departemen Kajian dan Aksi Strategis. Jujur saja, saya tidak menyangka akan kembali rapat sebagai mahasiswa setelah beberapa tahun bekerja.

Dari sana saya mulai mengenal lagi ritme yang dulu sempat hilang. Berdiskusi sampai malam, memperdebatkan satu gagasan, menyusun kajian, bahkan departemen saya (meski dipimpin juga oleh seorang ASN), namun tetap ikut turun aksi ke jalan sebagaimana tugas mahasiswa mempertahankan nalar dan idealismenya.

Selain organisasi sesekali mengikuti kompetisi menulis dan case competition bersama teman-teman. Yang paling saya ingat bukan hasil akhirnya. Saya lebih ingat malam-malam dan hari libur yang seharusnya menjadi satu-satunya waktu kami beristirahat, namun justru kami isi dengan diskusi, debat, menyusun presentasi, dan berlatih.

Capek, tentu saja. Tetapi sudah lama saya tidak merasa lelah itu karena sedang belajar sesuatu. Dan, satu hal yang pasti, saya merasa bahagia dengan semua lelah dan sibuk yang silih berganti ini.

Mungkin memang bukan hanya soal gelar

Sampai sekarang, kalau ada yang bertanya kenapa saya memilih kuliah lagi, tepatnya di program Ekstensi UI, saya masih belum punya jawaban yang terdengar hebat. Saya hanya merasa pekerjaan mengajarkan bagaimana sebuah sistem bekerja. Sementara kampus memberi ruang untuk mengambil jarak, melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Saya harap bisa kembali menemukan pertanyaan-pertanyaan yang sempat tidak muncul di tengah kesibukan kantor.

Setelah lulus nanti, hidup saya mungkin mungkin tidak akan berubah drastis. Saya tetap akan datang ke kantor yang sama, mengerjakan pekerjaan yang mungkin tidak jauh berbeda dari hari ini. 

Akan tetapi, saya berharap ada satu hal yang berubah: cara saya melihat pekerjaan. Saya tidak ingin hanya menjadi bagian dari sistem yang bekerja dengan baik, tetapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang terus berpikir bagaimana sistem itu bisa bekerja lebih baik. 

Perubahan besar mungkin tidak selalu lahir dari keputusan yang spektakuler. Kadang ia dimulai dari keberanian mempertanyakan kebiasaan yang selama ini dianggap biasa.

Di tengah ritme yang padat itu, saya sering teringat sebuah kalimat, “Pelaut yang tangguh tidak lahir di laut yang tenang”. Menjalani pekerjaan sambil kuliah memang melelahkan. Namun, saya percaya proses itu sedang menempa saya, bukan hanya menjadi pegawai yang lebih kompeten, tetapi juga pribadi yang lebih siap menghadapi perubahan dan ikut mendorong perubahan itu.

Saya kembali ke kampus bukan untuk mengejar gelar atau sekadar menambah satu baris di riwayat pendidikan. Saya kembali karena ingin tetap menjadi pembelajar, tetap memiliki keberanian untuk bertanya, dan suatu saat nanti mampu memberi kontribusi yang lebih besar bagi organisasi tempat saya bekerja. Sebab, bagi saya, birokrasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu menjalankan sistem, tetapi juga orang-orang yang bersedia terus belajar agar dapat memperbaiki sistem itu dari dalam.

Penulis: Nita Safira
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version