Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Cerita Jalur Mudik yang juga Menuju Kampung Wapres Jusuf Kalla

Ulya Sunani oleh Ulya Sunani
7 Juni 2019
A A
jalur mudik

jalur mudik

Share on FacebookShare on Twitter

Idulfitri kali ini merupakan pengalaman kesekian kali saya berlebaran di rantau, setelah hampir 15 tahun mengadu nasib di Tanah Bugis Makassar. Melambungnya harga tiket pesawat, diantara yang menjadi penyebab rutinitas mudik saya ke Rembang, Jawa Tengah beralih ke Maros, Sulawesi Selatan. Menurut saya, ini alternatif terbaik atas ketidakenakan kita dan saya tentunya merayakan hari yang fitri setelah sebulan suntuk berpuasa.

Bagaimana rasanya merayakan Idulfitri tanpa mudik? Saya belum pernah merasakan, seperti halnya saya belum pernah merasakan berbuka puasa tanpa teh hangat manis dan gorengan.

Pun, ketika saya tidak bisa mudik tatkala masih menyandang status ahasiswa, saya biasa diajak atau setidaknya memposisikan diri untuk bisa berlebaran di kampung halaman teman kuliah—sekitaran Makassar.

Mudik di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat yang merupakan entitas kampung masyarakat Bugis Makassar dan Mandar, tak seheboh di Tanah Jawa. Setidaknya dari tampilan layar kaca HP dan TV yang saya saksikan.

Isu seputaran arus mudik dan balik seperti kemacetan arus lalulintas, berjubelnya penumpang, infrastruktur jalan, tol yang baru diresmikan—tidak menjadi pengiring cerita para pemudik di sini.

Banyaknya (tidak sampai bertumpuk) penumpang hanya terjadi di Terminal Daya Makassar, yang merupakan sentral arus orang barang dari dan menuju daerah Sulawesi Selatan, Selawesi Barat dan sebagian Sulawesi Tengah.

Selebihnya, arus orang dan barang pada beberapa terminal di daerah hanya mengalami peningkatan jumlah keluar-masuk kendaraan. Hanya kendaraan, karena banyak terminal di daerah Sulawesi Selatan dan Barat yang kurang berfungsi maksimal—sekedar terminal perlintasan.

Hal ini disebabkan banyaknya mobil ber-plat Hitam yang digunakan sebagai angkutan umum dan antar-jemput penumpang. Dari sistem antar jemputnya, ya., mirip transportasi online yang baru berkembang dewasa ini. Meski di daerah Sulawesi sistem ini sudah berlangsung lama, cuma hanya via teleponan.

Baca Juga:

Pengalaman Naik Bus Putra Remaja dari Jogja Menuju Jambi: Seni Bertahan Hidup Selama 40 Jam di Atas Kursi Rusak yang Menyiksa

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Dengan sistem ini para penumpang diantar jemput sampai di tangga depan rumahnya—tidak mesti mengantri berjubel di terminal. Barang bawaan juga tidak akan menimbulkan biaya tambahan karena jadi rebutan calo di Terminal.

Di Daerah Bugis Makassar, angkutan orang dan barang lebih didominasi transportasi darat. Moda didominasi minibus. Lebar ruas jalan Trans Sulawesi juga sudah cukup untuk mewadahi aksesibilitas dan keinginan mudik masyarakat dari dan menuju kampung-kampung kantong domisili masyarakat Bugis Makassar.

Terkecuali, jalur Camba, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan yang juga merupakan akses menuju kampung Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kabupaten Bone. Setidaknya jalur darat terdekat dari Makassar ke Kabupaten Bone, tidak ada cerita perjalanan yang layak diperpanjang selain cerita tentang jalan di Hutan Camba. Jalur yang juga saya telah dan akan lalui berlebaran kali ini.

Musim lebaran tahun lalu, ada cerita fenomenal pada jalur ini yakni jembatan layang Poros Maros-Bone. Lokusnya berada di Pattunungan Maros, akses pembuka jalur hutan Camba. Pembangunanya mengikis gunung tras Bantimurung Maros.

Inilah jalur agak berat bagi Anda yang bukan orang Camba atau Bone, apalagi musim arus Balik seperti sekarang ini.

Gambarannya seperti ini; jalur ini lebih tepatnya membelah Gunung dan Hutan Lindung Bantimurung, ruas sempit yang kiri-kanannya diapit tebing terjal, berkelok—ada yang seperti huruf S—turunan – tanjakan, tengah hutan—beberapa ruas juga berlubang, banyak mobil besar; truk sering lalu-lalang.

Kemacetan yang biasa terjadi dalam jalur ini dikarenakan lakalantas dan juga berpapasannya mobil di lekukan tikungan. Bagi yang akan masuk ke jalur hutan Camba ini, biasa akan berdoa,”semoga tidak berpapasan dengan mobil besar (truk dan sejenisnya). Ketika suatu saat Anda melewati jalur ini, saya sarankan juga berdoa demikian.

Dalam jalur ini, terdapat beberapa pagar pembatas jalan yang penyok, bekas tercium kepala mobil tentunya. Tidak jarang pula mobil dibiarkan berada di tepi jalan hutan, biasa karena mobil tersebut mogok atau rusak.

Dari semua tuturan di atas, satu hal yang paling mencengangkan, bahwa dalam jalur hutan Camba tidak ada signal HP dan internet, biar semahal apa HP Anda.

Banyangkan, bila lagi asyik-asyiknya Anda telponan atau WAan, masuk di jalur ini, kemudian diberi waktu 5 menit untuk membuat keputusan genting, maka bisa saya pastikan suasana genting akan Anda rasa selama kurang lebih 1 jam perjalanan menyusuri jalur hutan ini.

Soal keamanan, untuk jalur sempit, tengah hutan tak bersignal, saya simpulkan cukup rawan ketika tengah malam. Tetapi dengan karakter khas masyarakat Bugis-Makassar yang pemberani, maka sebenarnya jalur ini aman-aman saja.

Meski begitu, ada hiburan ketika Anda sudah bosan dengan tikungan jalur hutan Camba. Akhir-akhir ini, sepanjang jalan hutan, monyet dan kera berjejer dipinggir jalan. Mereka melongo menyaksikan hilir mudik kendaraan. Terkadang melompat kegirangan ketika ada pengendara yang melempar pisang atau sekedar makanan.

Kera dan monyet yang semula berdiam di rimbunan pohon lindung Gunung Bantimurung telah mulai keluar hutan untuk mencari makan. Tahun lalu, saya menyaksikan baru ada beberapa ekor dan titik pinggir jalan yang ditempati mangkal oleh mereka. Kini, hampir sepanjang jalan hutan.

Menurut beberapa cerita, mereka keluar hutan karena sering diberi makan oleh pelintas jalan. Sekali lagi, manusia telah mengubah pola hidup habitat yang seharusnya di hutan. Mereka tidak lagi menjadi monyet dan kera pekerja keras untuk mencari makan, tetapi mulai tergantung pada pemberian dan belas kasihan. Sudah seperti juga karakter manusia, heheh.

Di samping kegentingan dan ketergantungan kera monyet itu, jalur jalan yang menurut beberapa cerita dibuat oleh transmigran Koloni Jawa pada zaman penjajahan Belanda ini, cukup fenomenal. Fenomenal, karena pembangunan jalur ini membelah hutan dan gunung nan terjal. Proyek ini digadang-gadang seperti jalur tol yang akan memberi kemudahan dan kecepatan akses atas kesempitan, keterjalan, tekukan tikungan dan tak bersignalnya jalur hutan Camba.

Proyek pembangunan yang akan memudarkan cerita yang sudah berkembang puluhan tahun atas kegentingan berkendara di jalur jalan hutan Camba. Namun, proyek pembangunan terhenti, dan baru beberapa kilometer saja yang terealisasi.

Namun, apakah setelah Jusuf Kalla yang tak menjabat lagi sebagai Wakil Presiden, proyek pembangunan jalan menuju ke kampungnya ini akan berlanjut? Kita sama-sama menunggu hukum kausalitasnya.

Bagi para pemuja berlebaran di kampung seperti saya, cerita tentang kondisi jalan, sejarah kampung yang dilalui, ke-khasan sebuah daerah dengan cerita sukses orang-orangnya merupakan aroma tersendiri yang melengkapi wangi dan segarnya hari kemenangan, yang menurut saya masih layak untuk dirayakan. Selamat merayakan Idulfitri~

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Jalur CambaJusuf KallaMudikWapres
Ulya Sunani

Ulya Sunani

ArtikelTerkait

mudik pandemi wabah corona protokol kesehatan di desa abai mojok.co

Mudik di Masa Pandemi: Lebih Horor Ketimbang Menetap di Jakarta

14 September 2020
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
40 Jam Disiksa Bus Putra Remaja dari Jogja Sampai Jambi (Unsplash)

Pengalaman Naik Bus Putra Remaja dari Jogja Menuju Jambi: Seni Bertahan Hidup Selama 40 Jam di Atas Kursi Rusak yang Menyiksa

16 Juni 2026
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi

19 Mei 2020
Tawangmangu, Pilihan Jalur yang Tepat untuk Pulang Kampung ke Ponorogo dari Solo Mojok.co

Tawangmangu, Pilihan Jalur yang Tepat untuk Pulang Kampung ke Ponorogo dari Solo

20 Agustus 2024
Ingin Mudik Naik Pesawat? Ini 5 Maskapai Paling Aman di Indonesia

Ingin Mudik Naik Pesawat? Ini 5 Maskapai Paling Aman di Indonesia

6 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.