Saya baru sadar bahwa di desa, mewarnai rambut bisa terasa seperti membuat pengumuman publik. Padahal yang berubah cuma warna rambut, bukan kepribadian, bukan juga tujuan hidup. Tapi entah bagaimana, perubahan kecil seperti itu sering dibaca terlalu jauh seolah rambut yang tidak lagi hitam berarti seseorang sedang “berubah” menjadi sesuatu yang mencurigakan. Cat rambut jadi seakan jadi hal yang tak sepele.
Di kota, orang mungkin melihat rambut pirang, cokelat, atau merah sebagai urusan gaya. Di desa, warna rambut punya tafsir tersendiri. Ada yang bertanya dengan nada heran, ada yang menatap sedikit lebih lama dari biasanya, dan ada juga yang menghakimi. Penghakimannya sama, antara “kok rambutnya diwarnai?” atau “orang kok suka aneh-aneh!”
Padahal ini hanya perkara cat rambut. Orangnya tak berubah, rumahnya sama, hidupnya tak benar-benar berbeda. Tapi warna rambut berbeda, nyatanya tak pernah sederhana bagi orang desa.
BACA JUGA: Alasan di Balik Indahnya Rambut Idol K-Pop meski Sering Ganti Warna
Cat rambut bukan perkara yang sepele
Saya mulai menyadari bahwa di desa, penampilan sering dianggap sebagai pernyataan sikap. Rambut yang diwarnai bukan lagi sekadar pilihan gaya, melainkan tanda yang bisa ditafsirkan macam-macam. Ada yang menganggapnya bentuk kenakalan kecil. Ada juga yang melihatnya sebagai pengaruh pergaulan luar. Seolah seseorang tidak mungkin cat rambut hanya karena ingin mencoba sesuatu yang baru.
Padahal kalau dipikir-pikir, mewarnai rambut adalah salah satu perubahan paling sederhana yang bisa dilakukan seseorang. Tidak permanen, tidak terlalu dramatis. Kalau bosan, tinggal dipotong atau dibiarkan kembali ke warna aslinya. Memang ada risikonya, tapi itu urusan pribadi kan. Tapi di desa tentu tak sesederhana itu.
Saya pernah melihat bagaimana reaksi orang-orang ketika ada warga desa yang pakai cat rambut. Tak perlu saya beri detilnya, sesederhana ini saja: mata mereka tak lagi sama. Dan entah bagaimana, ini jadi urusan satu kampung.
Begitulah cara desa bekerja. Informasi bergerak cepat, bahkan untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Motor tamu yang parkir di depan rumah bisa memancing rasa penasaran satu RT. Orang yang jarang keluar rumah bisa dianggap menyendiri. Dan seseorang yang mewarnai rambut kadang langsung dicurigai sedang mencoba menjadi “anak kota”.
Padahal itu cuma cat rambut. Kadang manusia ingin mencoba hal baru, meski kadang warna rambut yang berbeda bisa bikin mereka terlihat seperti ayam warna-warni. Tidak ada ambisi besar di baliknya, setidaknya, tidak seserius pikiran orang desa.
Tapi standar sosial di desa memang sering bekerja dengan cara yang unik. Hal-hal yang dianggap biasa di tempat lain bisa terlihat mencolok di sini. Bukan karena orang desa tidak pernah melihat perubahan, tapi karena perubahan yang terlalu berbeda dari kebiasaan sering terasa ganjil.
Perubahan tidak selalu ditolak
Yang menarik, desa sebenarnya bukan tempat yang sepenuhnya menolak perubahan. Banyak hal baru juga masuk dengan cepat: motor baru, ponsel baru, bahkan tren media sosial. Namun ketika perubahan itu menyentuh penampilan seseorang secara langsung, reaksinya sering terasa lebih sensitif. Tentu saja, cat rambut termasuk.
Mungkin karena penampilan adalah sesuatu yang langsung terlihat. Ia tidak perlu dijelaskan. Orang cukup melihat, lalu menafsirkan sendiri.
Pada akhirnya, mewarnai rambut di desa memang bukan sekadar soal warna. Ia bisa berubah menjadi percakapan kecil di warung, bahan candaan di teras rumah, atau sekadar cerita yang berpindah dari satu orang ke orang lain.
Tapi begitulah hidup di desa. Hal-hal sederhana kadang tidak pernah benar-benar sederhana. Ya begitulah ironisnya. Desa, yang kerap lekat dengan kesederhanaan, justru sering kali bertindak secara berlebihan.
Penulis: Putri Ardilla
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tips Bleaching Rambut biar Putih kayak Ganjar Pranowo
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
