Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Ironi Caleg Muda: Kalau Muda tapi Kosong, Mendingan BA Esports Aja yang Nyaleg!

Rivyan Bomantara oleh Rivyan Bomantara
1 Februari 2024
A A
Ironi Caleg Muda: Kalau Muda tapi Kosong, Mendingan BA Esports Aja yang Nyaleg!

Ironi Caleg Muda: Kalau Muda tapi Kosong, Mendingan BA Esports Aja yang Nyaleg! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kurang dari tiga puluh hari ke depan, Indonesia kembali menggelar hajatan demokrasi. Tahun ini, muncul banyak “anak muda” yang tiba-tiba nyaleg. Rekan-rekan pembaca pasti menemukan hal-hal serupa: muncul baliho atau postingan caleg-caleg muda yang bikin mikir “ni orang beneran nyaleg?”

Bukan bermaksud meremehkan, tapi sangat menjengkelkan melihat pemuda-pemuda yang nyaleg ini kebanyakan hanya menjual statusnya sebagai anak muda. Padahal, lahir sebagai Gen Z belum tentu memiliki jiwa yang muda. Gen Z yang gaptek? Banyak. Konservatif? Banyak. Cuma bisa retorika? Apalagi.

Bisa jadi, salah satu faktor fenomena banyaknya caleg muda ini disebabkan oleh jumlah pemilih tahun 2024. Merujuk data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Daftar Pemilih Tetap (DPT) Nasional tahun ini adalah 204.807.222 jiwa. Dari total angka tersebut, pemilih muda menyumbang 55-60 persen atau sekitar 106.358.447 jiwa.

Hal ini tentu sebuah catatan kemajuan bagi demokrasi kita. Pemuda-pemudi bangsa kini menjadi penentu arah bangsa, key pieces, king maker, game changer, apa pun itu. Lebih dari itu, sebagian dari kami juga terjun dalam perebutan kursi, mulai dari DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, hingga DPR RI!

Indonesia itu memang butuh anak muda (baik sebagai pemilih maupun yang dipilih). Tapi anak muda yang seperti apa dulu nih?

Muda dalam politik itu overrated!

Tingginya angka DPT dari kalangan anak muda membuat para parpol juga berlomba-lomba menggaet anak muda untuk duduk di parlemen, dengan harapan dapat ikut menggaet pemilih muda. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan selama kampanye juga makin variatif. Mulai dari penggunaan AI hingga memulai tren di aplikasi sosial media tertentu.

Penggunaan kata ‘muda’ dalam politik itu overrated, hiperbola, berlebihan. Muda tak semata-mata cerdas, melek politik, dan yang paling penting, muda tak semata-mata bijak. Iya dong, memangnya generasi muda yang kemarin buat tren nangis-nangis di TikTok gara gara debat capres itu bijak?

Selama masa kampanye ini, FYP TikTok penulis cukup beragam. Ada yang mendukung salah satu calon presiden karena punya hewan favorit yang sama, ada pula yang dukung karena alasan gemas dengan salah satu capres. Tolong dicatat, ini tidak salah. Kita berhak mendukung siapapun itu dan karena apa pun itu. Tapi tolong banget ini mah, memangnya nggak ada alasan lain yang lebih masuk akal?

Baca Juga:

“Satu Desa Satu Gym” Bukan Sekadar Lelucon, Itu Ide Bagus untuk Kesehatan Warga Jawa Tengah!

Jika Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra Nyaleg, Begini Gaya Kampanye Mereka

Anak muda, alangkah baiknya mempelajari rekam jejak, visi-misi, atau program Capres-Cawapres untuk menentukan pilihan. Game Changer kok cetek. Jika telah memutuskan untuk berpihak, ayo dong jangan nanggung. Speak up, sosialisasikan dukungan dengan cara yang ‘muda’. Persuasif tanpa provokatif, mengajak tanpa menginjak.

Caleg muda cukup riskan

Manuver anak muda dalam pentas politik ini, dilihat dari manapun cukup riskan. Muncul pertanyaan, bagaimana caleg-caleg muda ini memenuhi ongkos politik mereka? Oke, mungkin bisa diatasi dengan hasil usaha atau tabungan (ehem, harta orang tua) mereka. Namun, bagaimana dengan caleg muda yang tidak memiliki hal itu?

Politikus-politikus muda yang tidak cukup kuat secara finansial sangat rawan akan titipan-titipan iblis dari (sebut saja) investor. Apalagi, status mereka adalah junior. Nggak kebayang tekanannya kayak apa. Maka dari itu intervensi dan politik balas budi kemungkinan besar terjadi.

Legislator itu tugasnya mewakili apa yang menjadi kegelisahan rakyat. Diperlukan adanya paradigma antara legislator dan masyarakat yang sinkron, dan hal itu tentu tidak mudah. Legislator harus pintar dan mampu bersosialisasi untuk memahami aspirasi masyarakat sebelum diperjuangkan di ruang sidang parlemen. Nah, mampukah caleg muda melakukan hal itu dengan berbagai tekanan intervensi dari pihak lain?

Kurangnya pengalaman para caleg muda ini menjadi salah satu hal yang patut dipersoalkan. Selain itu, proses seleksi kelayakan caleg juga perlu dipertanyakan kepada partai politik. Bagaimanapun, legislator merupakan refleksi dari masyarakat. Ketika legislatifnya joss, maka begitu juga dengan rakyatnya.

Mendingan BA Esports yang nyaleg

Kalau sekadar muda tapi kosong, mending yang nyalon ke DPRD atau DPR RI itu Brand Ambassador (BA) Esport aja udah.

Daripada merekrut anak muda random yang kebetulan ingin nyaleg, partai politik juga lebih untung jika merekrut BA Esport. Massa banyak, modal finansial awal sudah pasti aman, dan yang paling penting (kayaknya) gampang disetir. Rigen dan Kiky Saputri aja bisa kok, masa ketum-ketum partai yang notabene politikus ulung itu nggak bisa~

Sepertinya, BA Esport memiliki massa yang cukup untuk mengamankan satu dapil DPRD Kabupaten. Kalaupun diminta maju di DPR RI, para BA Esport ini masih bisa bersaing, yakin deh. Lihat saja followers TikTok atau Instagram mereka.

Sebagai disclaimer, tak sedikit pula muda-mudi di negara ini yang nggak kosong, nggak modal omon-omon. Tak dapat disangkal, terdapat caleg muda yang bersungguh-sungguh ingin memainkan peran sebagai anggota dewan yang berbakti. Rian Ernest dan Tina Toon salah dua contoh yang sudah membuktikannya. Anak muda yang progresif ini perlu diapresiasi.

Pesan saya untuk caleg muda, menjadi legislator itu bukan lapangan uji nasib, bukan mata pencaharian, bukan pula alat kepentingan partai politik semata. Kursi parlemen itu bukanlah kursi nyaman yang bisa dijadikan tempat bermain. Dikira kursi gaming kali ah.

Lagi-lagi, penggunaan kata ‘muda’ dalam konteks politik itu glorifikasi semata. Generasi saya nggak se-istimewa itu kok pak, bu.

Penulis: Rivyan Bomantara
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Baliho Caleg Muda dengan Pose Saranghaeyo Hanya Bikin Mual, Nggak Bikin Tertarik untuk Memilih

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2024 oleh

Tags: ba esportscaleg mudaPemilupolitik balas budi
Rivyan Bomantara

Rivyan Bomantara

Seorang Analis Media yang menyukai kopi

ArtikelTerkait

Dinasti Politik Cuma Tema Basi yang Dilempar oleh Calon Kering Imajinasi terminal mojok.co

Kami Tidak Berniat untuk Golput, tapi Kami Bingung Mau Memilih yang Mana

27 September 2020
air tawar alat politik pemilu pilkada janji palsu mojok

Alat Politik itu Bisa Apa saja, Termasuk Air Tawar

9 Oktober 2020
Suka Duka Menjadi Enumerator Quick Count Terminal Mojok

Suka Duka Menjadi Enumerator Quick Count Pilkada 2020

16 Desember 2020
Ridwan Kamil, Gubernur Populis yang Malu-Malu Mau Jadi Capres 2024 terminal mojok.co

Ridwan Kamil, Gubernur Populis yang Malu-Malu Mau Jadi Capres 2024

14 Oktober 2020
Baliho Caleg Muda dengan Pose Saranghaeyo Hanya Bikin Mual, Nggak Bikin Tertarik untuk Memilih

Baliho Caleg Muda dengan Pose Saranghaeyo Hanya Bikin Mual, Nggak Bikin Tertarik untuk Memilih

4 Januari 2024
Mempertanyakan Alasan Presiden Selalu Berasal dari Suku Jawa

Mempertanyakan Alasan Presiden Selalu Berasal dari Suku Jawa

23 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.