Kalau orang bicara “Bagong”, bayangannya gemoy seperti tokoh pewayangan biasanya muncul. Karakternya lucu, jujur, ceplas-ceplos, dan pemberani. Katanya, dia mewakili suara rakyat. Di sinilah bus Bagong tepat sasaran. Ia hadir untuk mendengar keluh kesah warga kecamatan, utamanya jalur Ambulu-Surabaya.
Kalian tahu di mana Ambulu berada? Ini masuk Jember coret, jalur timur di pesisir Pantai Selatan. Rute sunyi, ruwet, dan AKAP atau AKDP jarang lewat sini. Kalau ada, mungkin hanya satu atau dua bus saja.
Rute ini satu tarikan napas dari Balung, Gumukmas, Kencong, Lumajang. Wilayah yang dalam imajinasi transportasi antarkota, seperti anak tiri. Kasian betul memang jalur ini.
Dalam logika PO bus, rute Jember-Surabaya yang menjadi jalur utama adalah Jember-Bangsalsari-Tanggul-Lumajang. Parameternya karena jalur ini lurus, ramai, dan relatif “masuk hitungan” secara bisnis.
Dari Jember ke Surabaya PP, penumpang bus Bagong akan terlena oleh jalanan nasional yang mulus. Sementara Ambulu-Surabaya (dengan pertemuan titik tengahnya di Lumajang) adalah jalan kabupaten. Rute ini akan menilai tingkat keimanan kalian.
Setiap meter jalan, ucapan astaghfirullah nyaring terlontar dari mulut penumpang. Maklum, lubang jalan menguasai jalur ini. Yang tertidur dan ketika bermimpi sampai di Mekkah, bisa jadi sudah tawaf wada’ saking lamanya bus-bus di sini ngetem.
Kecoa yang sudah almarhum tertindih sandal bisa reinkarnasi saking tambal-sulam aspalnya yang buat bus bukan jalan tapi terbang, ngawang. Rute ini rute kompromi dan penumpang bus Bagong tidak punya kemewahan memilih, kecuali sensasi naik “wahana”.
Rute yang tak seksi, berakhir jadi idaman penumpang bus Bagong
Sebelum bus Bagong masuk, rute ini bertahan berkat beberapa bus pendahulunya. Bus-bus senior, tanpa AC, dan mengandalkan ketabahan penumpang menguasai.
Mereka berjasa, tentu saja. Tapi ya kita harus mengakuinya, dari sisi teknis, ini adalah armada generasi lama. Lalu bus Bagong datang, meski pada awalnya banyak yang menganggap hanya akan sebatas meneruskan generasi lama.
Maklum, rute ini punya sejarah kelam. Bus yang lewat sini mendapat julukan negatif. Mulai dari “bus teyeng”, kaleng Khong Guan, dan kura-kura. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.
Armada bus Bagong yang melintas menggunakan sasis Mercedes Benz dan mesin yang jauh lebih modern. Beberapa unit memakai basis mesin besar kelas AKAP, dengan tenaga di atas 250 tenaga kuda dan torsi besar untuk perjalanan jarak jauh.
Tahukah kamu kalau jenis mesin yang stabil di kecepatan konstan, lebih senyap, dan tidak mudah tercekik saat menghadapi jalan bergelombang atau tanjakan. Suspensinya pun sudah udara, sehingga bantingan di jalan berlubang terasa jauh lebih manusiawi, tidak akan melepas ruh penumpang dari jiwanya. Getaran kabin juga jauh berkurang.
Saya, sebagai pelanggan bus Bagong, jelas meyakini kalau ini absah nan valid. Perjalanan lebih stabil, suara mesin tidak lagi mendominasi, dan rasa capek setelah turun bus berkurang drastis. Nilai plusnya, saya bisa meneruskan tugas-tugas kampus dengan membuka laptop di atas bus. Bayangkan, ini privilege di era transportasi umum.
Soal interior, bus Bagong tidak main-main. AC benar-benar dingin, tidak ada asap rokok, dan tidak ada aroma tahu petis. Konfigurasi kursi 2-3 untuk armada lama dan 2-2 untuk yang baru.
Untuk rute pinggiran, ini adalah peningkatan kelas. Saya bisa bilang kalau era “bus teyeng” akhirnya selesai.
Komunikasi yang manusiawi antara kru bus Bagong dengan penumpang
Salah satu sisi terbaik dari bus Bagong adalah cara kru mereka ketika berkomunikasi dengan penumpang. Kamu bisa, lho, komunikasi dengan kondektur via WhatsApp.
Saya sendiri sering bertanya via WA. “Busnya posisi di mana? Perkiraan sampai Gumukmas jam berapa? Masih ada kursi atau tidak?” Biasanya, kondektur atau kernet bus Bagong akan membalasnya dengan cepat.
Kru yang bertugas juga komunikatif dengan sopir. Ketika ada penumpang yang akan naik di pertigaan berikutnya, mereka sigap memberi tahu.
Artinya apa? Semua bisa menjangkau informasi tentang posisi bus via hape kru bus Bagong. Entah ini anjuran atau inisiatif, tapi saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya untuk kondektur/kernet yang mengirim voice note, live location, dan pasang status WA. Biasanya, konten mereka berisi info keterlambatan, kondisi bus, waktu kedatangan, dan lain sebagainya.
Kalau membutuhkan nomor hape kru, tinggal minta saja. Selain itu, ada grup Bismania (Mas Pung Plesiran) yang menyusun jadwal PP Ambulu-Surabaya jadi satu dan tinggal share. Lengkap sudah primadona kita satu ini.
Bus Bagong itu tepat waktu
Lebih gila lagi, bus Bagong berangkat dari pool Ambulu setiap satu jam! Ini sih jelmaan MRT tapi versi low-budget.
“Mau ada penumpang atau tidak, kami tetep berangkat, Mbak. Mau isinya demit atau orang pasti berangkat” ujar Hendrik, kondektur bus Bagong yang sudah akrab dengan saya.
Tidak ada ngetem atau drama “nunggu penuh dulu”. Penumpang tidak perlu lagi berdiri lama di pinggir jalan, duduk di emperan rumah orang di siang hari yang terik, sambil menengok jalan berharap bus muncul. Adegan penuh ketidakpastian itu terakhir saya alami sekitar 20 tahun lalu.
Ada detail kecil yang menarik dari trayek ini. Setiap bus Bagong punya nama sebutan. Dan nama-nama itu lahir dari kultur pesisir Jember. Ada Papuma, Nesser, Artise, Jalur Langit, Sultan, dan Dewandaru. Saya sendiri punya favorit: Dewandaru, tidak lain karena jadwalnya pas.
Dari depan rumah saya di Gumukmas, bus ini berangkat sekitar pukul 07:30 pagi dan tiba di Terminal Minak Koncar, Lumajang, tepat pukul 09:00. Kampus saya dekat terminal. Pulangnya saya naik Papuma. Presisi waktu seperti ini jadi pergunjingan “Lho, kok bisa bus on-time?”
Seolah-olah semua bus itu kena kutukan ngetem. Izin, ini tidak berlaku untuk bus Bagong di trayek ini.
Tarif yang mem-Bagongkan
Tarif bus Bagong itu transparan. Dari Gumukmas ke Lumajang cukup Rp15 ribu. Jika tembus Surabaya, maksimal Rp60 ribu. Mengejutkan bukan? Kru menempel poster tarif tersebut di kaca bagian dalam bus. Jadi, tidak ada efek kejut tebak-tebakan dalam hati
Kamu tinggal mengamati saat kondektur mencoret kota tujuan di atas kertas karcis, menyodorkan ke kita sambil menyebut tarif. Semua transparan.
Karena terlalu sering naik, relasi saya dengan bus Bagong berubah. Saya merasa harus menyebarkan kenyamanan yang tiada tara ini. Di kampus, saya jadi Panglima Bagong. Saya anjurkan bagi mahasiswa yang punya trayek sama, yang sedang wara-wiri ke Surabaya, dosen honorer, dosen lintas kabupaten, relasi, teman sejawat, handai taulan, jastipers, semua terbantu.
Baca juga: Bus Bagong, Bus Ekonomi Murah Rasa Jet Tempur
Kenyamanan yang utama
Saat ini, bus Bagong Ambulu-Surabaya sudah memiliki 10 armada. Jadwal paling pagi di pukul 03:15. Kalau dari Ambulu ke Surabaya, ada di pukul 07:55.
Bus ini memang tidak lahir dari rute utama. Ia jawaban doa-doa penumpang yang tiba-tiba mengingat Tuhan ketika lewat jalur ini, tepat 10 atau 20 tahun lalu.
Dan di situlah, bus Bagong yang gemoy ini seakan-akan datang untuk menjawab keresahan nurani rakyat. Ia menunjukkan sesuatu yang sering hilang dari transportasi publik kita.
Apa itu? Keseriusan untuk menyediakan pelayanan transportasi publik bagi orang-orang yang benar-benar bergantung padanya. Kalau sudah nyaman pakai transportasi umum, apalagi terjangkau, mobilitas tidak akan jadi beban. Mudah-mudahan ini menciptakan efek baik: orang lebih produktif, perjalanan lebih terencana, dan hidup tidak habis di jalan.
Jadi, katakan tidak untuk bus ngetem dan selamat tinggal era nungguin bus tidak jelas, karena semua bisa dikomunikasikan. Setidaknya, di jalur Ambulu. Sudah siap lihat status lucu WA para kru bus Bagong?
Penulis: Alhimni Fahma
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
