Bulan Ramadan Adalah Saat Pisang Ijo Menguasai Segala Jenis Takjil di Wakatobi. #TakjilanTerminal01

Bulan Ramadan Adalah Saat Pisang Ijo Menguasai Segala Jenis Takjil di Wakatobi. #TakjilanTerminal01 terminal mojok.co

Bulan Ramadan Adalah Saat Pisang Ijo Menguasai Segala Jenis Takjil di Wakatobi. #TakjilanTerminal01 terminal mojok.co

Di kampung saya, Anda bisa menemukan pisang ijo di segala penjuru sebagai menu takjil andalan!

Bulan puasa selalu memanjakan lidah. Ada semacam hal yang menurut banyak orang sebaiknya hanya terjadi saat bulan puasa. Sebut saja itu saat-saat ketika datang waktu sahur atau berbuka. Kondisi ketika semua orang menjadi sangat ahli tentang makanan, sangat ahli tentang segala hal yang perlu dan tidak perlu masuk ke dalam perut.

Tentang cerita makanan dan bulan puasa ini pula yang membuat saya kadang berpikir, apa enaknya jika di suatu tempat tertentu di sudut bumi, makanan dikuasai oleh hanya satu varian. Orang akan bilang inilah proses kapitalisasi sesungguhnya. Ya, ini terjadi saat satu hal menjadi sangat besar untuk hal lainnya. Walau banyak orang bilang ini tidak seharusnya diadopsi oleh muslim, tapi hal ini terjadi. Anehnya, proses kapitalisasi ini terjadi saat bulan puasa macam yang terjadi sekarang ini.

Begini, mari saya sedikit cerita tentang suatu hal yang saya sebut sebagai kapitalisasi ini terjadi di kampung saya, di bulan Ramadan seperti sekarang ini.

Seperti halnya di pulau Jawa atau pulau besar lainnya di Indonesia yang mengenal takjil sebagai makanan untuk berbuka puasa. Di Wakatobi, wabil khusus di kampung saya di pelosok Wakatobi mengenal pisang ijo sebagai makanan khas untuk berbuka puasa. Saking terkenalnya makanan ini, telah jadi tren populer sejak makanan ini dikenal orang-orang di kampung saya sebagai hidangan khas untuk takjil pada awal tahun 2000-an.

Bicara rasa, saya akan bilang bahwa beberapa pedagang pisang ijo di kampung saya harus disetarakan dengan Remy, si tikus di film Ratatouille. Mereka mampu membuat hidangan yang membangkitkan ingatan masa kecil saya ketika pertama kali menikmati hidangan pisang ijo sebagai takjil. Saat-saat ketika saya masih umur sekolah dasar. Ya, seperti itulah kira-kira beberapa hidangan ini begitu berkesan untuk saya.

Namun, seperti yang telah saya jelaskan di atas, pisang ijo di waktu-waktu puasa seperti sekarang ini bisa kita sejajarkan seperti halnya tren batu bacan atau fidget spinner beberapa waktu lalu. Atau tren-tren lain yang berkembang pada satu satuan waktu saja.

Ketika waktu puasa seperti saat ini, di kampung saya, Anda akan menemukan pedagang pisang ijo segampang Anda menemukan pasir di gurun. Semua orang yang berjualan makanan untuk berbuka puasa adalah pisang ijo. Bahkan orang yang tidak tahu cara membuat pisang ijo di saat bulan biasa seperti mendadak menjadi chef khusus pisang ijo saat bulan Ramadan tiba. Semua menjadi sangat ahli untuk makanan satu ini.

Namun, tidak hanya sampai di situ. Jika ada yang sangat ahli dalam satu hal, terutama makanan, kita tidak bisa melupakan hal lainnya sebagai counternya. Pengkritik makanan, dalam hal ini pengkritik rasa pisang ijo, layaknya Anton Ego dalam film Ratatouille. Selalu akan muncul orang-orang dengan cara-cara khusus untuk menilai makanan ini dari hampir semua bakul yang berjualan pisang ijo di kampung saya. Literally, hampir semuanya.

Mereka, entah dibayar atau memang sekadar pengin, entah buzzer atau memang penikmat pisang ijo sejati, adalah orang yang rela me-review bakul-bakul makanan ini di banyak penjuru. Mulai dari rasa, jenis, bahkan sampai hal detail macam ada atau tidaknya pisang ambon atau bubuk kacang dalam satu sajian takjil makanan ini.

Dan uniknya, mereka ini semacam mendapatkan legitimasi bahwa apa yang mereka utarakan sebagai hasil review pisang ijo adalah bentuk kebenaran mutlak. Entah karena orang-orang percaya mereka punya keahlian berkomentar tentang rasa makanan ini atau tidak. Pokoknya mereka yang me-review dan berkomentar soal pisang ijo akan selalu punya audiens yang mempercayai hasil review mereka.

Pada akhirnya, saya kadang berpikir bahwa Ramadan di kampung saya adalah tentang takjil pisang ijo, baik keberadaannya, para komentatornya, atau justru saya yang selalu merindukan rasa terbaik yang mampu membangkitkan ingatan masa kecil ketika puasa sehari penuh jadi hal paling berat dalam hidup. Marhaban ya Ramadan, selamat menjalankan ibadah puasa.

Sumber Gambar: YouTube Mama Ezy

*Takjilan Terminal adalah segmen khusus yang mengulas serba-serbi Ramadan dan dibagikan dalam edisi khusus bulan Ramadan 2021.

BACA JUGA Pabukon: Spot Cari Takjil Paling Banyak Diserbu Anak Unpad dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version