Informasi
ADVERTISEMENT

Pengalaman saya hidup sebagai buddhis di Indonesia, lelah menjelaskan penganut Buddha bukanlah penyembah patung

Pengalaman saya hidup sebagai buddhis di Indonesia, lelah menjelaskan penganut Buddha bukanlah penyembah patung Mojok.co

Saya seorang buddhis. Sebagai penganut agama Buddha yang hidup di Indonesia, ada banyak sekali pengalaman atau cerita unik yang bisa dibagikan. Sebagai penganut agama yang minoritas, jumlahnya tidak sampai 1 persen dibanding pemeluk agama lain di negeri ini, banyak orang kurang memahami agama Buddha dan ritual atau kebiasaanya. 

Ketidakpahaman ini yang kemudian mendorong orang-orang menanyakan hal-hal lucu. Salah satu pertanyaan yang sering saya terima adalah “kalian menyembah patung ya?”. Entah mengapa, selama 20 tahun saya hidup, pertanyaan itu berkali-kali saya terima. Awalnya sih baik-baik saja, lama-lama bosan dan lelah juga.  

Walau sudah berkali-kali mendapat pertanyaan itu, saya selalu aja bingung bagaimana cara yang tepat untuk menjawabnya agar orang-orang tidak salah paham. Mau dijawab secara apanjang lebar, takut dianggap sesi ceramah. Mau saya jawab pendek, takut dikira ketus. 

Pengalaman berkali-kali mendapat pertanyaan itu mendorong saya untuk menuliskannya. Jadi, buat kalian yang membaca tulisan ini karena mengira saya akan berbagai soal tutorial menyembah patung, siap-siaplah kecewa. Sebab, saya sebagai buddhis pun sebenarnya tidak menyembah patung. Dan, patung Buddha juga tidak pernah dimaksudkan untuk disembah.  

Tidak, buddhis tidak menyembah patung Buddha

Memang, buddhis datang ke vihara sambil membawa dupa, bunga, kemudian bersikap hormat dan bersujud di depan rupang Buddha. Potongan kebiasaan ini mungkin yang kemudian ditangkap banyak orang bahwa buddhis menyembah patung Buddha.  

Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Bersujud tidak melulu dapat diartikan menyembah. Kami bersujud di depan patung, tapi itu sebagai tindakan penghormatan yang dalam.

Dalam tradisi buddhisme, penghormatan tersebut adalah bentuk penghargaan kepada Buddha Gautama sebagai guru dan teladan. Tentunya, bukan karena patungnya dianggap sebagai Tuhan. Lebih lanjut, Buddha dan ajarannya memiliki tempat penting dalam kehidupan umat Buddha. 

Lalu, buat apa ada patung? 

Mungkin pertanyaan ini kemudian terlintas di kepala kalian. Kalau rupang Buddha bukan Tuhan, lalu kenapa harus ada? Apakah umat Buddha membutuhkan patung untuk membuat Buddha hadir?

Tentu saja tidak, Buddha telah meninggal atau kami umat Buddha lebih akrab menggunakan istilah parinibbana sejak lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Selayaknya manusia yang telah meninggal, tentu tidak bisa hadir kembali ke dunia ini. Fungsi rupang sebenarnya adalah menjadi simbol dan objek pengingat.

Ketika melihat rupang Buddha, umat dapat mengingat Buddha dan kualitas-kualitas yang beliau teladankan. Bukan patungnya yang menjadi tujuan akhir, melainkan apa yang diwakilinya. Sederhananya, rupang sebagai objek untuk membantu mengingat. Dan tentu saja bukan untuk dimintai tolong. 

Kalau boleh jujur, saya kadang membayangkan betapa repotnya kalau rupang Buddha benar-benar bisa mengabulkan semua permintaan manusia setiap datang ke vihara. Kalau semua-semuanya bisa dikabulkan, vihara jadi pusat layanan pengaduan kehidupan. 

Ya kalau Buddha bisa mengabulkan semua permintaan, saya sudah minta IPK tinggi. Ya untungnya tidak begitu. Buddha tidak pernah mengajarkan untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada sebuah sosok lalu berharap semua persoalan selesai secara ajaib. Ada Dhamma yang perlu dipelajari, praktik yang perlu dijalankan, dan sikap yang perlu dilatih.

Jadi, apa yang sebenarnya dilakukan di depan rupang? 

Jawaban paling sederhananya adalah menghormati dan mengingat. Menghormati Buddha sebagai guru, mengingat Dhamma sebagai ajaran, dan mengingatkan kepada diri sendiri bahwa apa yang diajarkan tidak berhenti di dalam vihara.

Bunga yang diletakkan di depan rupang tentu saja bukan berarti bunga itu sedang diberikan kepada Buddha untuk kemudian dibawa pulang seperti buah tangan. Bunga bermakna menjadi pengingat tentang ketidakkekalan dalam hidup. 

Hari ini indah, besok bisa layu. Lilin dapat menjadi simbol penerangan. Serta dupa juga bukan alat untuk mengirim pesan seperti WhatsApp ke alam lain. Melainkan bermakna harumnya dupa adalah harumnya perbuatan baik. Hal ini tentu saja bisa memberikan dorongan motivasi untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Semua memiliki konteks dalam praktik dan simbolisme buddhis. Dan, tentu saja, tidak semua umat Buddha menjalankan praktik dengan bentuk yang persis sama. Buddhisme sendiri memiliki tradisi dan kebudayaan yang beragam. Namun, tentu saja kita tidak akan mengulas terkait tradisi lebih lanjut lagi.

Jujur meskipun sedikit kesal, saya tidak menyalahkan orang yang pernah mengira umat Buddha menyembah patung. Saya juga pernah melihat praktik agama lain dari luar dan tidak langsung memahami maknanya. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika ketidaktahuan berhenti bukan menjadi pertanyaan melainkan berubah menjadi kesimpulan. 

Penulis: Tetes Galih Satriyo
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Andai Candi Borobudur Bisa Bicara, Barangkali Ia Akan Bilang, “Aku Lahir di Magelang!”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2026 oleh .

Tetes Galih Satriyo

Kontributor aktif media opini dan satir.