Kalau kamu pernah melintasi Tol Trans Jawa dari Jakarta menuju Semarang atau Surabaya, kemungkinan besar kamu sudah pernah “melewati” Brebes. Iya, cuma lewat, tidak beli apa-apa, tidak menyumbang kontribusi untuk perputaran ekonomi kabupaten tersebut, yang notabene kabupaten termiskin di Jawa Tengah.
Saya rasa, nasib Brebes begitu miris. Posisinya sangat strategis, dilalui Tol Trans Jawa, dilalui jalur Pantura yang legendaris, dan punya lahan pertanian yang sangat luas. Secara logika awam, harusnya daerah ini makmur. Atau setidaknya, tidak miskin-miskin amat.
Tapi kalau kamu buka data BPS tahun 2025, Brebes justru nangkring di posisi pertama sebagai kabupaten termiskin di Jawa Tengah, dengan 14,45 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Angka itu setara dengan 257,29 ribu jiwa yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar setiap harinya.
Jadi, tol itu sesungguhnya buat siapa?
Mobilnya lewat, uangnya ikut pergi
Untuk memahami ironi ini, kita perlu mundur dulu ke masa sebelum tol ada. Jalur Pantura Brebes dulu bukan sekadar jalan biasa, ia adalah nadi ekonomi rakyat kecil. Pemudik antre panjang, macet berjam-jam, dan sambil menunggu kemacetan itu mereka turun dari mobil, jalan-jalan, dan belanja. Mereka beli telur asin khas Brebes, bawang goreng, oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Ekonomi berputar di warung-warung pinggir jalan, di lapak kecil yang buka sejak subuh dan tutup menjelang tengah malam.
Kemacetan yang selama ini dianggap masalah, ternyata adalah sumber penghidupan.
Setelah tol beroperasi penuh, ceritanya berubah total. Salah satu pedagang telur asin bernama Nanda, yang sudah berjualan sekitar 30 tahun di kawasan Pantura, bercerita bahwa kawasan jualannya sekarang jauh lebih lengang dibanding sebelum ada tol. Dulu dari ujung ke ujung semua orang jualan telur asin. Sekarang tinggal empat kios yang masih bertahan. Omzetnya pun anjlok drastis dari ribuan butir sehari menjadi sekitar seratus butir saja. Rata-rata volume penjualan telur asin di Brebes turun dari sekitar 9.000 butir menjadi 3.000 butir per hari setelah tol beroperasi.
Tol tidak mematikan ekonomi secara langsung dan dramatis. Tapi ia memindahkan aliran uang ke tempat lain ke rest area yang dikelola perusahaan besar, ke kota-kota yang lebih siap menyambut investasi, ke kawasan industri yang justru tumbuh pesat di Batang dan Kendal, bukan di Brebes. Uang itu lewat di atas tanah Brebes setiap hari, tapi tidak pernah benar-benar jatuh ke sana.
BACA JUGA: Saudara Ngapak Beda Nasib: Tegal Mutlak Lebih Maju daripada Brebes
Infrastruktur bukan jaminan otomatis
Ada asumsi yang terlalu sering kita telan mentah-mentah, kalau infrastrukturnya bagus ekonomi daerah pasti ikut naik. Pemerintah sering pakai logika ini untuk membenarkan proyek-proyek besar. Dan memang, secara makro, tol terbukti efisien, biaya logistik turun, waktu tempuh berkurang, arus barang dan manusia jadi lebih lancar.
Tapi pertanyaannya bukan apakah tol bermanfaat. Pertanyaannya adalah bermanfaat untuk siapa, dan apakah manfaat itu sampai ke lapisan paling bawah?
Pengusaha besar yang punya modal untuk buka gerai di rest area jelas diuntungkan. Produsen skala industri yang bisa ekspansi lebih cepat karena distribusi makin efisien, juga diuntungkan. Kota-kota besar yang makin mudah dijangkau, makin banyak investasi masuk, juga diuntungkan. Sementara pedagang kecil di Pantura yang selama ini hidupnya bergantung pada kendaraan yang mampir mereka kehilangan pelanggan tanpa punya rencana cadangan, tanpa modal untuk pindah ke ekosistem baru.
Brebes juga daerah yang sebagian besar warganya bergantung pada sektor pertanian, khususnya bawang merah. Brebes adalah salah satu lumbung bawang merah nasional, tapi jangan bayangkan petaninya sejahtera. Tol tidak serta-merta membantu petani bawang menjual dengan harga lebih baik atau mendapat akses pasar yang lebih adil. Rantai distribusi tetap panjang, tengkulak tetap berkuasa di simpul-simpul penting, dan petani tetap berada di posisi paling lemah dalam rantai itu.
Brebes bukan korban tol, tapi korban kebijakan yang setengah-setengah
Yang penting digarisbawahi di sini bukan salah tolnya. Infrastruktur tidak bisa bekerja sendirian, dan tidak adil menuding jalan tol sebagai penyebab kemiskinan Brebes. Kemiskinan Brebes jauh lebih tua dari tol itu sendiri.
Masalahnya adalah kebijakan yang setengah-setengah. Tol dibangun, pita digunting, foto dirilis ke media, dan selesai. Tapi ekosistem pendukung yang seharusnya menyertai pembangunan infrastruktur itu, kawasan industri yang menyerap tenaga kerja lokal, program pemberdayaan UMKM yang serius, perbaikan rantai pasok pertanian yang memihak petani kecil entah ke mana. Yang tumbuh justru kawasan industri di Batang dan Kendal, dua daerah yang secara geografis dan politis lebih seksi buat investor.
Brebes butuh lebih dari sekadar jalan tol lewat di pinggir desanya. Butuh komitmen nyata bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditopang infrastruktur itu benar-benar nyampe ke warung, ke sawah, ke dapur rumah tangga yang paling bawah. Selama itu belum ada, mobil-mobil itu akan terus melaju kencang di atas tanah Brebes dan warga Brebes akan terus menontonnya dari pinggir jalan sambil bertanya-tanya kapan giliran mereka.
Yang paling menyedihkan bukan karena Brebes tidak punya potensi. Justru sebaliknya bawang merahnya terkenal sampai ke mana-mana, posisinya persis di jalur ekonomi utama Jawa, jumlah penduduknya besar, dan tanahnya subur. Semua modal dasar itu ada.
Tapi entah kenapa, setiap kali ada proyek besar lewat, Brebes cuma dapat jalannya saja, sementara yang lain dapat pertumbuhannya.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Melihat Kemiskinan Ekstrem Brebes dari Sudut yang Lain
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
