Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Boikot UGM Itu Hak Semua Orang, tapi Jangan Lupa Kalau Keterima UGM itu Nggak (Pernah) Gampang  

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
19 Juni 2026
A A
S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari Kampus Sendiri Mojok

S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari Kampus Sendiri (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari ini, jagat media sosial sedang panas-panasnya dengan seruan boikot terhadap Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemicunya? Aksi demonstrasi mahasiswa yang kemarin sempat menggeruduk acara diskusi pejabat pemerintah. Padahal, kalau mau jujur, reaksi tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan atas berbagai kebijakan nasional yang belakangan memang terasa merugikan rakyat.

Menariknya, di tengah keriuhan ajakan boikot yang sangat politis itu, banyak alumni dan warganet justru menanggapinya dengan tawa skeptis. Bagi mereka, seruan memboikot UGM terdengar seperti lelucon yang kurang riset. Sebagai salah seorang lulusannya, saya pun sepakat.

Pasalnya, menembus seleksi masuk UGM itu bukan perkara gampang yang bisa diterobos semua orang. Nggak perlu angkuh memboikot pun, seseorang belum tentu bisa tersaring jadi mahasiswa di sana. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang sok-sokan bilang boikot UGM, tentu kedengarannya sangat nggak masuk akal. Apalagi kalau melihat proses panjang dan standar akademis ketat yang sudah teruji puluhan tahun di sana.

Mengaitkan kualitas pendidikan dengan drama politik sesaat? Ya, jelas logika sesat.

Seni bertahan hidup di UGM itu adalah dengan menjadi pembelajar mandiri yang ekstrem

Kalau ada orang bilang kuliah itu cuma soal datang dan mendengar penjelasan dosen, artinya dia belum pernah menjejakkan kaki di ruang kelas kampus UGM. Soalnya, dosen cenderung menganggap mahasiswa sudah selesai dengan literasi dasar sebelum masuk kelas. Ruang kelas bukanlah tempat untuk mencatat ocehan dosen, melainkan wadah bertukar pikiran.

Jangan harap bakal disuapi teori, apalagi disodori ringkasan materi. Justru, mahasiswa dituntut buat lihai membedah artikel jurnal dan menyusun argumen yang berbobot. Singkatnya, kemandirian belajar bukan lagi sekadar pilihan, tapi harga mati. Jangan pernah nekat masuk kelas kalau pisau analisis belum diasah. Sebab, itu sama artinya dengan menggadaikan jiwa.

Secara kognitif, lingkungan UGM memang menuntut fleksibilitas mental tingkat dewa. Buat mereka yang terbiasa diberi instruksi kaku atau selalu menggantungkan diri pada arahan dosen, bersiaplah mengalami culture shock akademis. Kalau kapasitas belajar mandiri belum matang, rasa cemas saat kuliah bakal jadi makanan sehari-hari. Ujung-ujungnya, peluang mengulang mata kuliah di semester depan pun terbuka lebar.

BACA JUGA: Sulitnya Tempuh Kuliah di UGM Berujung Gagal Angkat Toga, Malah Jadi Aib dan Bikin Malu Keluarga

Baca Juga:

Rute kucing UGM, spot lari Jogja yang kalcer dan ramah untuk pelari pemula

3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya

Bukan cuma soal IPK, ruang kelas UGM menuntut adaptasi budaya dan sosial mahasiswa

Apa yang orang sebut dengan budaya Jogja, nyatanya terjadi juga di setiap ruang perkuliahan kampus UGM. Katanya, Jogja itu kota yang tenang dan punya vibes lambat. Di sisi lain, Jogja dikenal pula sebagai kota ambisius kalau sudah urusan persaingan intelektual. Nah, UGM adalah refleksi mini dari Kota Pelajar ini.

Kuliah di UGM bukan cuma perkara mengejar nilai di atas kertas. Mahasiswa dituntut punya pemikiran yang kritis, tapi harus tetap membumi saat menyampaikannya. Kedengarannya memang kontradiktif.  Tapi, begitulah budaya Jawa-sentris yang kental di sini. Menjadi mahasiswa itu kudu sopan, tapi argumennya tetap harus tajam menyayat.

Tipe mahasiswa yang kaku dan nggak punya kelenturan sosial untuk menyeimbangkan etika pergaulan dengan logika yang kritis, siap-siap saja tergilas. Menavigasi ekosistem akademis UGM itu memang butuh keahlian khusus. Mahasiswa harus pintar membaca situasi agar tetap bisa bertahan di tengah lingkungan yang alon-alon kelakon tapi juga ambisius nggak ketulungan.

Risiko impostor syndrome, musuh senyap yang paling mematikan

Ada penyakit klasik yang rawan menjangkiti mahasiswa UGM sejak masa orientasi. Perasaan hanya beruntung bisa masuk UGM dan nggak layak berkuliah di sini, kerap kali menghantui. Wajar saja, masuk UGM ibarat memanggul ekspektasi sebagai agen perubahan, bukan sekadar cari ijazah buat melamar kerja.

Masalahnya, kampus ini adalah magnet bagi individu-individu cemerlang dari seluruh penjuru negeri. Beban mentalnya? Jangan ditanya, bisa bikin sesak kalau nggak pandai mengelola.

Di UGM, usaha setengah hati nggak akan membuat seseorang bersinar. Banyak mahasiswa yang di SMA mereka dulu selalu jadi juara, begitu masuk UGM terlihat medioker saja. Yang lebih parah, beberapa malah langsung kena mental karena mendapati teman-teman seangkatannya jauh lebih jago dan berprestasi.

Lingkungan yang kompetitif ini memang memacu adrenalin dan bisa jadi motivasi. Tapi sisi gelapnya, timbul krisis identitas yang berpotensi membuat minder. Percayalah, fenomena merasa nggak kompeten ini tumbuh subur di setiap sudut kampus. Makanya, punya kematangan emosional dan self-esteem yang baja itu wajib hukumnya biar nggak terserang depresi.

Sejatinya, publik sah-sah saja nggak sepakat dengan sikap politik mahasiswa UGM. Namun, seruan boikot terhadap kualitas akademik sebuah institusi pendidikan adalah langkah yang terburu-buru dan justru kontraproduktif. Mungkin, ini harusnya jadi kesempatan masyarakat untuk belajar memisahkan dinamika politik yang bersifat sementara dengan esensi pendidikan yang semestinya tetap terjaga.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Gagal Kuliah di UGM, dan setelah 13 Tahun, Penyesalan Tersebut Tetap Ada

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2026 oleh

Tags: kampus UGMkualitas UGMkuliah di ugmUGM
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

UGM Punya FIB yang Tidak Disukai, tapi Kuliahnya Santai (Unsplash)

Testimoni Seorang Alumni UGM tentang Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas yang Tidak Disukai

13 Mei 2024
Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja Mojok.co

Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja

22 Februari 2026
Pusing Mikir Tesis, Guru Besar UGM Malah Bahas Masuk Angin (Unsplash)

Saya Nggak Pernah Kepikiran Masuk Angin Bisa Dibahas Serius di Pidato Guru Besar UGM, Padahal Saya Udah Pusing Setengah Mati Nyari Topik Tesis yang Dianggap Ilmiah

14 Juni 2025
5 Rekomendasi Tempat Makan Murah Sekitar UGM dan UNY Jokowi

UGM Justru Goblok kalau Menanggapi Orang Nggak Jelas Lewat Konferensi Pers

11 Oktober 2022
Benarkah Mahasiswa UNY Adalah (Calon) Mahasiswa yang Terbuang dari UGM? Iya, tapi Nggak Juga Jogja kuliah di UGM warung makan sekitar UGM seleksi masuk ugm jurusan s1 UGM

Gagal Seleksi Masuk UGM Nggak Bikin Dunia Kalian Berakhir dan Hidup Kalian Akan Tetap Baik-baik Saja

7 Mei 2025
Benarkah Mahasiswa UNY Adalah (Calon) Mahasiswa yang Terbuang dari UGM? Iya, tapi Nggak Juga Jogja kuliah di UGM warung makan sekitar UGM seleksi masuk ugm jurusan s1 UGM

Saya Gagal Kuliah di UGM, dan setelah 13 Tahun, Penyesalan Tersebut Tetap Ada

14 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya Mojok.co

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

30 Juli 2026
Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Saya akhirnya mengakui keunggulan Indomaret karena 3 barang ini

28 Juli 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026
Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos Mojok.co

Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos

28 Juli 2026
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.