ADVERTISEMENT

Berusaha menikmati kuliah di Sastra Indonesia, walau termasuk jurusan nomor dua paling susah dapat kerja

Berusaha menikmati kuliah di Sastra Indonesia, walau termasuk jurusan nomor dua paling susah dapat kerja

Awalnya, alasan saya mengambil jurusan Sastra Indonesia itu sangat sederhana. Saya kagum melihat seorang jurnalis stasiun TV yang kebetulan lulusan sastra. Batin saya saat itu, “Wah, saya pengin jadi kayak mbak-mbak itu.” Tanpa babibu memikirkan prospek kerja, ditambah orang tua yang saking membebaskannya sampai bikin anaknya sering hilang arah, saya mantap mendaftar.

Secara sadar tanpa pengaruh alkohol, saya nyemplung ke jurusan yang masuk daftar jurusan paling susah dapat kerja ini. Di kampus swasta pula. Paket komplit.

ADVERTISEMENT

Gelembung ekspektasi saya mulai goyah ketika suatu hari ada kating Ilmu Komunikasi bertanya, “Nanti lulus mau jadi apa?” Waktu saya mantap menjawab ingin jadi jurnalis, dia menimpali “Kenapa nggak ambil Ilkom aja?” Di situ saya kicep. Bingung mau jawab apa. Alasan aslinya sih karena saya merasa Ilkom nggak cocok, saya ini introvert dan maunya kerja di balik layar saja. Walau kalau dipikir-pikir lagi, cita-citanya jurnalis TV tapi maunya di balik layar itu agak ndak nyambung. Tapi ya sudahlah, namanya juga maba.

Makin lama, makin banyak pertanyaan serupa yang mampir ke telinga. Bukannya malu—in this economy masih bisa kuliah saja saya sudah sangat bersyukur—tapi kadang kikuk dan capek saja merangkai jawaban template untuk pertanyaan yang itu-itu mulu. Namun, memasuki semester tua, saya akhirnya sampai pada fase nrimo ing pandum. Saya mulai sadar, bisa kuliah murni seperti Sastra Indonesia karena kemauan sendiri itu ternyata sebuah privilege. Coba lihat di luar sana, banyak mahasiswa yang tertekan karena kuliah atas paksaan orang tua atau sekadar memburu prospek kerja yang nyatanya juga belum pasti.

Saya orangnya YOLO. Kapan lagi bisa santai menikmati ilmu murni di tengah sempitnya lapangan pekerjaan? Lha wong anak teknik dan manajemen saja sekarang ikut pusing cari kerja, apalagi kita yang cuma modal merangkai kata. Jadi, buat kalian sesama mahasiswa sastra yang sudah terlanjur basah dan telat sadarnya kayak saya, tenang saja. Ini beberapa cara biar kita tetap enjoy menikmati perkuliahan dan nggak anxious memikirkan masa depan.

Menyalahkan pemerintah

Cara paling mudah untuk tenang sebagai mahasiswa Sastra Indonesia adalah berpikir bahwa ini semua salah pemerintah. Dan ya emang salah mereka, sih. Lapangan pekerjaan itu harusnya memadai untuk semua jurusan. Sekarang kondisinya loker sudah dikit, syaratnya ngadi-ngadi: butuh pengalaman minimal 5 tahun untuk posisi fresh graduate, dengan tawaran gaji yang buat beli bensin dan bayar kos saja sudah megap-megap.

Saya selalu menanamkan mindset ini, karena kalau pemerintah kerjanya bener, mau kuliah jurusan apa pun kita nggak bakal se-ngeresah ini. Kita nggak perlu mati-matian milih jurusan cuma demi survive dari biaya hidup yang makin mencekik.

Menyadari bahwa kuliah sesuai passion adalah sebuah privilege

Walau kadang pusing dan di malam-malam tertentu merasa menyesal, setidaknya ini pilihan kita sendiri, bukan hasil paksaan orang tua. Banyak teman di jurusan “prospek cerah” yang akhirnya tidak live their best life karena merasa terjebak di jurusan yang tidak mereka inginkan.

Kalaupun kamu terdampar di Sastra Indonesia karena paksaan, tenang, jurusan ini masih sangat mudah dan asik kayaknya untuk dijalani. Kita “hanya” membedah ilmu bahasa yang sejatinya sudah kita pakai sejak kecil. Setidaknya, kita nggak perlu begadang sampai tipes bikin laprak setebal dosa kayak anak teknik.

Meyakinkan diri sendiri bahwa cakupan Sastra itu luas

Sebagai alat komunikasi utama manusia, bahasa itu penting di segala lini kehidupan. Saya sendiri mengambil fokus linguistik, jadi yang dipelajari lumayan terdengar keren: sosiolinguistik, psikolinguistik, sampai linguistik forensik. Pada dasarnya, ilmu humaniora itu sangat fleksibel dan bisa masuk ke mana saja. Kita diajarkan merespons dunia dari banyak sudut pandang (meski pas interview kerja kadang HRD cuma peduli kita bisa pakai VLOOKUP Excel atau nggak).

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Sastra Indonesia bisa menikmati superiority complex sebagai Grammar Police

Kuliah di sastra mengasah insting kita untuk peka terhadap kesalahan penulisan di sekitar kita. Kita punya semacam lisensi tak kasat mata untuk menjadi Grammar Police bahasa Indonesia. Jujur saja, ada rasa bangga dan superior tersendiri saat diam-diam menghakimi tata bahasa berantakan atau bedanya penggunaan “di” yang dipisah dan digabung. Tidak bikin kaya sih, tapi lumayan untuk menjaga harga diri di circle.

Sastra Indonesia atatu bukan, akan CPNS pada waktunya

Mau adu gengsi jurusan sedahsyat apa pun, pekerjaan paling menjanjikan dan direstui mertua di negara yang kurang menghargai ilmu murni ini pada akhirnya bermuara di satu titik: PNS. Silakan saja statistik atau artikel mengklaim jurusan tertentu sebagai yang paling gampang cari kerja. Nanti di akhir cerita, kamu akan melihat lulusan dari jurusan-jurusan lain duduk di depan komputer CAT BKN untuk mendaftar seleksi CPNS di kementerian atau instansi yang sama.

Pada akhirnya, kuliah di jurusan Sastra Indonesia itu memang butuh mental baja dan tingkat kepasrahan yang tinggi. Masuk daftar jurusan paling susah dapat kerja? Ya sudah, mau bagaimana lagi. Toh, nilai sejati dari belajar sastra adalah memanusiakan manusia. Dan kalau realitas dunia kerja ternyata belum bisa memperlakukan kita selayaknya manusia… ya sudahlah, mari kita siapkan KTP dan swafoto terbaik untuk portal SSCASN tahun depan.

Penulis: Naira Maheswari Pradipta Pahlevy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sarjana Sastra Indonesia Hanya Menjadi Beban Keluarga dan Pengangguran yang Puitis dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2026 oleh .

Naira Maheswari Pradipta Pahlevy

Mahasiswa semester 5 Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan. Menyukai isu-isu politik, gender, dan mendukung hak-hak minoritas.