Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Berhenti Berpikir Bahwa Semua Barang Bekas Bisa Disulap Menjadi Karya Menakjubkan Seperti Video DIY Di YouTube

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
1 Agustus 2019
A A
barang bekas

barang bekas

Share on FacebookShare on Twitter

Kerap kali saya kadang dibuat terkagum-kagum oleh daya kreatifitas dalam pengolahan barang bekas video DIY yang saya tonton di YouTube. Barang-barang yang tadinya dianggap tak berguna, bisa dengan mahirnya diubah menjadi sesuatu yang begitu memukau dan memiliki nilai estetika yang tinggi.

Proses yang diajarkan dalam video tersebut juga relatif sangat mudah dan sederhana. Sehingga orang-orang yang menonton video tersebut seolah terhipnotis untuk ikut-ikutan mempraktikan adegan tersebut. Kalau sudah gini, mereka mulai akan mengumpulkan barang-barang bekas yang mungkin bisa diolah kembali.

Kata DIY sendiri merupakan singkatan dari Do It Yourself. Secara garis besar ini merupakan sebuah metode untuk merakit, memperbaiki, atau memodifikasi sesuatu secara mandiri tanpa bantuan ahli. Walaupun saya yakin, para pembuat video ini sebenarnya tak mungkin seorang amatiran atau pemula. Dari cara kerjanya yang cekatan dan ide kreatifitasnya menunjukan bahwa mereka mahir dan sangat mengusai dalam bidang tersebut.

Alat-alat yang digunakan untuk pratik tersebut rata-rata juga merupakan peralatan bermerk dan memiliki kualitas yang bagus. Sehingga peralatan tersebut cukup menunjang kinerja dari adegan di videonya. Ya kali, masak mau motong kayu pakai gergaji murahan. Bisa-bisa durasi lima jam cuma selesai buat motong kayu lima biji aja. Hukum kinerja barang kan suka gitu, ada harga ada kualitas. Kalau mau harga murah jangan tanya kualitas, sedangkan kalau mau kualitas jangan tanya harga.

Suatu hari saya pernah melihat video tutorial mengolah celana jeans bekas. Dalam video tersebut saya melihat bagaimana jelana jeans tersebut diolah menjadi sebuah tas. Sebenarnya kalau saya ini teliti, dari awal mula bahan bakunya saja, harusnya saya itu curiga. Maksud saya tentang celana jeans bekas yang akan saya gunakan itu. Berhubung ini barang bekas, tentu jeans miliki saya warnanya sudah pudar dan agak kusam, sedangkan ya setelah beberapa tahun kemudian saya baru sadar ternyata celana jeans yang digunakan si orang ini kok nggak kusan dan mbeladus kayak punya saya. Hmm… Jangan-jangan dia pakai celana baru kayaknya.

Untuk membuat tas tersebut, saya harus menyiapkan peralatannya terlebih dahulu. Berhubung saya gak punya mesin jahit, maka merengeklah saya minta dibeliin mesin jahit. Setelah beli mesin jahit, saya juga butuh gunting yang tajam. Dikarenakan gunting saya gak tajam, berarti saya harus beli gunting. Setelah itu saya juga harus membeli resleting dan aksesorisnya.

Masalah belum berakhir sampai di sini, karena sejujurnya saya ini kurang mahir dalam urusan jahit- menjahit tapi sok-sokan mau menjahit. Jadi, hasil jahitan saya itu miring-miring gak jelas. Motong celananya juga gak rapi. Duh, setelah lihat hasil karyanya, langsung saya buang di tong sampah. Proses panjang saya itu ternyata cuma sekadar mengolah sampah menjadi sampah doang.
Tahu gitu daripada beli mesin jahit dan lain-lain, mending saya beli tas Elizabeth aja kan yah. Huhuh~

Begitu juga dengan uji coba saya lainnya. Misal, mau memodifikasi tempat cat tembok bekas. Saya juga harus modal cat warna untuk melukis tempat cat tersebut. Cat yang dibutuhkan gak cukup satu doang lagi, saya butuh beberapa warna. Belum lagi sama kuasnya. Kalau ditotal pembelian cat dan lain-lain, saya kira sudah bisa buat beli pot bunga keramik dua.

Baca Juga:

Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan

Hal Unik yang Hanya Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk di Jogja, Pasti Bikin Kalian Geleng-geleng

Jadi, bisa dibilang, cara mendaur ulang sampah ini kalau ditelaah lebih dalam mungkin kita bisa mengeluarkan biaya yang lumayan banyak tanpa disadari. Bahan dasarnya sih emang sepele mungkin, tapi lain-lainnya itu loh yang gak boleh kita sepelein begitu saja. Niat hati mau hemat dengan memanfaatkan barang tak terpakai, eh, ujung-ujungnya malah tekor.

Terkadang kalau pas santai gitu, saya juga suka mikir. Dalam proses mengolah atau mendaur ulang sampah ini secara tidak langsung mau tak mau saya juga sudah menghasilkan sampah lainnya. Bahkan mungkin lebih banyak lagi dari sebelumnya.

Efek dari semua itu, saya dulunya jadi suka menimbun barang-barang tak terpakai. Lihat handuk bekas, bawaannya mau mengolahnya menjadi boneka. Padahal handuknya udah kumal. Lihat kipas bekas, bawaanya mau menyulapnya menjadi baling-baling bambu kayak milik Doraemon. Hmm…pokoknya sayang aja gitu mau nyingkirin barang dari rumah itu. Bahkan ya saya, jadi hobi mengoleksi botol kecap, botol sirup, sampai bungkus kopi dan deterjen.

Padahal saya ini orangnya semangat kalau di awal doang. Setelah itu yah kalau ada waktu luang, mending buat rebahan, goleran, dan glundhang-glundhung. Boro-boro mau bikin prakarya kayak gitu.

Akhirnya suatu hari saya tercerahkan setelah membaca buku Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay. Dalam buku tersebut saya jadi paham akan makna menyimpan barang itu sama dengan menimbun, tidak minimalis sekali kayak hidung saya yang sangat amat minimalis dan ekonomis. Lagi pula, saya membaca postingan milik teman saya di media sosial. Dia mengatakan bahwa menyimpan barang-barang yang tak terpakai di dalam rumah itu, bisa memberi energi negatif bagi penghuni rumah tersebut.

Sejak saya itu saya kemudian berhenti untuk menimbun barang bekas dan barang-barang yang tak terpakai di dalam rumah. Saya harusnya sadar, bahwa tak semua orang itu diciptakan untuk memiliki tangan terampil dan cekatan. Meski bahan dan barang yang digunakan sama, tapi tangan yang membuatnya berbeda tentu saja bakalan akan beda hasilnya. Lagi pula, bagi pemalas kayak saya ini, menonton video kayak gitu bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah bisa menimbulkan masalah lagi.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2022 oleh

Tags: barang bekasDaur Ulangdiymodifikasivideo
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

3 Program Unggulan yang Bisa Mengantarmu Tinggal di Jerman. Bekerja dan Belajar di Negara Asing Bukan Hal Mustahil

Tidak Ada Sampah di Jerman: Tren Bagi-bagi Barang Bekas di Jerman, Upaya Paling Efektif untuk Sustainability

10 Oktober 2023
4 Keistimewaan Kartasura selain Letaknya yang Strategis Terminal Mojok

Mengenal Kartasura, Kota Paling Strategis di Jawa Tengah. Mau ke Jogja Dekat, Solo apalagi!

15 September 2023
Alasan Kita Suka Nonton Video Reaction YouTube yang Unfaedah Itu terminal mojok.co

Alasan Kita Suka Nonton Video Reaction YouTube yang Unfaedah Itu

21 Februari 2021
sampah plastik

Sampah Plastik: Hanya Ada Satu Kata, Tinggalkan!

15 Juni 2019
Thrift Shop yang Pasang Harga Setinggi Langit Itu Maunya Apa, sih_ terminal mojok

Thrift Shop yang Pasang Harga Setinggi Langit Itu Maunya Apa, sih?

4 Mei 2021
Desa Panggungharjo Bantul, Desa Terbaik di Indonesia (Unsplash)

Mengenal Desa Panggungharjo di Bantul, Desa Terbaik di Indonesia yang Dipuji Mahfud MD Saat Debat Cawapres

22 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.