Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Benci Amerika Serikat Nggak Bisa Dijadikan Alasan untuk Dukung Agresi Rusia

Raffyanda Muhammad Indrajaya oleh Raffyanda Muhammad Indrajaya
25 Juni 2022
A A
Benci Amerika Serikat Nggak Bisa Dijadikan Alasan untuk Dukung Agresi Rusia

Benci Amerika Serikat Nggak Bisa Dijadikan Alasan untuk Dukung Agresi Rusia (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Imperialisme Amerika Serikat di Abad ke-21 itu nyata adanya, tapi bukan berarti imperialisme dan kejahatan dunia cuma milik negara itu semata.

Perang Rusia vs Ukraina belum terlihat menemui akhirnya. Dan hingga kini, masih (lumayan) menyita perhatian. Tidak mengagetkan sebenarnya, wong cukup jarang di era ini, sebuah negara Eropa melakukan serangan militer secara blak-blakan ke negara Eropa lainnya.

ADVERTISEMENT

Meskipun fenomena ini cukup unik—serta tragis tentunya. Yang justru membuat saya sampai saat ini geleng-geleng kepala bukanlah perangnya sendiri, melainkan ISI dari kolom komentar pemberitaan di media-media lokal soal perang ini. Isinya itu loh…

 Menyedihkan. Dan kali ini saya mau membahas hal paling lucu: mendukung Rusia karena benci dengan Amerika Serikat. 

AS mungkin iblis, tapi bukan berarti lawan-nya selalu bidadari 

Di sini saya tidak akan mengelak, Amerika Serikat memang memiliki kejahatan kemanusiaan yang tidak lagi terhitung jumlahnya. Mereka sudah terlibat dengan ribuan intervensi, secara tertutup maupun terang-terangan, ke negara-negara di seluruh dunia. Maka tidak mengherankan bahwa perspektif publik akan Amerika Serikat, khususnya masyarakat Indonesia, tergolong tidak begitu baik.

Bahkan sebelum Jokowi dijadikan kambing hitam atas setiap kegagalan dan susahnya kehidupan di negara ini, Amerika Serikatlah yang jadi sasaran.

Penilaian buruk ini juga terus menghantui AS di setiap gerak-geriknya yang selalu dipandang dengan curiga. Imbasnya juga turut dirasakan oleh organisasi-organisasi yang diprakarsai AS, ataupun negara-negara yang hubungannya cukup dekat dengan Land of the Living Dream.

Dengan begitulah, sebuah asumsi terbangun akan “karakteristik” dari aktor-aktor yang mengisi panggung perpolitikan global. Rumusnya cukup sederhana: Amerika Serikat = jahat, dan jika ada yang dekat dengan AS, mereka juga berarti dikendalikan atau terlibat dalam rencana jahat. Sederhana untuk dipahami, dan tidak terlalu memusingkan kepala.

Baca Juga:

Hal-hal yang Harus Kalian Siapkan Sebelum Kabur Aja Dulu, Berkaca dari Pengalaman Tinggal di Amerika Selama 3 Tahun

Hari Gini kok Masih Ada yang Debat Israel Benar atau Salah, Apakah Fetish-mu Adalah Terlihat Goblok?

Setelah ditempatkan sebagai pemeran antagonis, tidak jarang juga hadir asumsi lainnya. Seperti, aktor-aktor yang melawan AS berada di jalan “kebenaran” dan diagungkan bak “bidadari”. Padahal, realitasnya tidak segampang dan selalu seperti itu.

Contohnya, sering ditemukan orang-orang yang mengidolakan tokoh-tokoh otoriter semacam Kolonel Gaddafi atau Saddam Hussein hanya karena mereka bertentangan dengan AS. Orang yang memberikan dukungan tersebut tidak memedulikan ribuan jiwa yang ditindas dan hilang dalam aksi-aksi yang dijalankan kedua pelaku sejarah tersebut.

Logika yang digunakan di sini adalah, “musuh dari musuh saya adalah kawan saya”. Logika yang cacat dan menyesatkan sebenarnya, terlebih ketika yang jadi pembahasan di sini adalah soal panggung perpolitikan internasional yang, jika harus bahas moral, hitam atau putihnya tidak akan pernah tampak.

Contoh ini hadir dalam konflik antara Ukraina dengan Rusia. Dan karena Ukraina condong dekat dengan AS, maka sudah jelas siapa pemeran “protagonist” terbaru yang tiba-tiba banyak mendapatkan dukungan netizen Indonesia: Rusia.

Ura ura… Ura umum!

“Ura!” Itu adalah seruan legendaris dari tentara Rusia. Belakangan, media sosial dan kolom komentar berita lokal yang mengangkat topik invasi Rusia atas Ukraina sering dipenuhi oleh tulisan-tulisan semacam ini. Tidak sampai situ, komentar yang diisi tulisan “Ura” juga sering dilanjutkan dengan dukungan penuh kepada Rusia, Putin, dan celaan kepada Ukraina atau presidennya. Yang menjadi aneh di sini adalah, komentar-komentar tadi dituliskan oleh orang Indonesia sendiri, bukan orang Rusia ataupun orang Ukraina.

Hal serupa juga terjadi di medsos. Pembahasan mengenai konflik ini acapkali didominasi oleh narasi yang cenderung mendukung Rusia. Dan ketika “pendukung” bersangkutan diajak diskusi atau ditanya mengenai alasan serta pondasi dari pandangannya. Sering kali jawaban yang didapatkan berakhir dengan “Makanya kamu banyakin baca dulu!”.

Jawaban-jawaban semacam itu membuat saya menyadari bahwa alasan dari dukungan kepada Rusia ini lebih banyak didasarkan kepada kebencian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan AS. Serta bagaimana orang-orang begitu saja mempercayai propaganda-propaganda Rusia yang—jika kita meluangkan sedikit waktu saja untuk melakukan riset—sudah terbantahkan oleh lembaga-lembaga penelitian independen yang bergerak langsung di kawasan konflik. 

Dukungan kepada Rusia sebenarnya tidak hanya murni disebabkan oleh prasangka publik kepada Amerika Serikat saja. Bagaimana Rusia mempertunjukan dirinya secara internasional juga memainkan peran yang cukup kuat dalam hal ini.

Salah satu upaya publisitas yang saya rasa paling terkenal adalah melalui penggambaran persona Putin sebagai pemimpin kuat, macho, dan “bijaksana” lewat kontrol media. Masyarakat awam yang melihat hal ini akan cenderung menganggap Putin sebagai pemimpin “sempurna”, sehingga dalam beberapa kasus akan mudah untuk mendukung aksi Rusia.

Padahal, perang yang terjadi di Ukraina merupakan bentuk dari perang agresi yang tidak dapat dibenarkan dari Rusia. Konflik ini telah dibangun oleh Rusia sejak kependudukan mereka atas Krimea pada 2014 lalu. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Rusia juga tidak luput dari dosa-dosanya dalam mengintervensi permasalahan domestik negara-negara lain. Atau bahkan, dalam mengopresi kebebasan bersuara dan kebebasan berpolitik dari masyarakatnya sendiri.

Dengan membukakan diri untuk menjadi lebih kritis, kita dapat menyadari bahwa Amerika Serikat bukanlah satu-satunya imperialis. Mendukung Rusia dalam perkonflikan satu ini bukan berarti kita mendukung perlawanan terhadap imperialisme. Justru sebaliknya, dukungan kepada Rusia yang menghendaki perang agresi sama artinya dengan kita mendukung imperialisme Rusia.

Sebenarnya masih banyak yang rasanya perlu dibahas seputar bagaimana netizen Indonesia yang budiman menanggapi semua berita soal perang ini. Tapi, saya cukupkan sampai sini saja. Selain kepanjangan kalau ditulis satu-satu, dan takutnya saya malah jadi dituduh “buzzer” Barat. Atau lebih ngeri lagi, dituduh liberal komunis, cap yang diberikan kepada orang-orang yang tidak setuju dengan opini mayoritas.

Nggak, saya nggak takut, tapi merasa bodoh saja dituduh liberal komunis.

Penulis: Raffyanda Muhammad Indrajaya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Serangan Rusia ke Ukraina: Mungkinkah Perang Dunia III Terjadi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Juni 2022 oleh

Tags: amerika serikatimperialismeperangrusiaukraina
Raffyanda Muhammad Indrajaya

Raffyanda Muhammad Indrajaya

Rebahan adalah passion-ku.

ArtikelTerkait

Selisih Kecepatan Rata-rata Salat Tarawih di Desa Saya dan Tempat Saya Kuliah terminal mojok.co

Menerapkan Strategi Perang Sun Tzu dalam Perang Sarung

11 Mei 2020
biden trump amerika mojok

Kita Sebenarnya Sedang Merayakan Menangnya Biden atau Merayakan Kalahnya Trump?

17 November 2020
Ada Juliari di Ukraina: Hantaman Korupsi di Tengah Invasi Rusia

Ada Juliari di Ukraina: Hantaman Korupsi di Tengah Invasi Rusia

25 Januari 2023
Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan

Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan

11 Oktober 2022
3 Rekomendasi Film Perang Korea Selatan yang Greget Abis

3 Rekomendasi Film Perang Korea Selatan yang Greget Abis

27 Februari 2022
Sanksi FIFA dan UEFA pada Rusia: Standar Ganda atau Sekadar Pamer Kekuasaan?

Sanksi FIFA dan UEFA pada Rusia: Standar Ganda atau Sekadar Pamer Kekuasaan?

4 Maret 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang Mojok.co

Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang

9 Agustus 2026
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.