Benarkah Nggak Ngurusin Kehidupan Orang Lain Bikin Bahagia? – Terminal Mojok

Benarkah Nggak Ngurusin Kehidupan Orang Lain Bikin Bahagia?

Artikel

Bayu Kharisma Putra

Saya gemati dan cinta dengan masyarakat offline dan masyarakat online kita. Terutama para masyarakat online negara ini. Selain sering dianggap barbar, suka ngurusin kehidupan orang lain, dan punya ilmu cocot nagaraja sasrabahu, netizen kita juga senang belajar. Dari sini kita belajar, dari si itu kita belajar, dari siapapun kita bisa belajar.

Belajar apa pun itu, semoga bermanfaat, entah apa manfaatnya. Fenomena memetik hikmah secara online ini, mengandung banyak unsur positif dan negatif. Seperti kita tahu, atom bisa bekerja saat ada elektron negatif dan proton positif. Negatifnya, mungkin kita bisa masuk ke ranah gibah, alias memakan bangkai saudara sendiri. Untuk positifnya, mungkin dari efek yang paling umum dirasakan, seneng aja gitu.

Tapi, ada teori yang menyatakan kita bisa jauh lebih bahagia saat acuh dengan kehidupan orang lain. Atau maksudnya, kita jadi neutron bermuatan netral? Kan, nggak asik cuma diem aja? Apa asyiknya hidup tanpa tahu apa yang terjadi dengan Meghan Markle dengan Kerajaan Inggris? Atau urusan percintaan dan biduk rumah tangga para pesohor tanah air, memang kita tetap bisa bahagia?

“Lagipula, ikut campur itu memang menyenangkan,” kata netizen. Menyenangkan yang gimana dulu ini? Apakah ampuh mewarnai hari? Apakah menghibur diri? Kalau iya, bisa jadi kita memang manusia nyebelin saja sebenarnya. “Itu kan, risiko mereka jadi publik figur,” kata netizen lagi. Ya, cara memahaminya nggak kayak gitu, Markonah kesayanganku semua.

Baca Juga:  Film Midsommar yang Bikin Saya Nggak Mau Nonton Lagi: Spoiler Alert!

Anda berhak dan harus bahagia, itu yang harus jadi fokus. Cuma, buat apa bahagia melihat masalah orang lain. Urusan orang ya, biarlah urusan orang. Serius deh, Anda dan saya tak perlu ngurusin hidup orang lain. Cukup tahu dan wes mandeg jejeg. Jangan apatis juga. Misal tetangga sedang susah dan butuh bantuan, ya dibantu. Tapi, kita harus tahu kapan dan bagaimana cara membantu tanpa menjadi kompor. Nah, ini dia penyakitnya, jadi kompor dan ember.

Menjadi kompor dan ember, tak pernah berujung baik. Saya merasakan sendiri akibatnya, mungkin Anda juga sudah? Apalagi kok cuma postingan di sosmed soal hubungan dan prahara orang lain. Ayolah, itu bukan hal penting. Mbok ben saja. Tinggalkan, fokus saja ke diri sendiri dulu. Gibah enak sih, apalagi sama circle kecil kita. Tapi, disadari atau tidak, sesudah sendiri lagi, selalu muncul sedikit api rasa bersalah.

Sayangnya, ngurusin kehidupan orang, seringkali dijadikan sebagai pelarian dari masalah dan kesedihan pribadi. Iya apa nggak, hayo? Ibaratnya begitu, kita jadi mencari jarak dari mengenali persoalan diri kita sendiri. Padahal, nggak penting-penting amat kehidupan orang lain. Pada akhirnya, kuota waktu kita habis hanya untuk ngurusin kehidupan orang lain. Kuota waktu untuk diri sendiri habis di status WA dan beranda sosmed. Diomongin di grup WA, dijadikan status juga dengan hashtag self reminder, terus dibahas di medsos biar kolom komentar ramai. Itu buat apa, Om?

Baca Juga:  Menguji Mukjizat Nabi Muhammad Saw., Bulan Terbelah di Langit Mekkah

“Tuh, bener kan dugaanku” adalah kalimat pembuka paling ajaib di status mereka. Atau, “Jadi orang itu, harus bla, bla, bla” terus kasih hashtag selfreminder. Seolah-olah sedang menelanjangi diri sendiri, padahal tengah mlorotin celana orang lain.

Tapi, bukan terus jadi apatis dan acuh dengan lingkungan. Nggak ngomongin tetangga, terus jadi nggak kerja bakti. Tetangga rumahnya kebakar, bukan terus diem aja karena acuh dengan kehidupan orang lain. Pemerintah sakenak wudee dewe, nggak peduli. Beda dong, zheyengku. Kita ini makhluk sosial, perlu saling membantu dan bersosialisasi. Tapi, jangan jadi manusia sosial yang toxic, baik offline ataupun online.

Pelan-pelan saja, Bund. Kita harus mulai memilah mana yang boleh kita masuki, mana yang harus dihindari saat terkait permasalahan orang. Saya juga masih amatir, masih alon-alon. Oh, ini yang harus kukomentari, itu yang harus dihindari. Perlahan namun pasti, saat sikap acuh diperjuangkan dengan tepat dan sesuai dosis, nggak bombongan gitu, kita akan mulai menemukan hal yang lebih pantas untuk dilakukan dan dibahas.

Indra luweh kita akan semakin menebal. Bayangin, seandainya kita nggak ngomongin dan mbok luweh dengan kehidupan orang lain, apa yang akan kita dapatkan? Saat Anda mulai tak peduli dengan kehidupan orang lain, akan muncul kesadaran baru soal prioritas, serius deh. Kuota waktu hidup yang kemarin terbuang, akan jadi pengingat bahwa itu bermakna dan makin sayang untuk dibuang semena-mena. Anda pasti makin sayang dengan diri Anda, ha mbok tenin. Soal bahagia, itu relatif, meski duit yang mendominasi pikiran dan jiwa kita,hahaha. Wis, golek duit wae!

Baca Juga:  Bediding, Ketika Siang Panas dan Malam Dingin Banget

BACA JUGA Berani Bilang ‘Nggak’ Adalah Salah Satu Kunci Hidup Bahagia atau tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
11


Komentar

Comments are closed.