Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana (Garybhaztara via Wikimedia Commons)

Saya datang ke Bekasi dengan kepala penuh prasangka. Jujur saja. Selama ini, Bekasi sering jadi kota meme. Julukan planet lain terlalu sering lewat di timeline, sampai rasanya Bekasi bukan lagi kota sungguhan, tapi bahan candaan kolektif. Panas, macet, pabrik, debu itu paket lengkap yang selalu dilekatkan.

Saya datang dengan rasa penasaran. Hari pertama di Bekasi terasa aneh. Bukan karena panasnya. Tapi karena kota ini terlalu bergerak cepat. Orang-orangnya seperti tidak punya waktu untuk basa-basi. Semua tampak sedang menuju sesuatu. Tidak ada yang jalan santai tanpa tujuan. Seolah berkata sejak awal kalau mau di sini, ya ikut jalan.

Saya sempat mikir, apa saya bakal betah?

Bekasi dari sudut lain

Pelan-pelan saya mulai memperhatikan hal-hal kecil. Jalannya lebar, panjang, dan terasa dirawat. Bukan jalan cantik buat foto Instagram, tapi jalan yang benar-benar dipakai. Truk industri lewat, bus karyawan berhenti, motor berjejer di lampu merah. Memang macet, tapi macet yang masuk akal. Kota ini ramai karena dibutuhkan.

Di situ saya mulai sadar Bekasi bukan kota yang ingin disukai, tapi kota yang ingin berfungsi.

Semakin lama di sini, semakin jelas kenapa Bekasi disebut kota industri. Pabrik ada di mana-mana. Awalnya terasa menakutkan bangunan besar, pagar tinggi, suara mesin. Tapi lama-lama saya paham di sini kehidupan banyak orang bergantung. Dari situlah uang berputar, keluarga makan, dan mimpi kecil dirawat diam-diam.

Bekasi itu kota kerja. Kota realitas. Kota yang tidak menjual mimpi kosong, tapi menyediakan peluang nyata meski harus direbut dengan keringat.

Sebagai Gen Z, saya sering denger kalimat, “Kerja keras sekarang nggak menjamin apa-apa.” Dan itu benar. Tapi di kota ini, setidaknya kerja keras masih punya nilai. UMK-nya tinggi, dan itu bukan cuma statistik. Itu alasan banyak orang bertahan walau capek. Itu alasan kenapa perantau datang dari berbagai daerah, membawa koper, harapan, dan rasa takut yang sama.

Di sini, saya bertemu orang-orang yang hidupnya jauh dari kata estetik. Tidak banyak flexing. Tidak sibuk pamer pencapaian. Tapi mereka konsisten. Jalan yang pelan, tapi terus. Kota ini mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu soal terlihat sukses, tapi soal bertahan satu hari lagi.

Bekasi juga punya julukan Kota Patriot awalnya saya cuma tempelan sejarah. Tapi semakin lama saya tinggal, semakin terasa karakternya. Orang Bekasi keras. Bicara lugas. Kadang terdengar kasar. Tapi di balik itu, ada solidaritas. Ada rasa senasib. Mungkin karena kota ini dibangun oleh orang-orang yang datang bukan untuk liburan, tapi untuk hidup.

Pikir-pikir lagi

Saya tidak akan menutup mata tinggal di Bekasi memang harus mikir-mikir. Mental harus siap. Fisik harus kuat. Kamu akan lelah, kepanasan, dan sesekali mempertanyakan keputusan hidup. Kota ini bukan kota healing, tapi kota yang tepat untuk membentuk karakter.

Di sinilah saya belajar disiplin, belajar menghargai waktu, belajar menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu ramah, tapi tetap harus dijalani.

Sekarang, setiap kali ada yang bilang Bekasi itu planet lain, saya tidak lagi tersinggung atau tertawa berlebihan. Saya paham maksudnya. Bekasi memang berbeda. Tapi mungkin justru karena terlalu nyata, terlalu jujur, terlalu keras untuk dibungkus romantisme.

Buat Gen Z yang sedang nyari arah, nyari pijakan hidup, atau nyari tempat buat mulai dari nol. Bekasi bukan kota yang manis. Tapi Bekasi kota yang adil. Kamu capek, tapi kamu tahu kenapa. Kamu kerja, dan kamu tahu hasilnya. Planet lain untuk Bekasi? Bisa jadi. Tapi planet inilah yang mengajarkan aku arti bertahan, bekerja, dan berdiri di kaki sendiri.

Dan setelah benar-benar datang, bukan cuma lewat meme, saya akhirnya mengerti. Bekasi bukan kota terbaik karena sempurna. Tapi Bekasi cocok untuk orang-orang yang ingin hidup makmur dan kadang, itu lebih dari cukup.

Kota masa depan

Bekasi bukan kota yang harus kalian kagumi dari kejauhan, tapi kota yang harus kalian datangi kalau kalian serius mikirin masa depan. Bukan karena Bekasi sempurna, bukan karena hidup di sini bakal langsung enak, tapi karena kota ini ngajarin hal-hal yang nggak diajarin di mana-mana disiplin, kerja keras, dan tahan banting.

Kalau suatu hari kalian bingung harus mulai dari mana, Bekasi bisa jadi jawabannya. Datanglah bukan buat liburan, tapi buat tumbuh. Karena di balik panasnya, macetnya, dan julukan planet lain itu, Bekasi diam-diam sedang membentuk orang-orang yang siap menghadapi masa depan.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Tinggal di Bekasi yang Isinya Cuma Masalah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version