Beberapa Argumen Lemah yang (Sayangnya) Sering Digunakan untuk Menyerang Syiah

sunni syiah debat mojok

sunni syiah debat mojok

Konflik antara dua kelompok Islam, Sunni dan Syiah sudah berlangsung sejak zaman dulu. Kedua kelompok tersebut bisa dibilang mustahil untuk bersatu. Di negara Indonesia yang mayoritas orang Sunni juga menolak keras keberadaan kelompok ini. Bahkan pernah terjadi konflik berdarah antar kelompok ini di Indonesia. Konflik tersebut terjadi pada tanggal 26 Agustus 2012 di kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur.

Penolakan yang terjadi di Indonesia bukan tanpa dasar. Penolakan tersebut didasari dengan perbedaan pemikiran yang bersifat fundamenta. Contohnya seperti Syiah melaknat khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib, memiliki Al-Qur’an yang berbeda, mengakui imam dua belas, dan lain sebagainya.

Meskipun penolakan di Indonesia memiliki dasar-dasar yang kuat, namun terdapat beberapa kelemahan argumen yang digunakan kelompok Sunni untuk menyerang kelompok Syiah. Menurut salah satu cendekiawan muslim Indonesia yang bernama Haidar Bagir, dalam bukunya yang berjudul “Islam Tuhan Islam Manusia” , beliau menuliskan kelemahan argumen yang mendasar. Beberapa kelemahan-kelemahan tersebut adalah:

Generalisasi kelompok

Salah satu kelemahan argumen yang digunakan untuk menyerang adalah menganggap bahwa semua kelompok Syiah sama. Sebagian besar argumen para penyerang biasanya menggunakan metode memilih pandangan tertentu, dan kemudian menggeneralisasikannya sebagai pendapat kelompok Syiah seluruhnya. Padahal di dalam kelompok Syiah terdapat berbagai macam aliran dan pemikiran yang berbeda-beda.

Contohnya seperti aliran Syiah zaidiyah. Syiah zaidiyah sering dianggap sebagai moderat. Aliran tersebut berpendapat bahwa khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib hukumnya sah. Oleh karena itu mereka tidak melaknat ketiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Hal tersebut bertentangan dengan anggapan bahwa kelompok Syiah melaknat ketiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib.

Tetapi memang ada beberapa aliran yang melaknat ketiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Seperti Syiah rafidhah, sekte ini juga dikenal sangat keras terhadap kelompok Sunni. Namun kurang bijaksana apabila menganggap kelompok Syiah secara keseluruhan sama dengan Syiah rafidhah.

Seorang ulama besar yang bernama Ibnu Taimiyyah pernah menyinggung tentang Syiah rafidhah. Dalam kitab “Majmu’ Fatawa”, beliau berpendapat bahwa rafidhah pasti Syiah, tetapi Syiah belum tentu rafidhah. Karena tidak semua menolak Abu Bakar dan Umar, contohnya seperti Syiah zaidiyah.

Lantas, apabila ada kaum zaidiyah di negara Indonesia, kira-kira apa argumen yang digunakan untuk menolaknya?

Kurang memperhatikan perkembangan

Memang benar beberapa dari kalangan tersebut melaknat sahabat-sahabat Nabi saw.  Beberapa dari mereka terlihat gencar melaknat secara terang-terangan Sayidina Abu bakar, Sayidina Umar, dan sebagian istri Nabi saw. Salah satu aliran yang gencar melaknat sahabat dan istri Nabi Saw adalah Itsna ‘Asyariyah.

Namun beberapa kalangan dari aliran tersebut telah merevisi pendapatnya tentang hal ini. Misalnya hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt di London tahun 1995.  Majma’ Ahl al-Bayt merupakan organisasi Syiah yang bergerak dalam bidang penelitian, pendidikan, dan percetakan. Organisasi tersebut juga memberikan perlindungan dam pembelaan terhadap kaum mereka yang mengalami diskriminasi.

Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt di London tahun 1995 tersebut, menyatakan dengan tegas untuk menerima keabsahan kekhalifahan sebelum khalifah Ali bin Abi Thalib.

Bahkan pemimpin besar revolusi Islam Iran Sayid Ali Khamenei, beliau pernah mengeluarkan fatwa yang dengan tegas melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para kelompok Islam suni. Diantara isinya adalah, “Diharamkan menghina tokoh-tokoh yang diagungkan saudara-saudara seagama kita, suni, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi Saw, dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka.

Namun kemungkinan besar hal tersebut tidak cukup untuk dijadikan modal sebagai isyarat damai kepada kelompok Sunni. Kelompok Sunni cenderung menggangap hal-hal yang positif dari kelompok Syiah sebagai taqiyah. Apalagi ajaran nikah mut’ah dari kelompok Syiah dipandang sangat buruk untuk kalangan islam Sunnii.

Dalam beragama, perbedaan pendapat dan pemikiran sangatlah wajar. Namun pengecaman dan penolakan terhadap kelompok tertentu sebaiknya dilakukan dengan jalur hukum yang berlaku di negara ini.  Supaya tidak menimbulkan kerugian seperti korban jiwa dari kedua pihak yang berselisih.

Dalam mengecam dan menolak kelompok tertentu, juga harus didasarkan pada argumen yang akurat, serta dengan penilaian yang objektif. Selain itu, pemerintah juga harus mengambil sikap yang tegas untuk menyatakan kelompok mana saja yang tidak diperbolehkan di negara ini.

BACA JUGA Pareidolia dan Dugaan Gambar Salib di Logo HUT RI atau tulisan lainnya dari Riyannanda Marwanto.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version