Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya Mojok.co

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya (unsplash.com)

Banyak orang yang bilang hidup dan punya rumah di desa itu enak. Katanya, ritme hidup akan lebih pelan, mental pun akan terasa lebih tenang. Namun, menurut saya, kehidupan di desa tidak melulu memberikan ketenangan. 

Tenang itu hanya luarnya saja. Jauh di lubuk hati paling dalam, tinggal di desa itu jadi lebih ekstra hati-hati. Sebab, kalau tidak hati-hati, kita bisa jadi sasaran perasaan iri hati.  

Tampilan luarnya saja. Di lubuk hati yang dalam, sering kali kita merasa harus ekstra hati-hati, karena jika tidak kita bisa jadi sasaran perasaan iri dan dengki tetangga kita.

Nah, demikianlah yang saya rasakan saat merenovasi rumah sekarang ini. Jujur, belum juga rumah saya dibongkar, mental dan perasaan keluarga saya sudah dibuat lelah sama huru-hara tetangga. Padahal, renovasi ini nggak ada hubungannya sama tetangga kami itu. Duit ya duit kami, tanah ya tanah kami, tapi tetap aja dorongan untuk ikut campur dari tetangga itu tak bisa dibendung. Haduh!

Nah, bagi kalian yang berencana pindah atau bangun rumah di desa, berikut saya jelaskan supaya kalian tidak kaget ketika tinggal di desa!

Posisi rumah di desa bisa jadi masalah sama tetangga

Secara logika, berniat membangun rumah harusnya terserah orangnya kan ya. Yang penting duitnya ada, tanahnya juga ada. Nggak ada urusannya sama orang lain. Namun, secara sosial, di desa-desa, tetangga kita kadang merasa punya urusan untuk ikut campur niat kita membangun rumah. 

Misalnya yang terjadi pada saya ini. Jadi sebelumnya, rumah saya tepat berdampingan dengan tetangga saya. Bukan rumahnya saja, tapi juga halaman rumahnya. 

Karena keluarga makin banyak, orang tua saya berniat menambah kamar di halaman rumah, sehingga akan memisah dua halaman itu tadi. Dipisah pun sebenarnya masih ada jarak 2 meter untuk orang-orang lalu lalang di halaman itu.

Nah, di sini mulai muncul omongan tetangga. Opininya dibuat-buat, kami disangka tidak mau hidup berdampingan, tanahnya mau dipisah dan banyak kabar lain. Lha, lagian apa urusannya. Masa saya harus kedinginan tiap malam saat tidur di luar karena nggak punya kamar?

Ah sudahlah, biasa hidup di desa. Orang-orang emang selalu kepo sama kehidupan tetangganya. Haduh!

Kinerja tukang sulit diprediksi

Di desa, nggak ada istilah ahli teknik sipil, apalagi arsitektur. Hanya ada dua istilah dalam hal bangun-membangun rumah, yakni tukang dan kernet. Tukang yang merancang bangunan, kernet yang bikin adonan semen dan lainnya. Proses pendidikannya pun hanya melalui praktik lapangan yang turun-temurun, nggak ada teori, awalnya cuma jadi kernet, setelah lihai akan otomatis jadi tukang. 

Nah, karena tidak ada kualifikasi yang jelas, semua orang di desa bisa menjadi tukang atau kernet. Untuk memilih mereka pun, pertimbangannya hanya mana tukang paling dekat dengan rumah kita atau ya sanak kerabat. Kalau kita nggak menggunakan pertimbangan itu, tentu kita akan jadi bahan gunjingan tetangga. Pada akhirnya, ini menggugurkan tukang-tukang yang kinerjanya bagus dan profesional.

Buktinya nih ya, kemarin saya sempat membangun kamar mandi ukuran 2×6 meter. Waktunya butuh 21 hari. Sementara saudara saya yang bangun rumah ukuran 8×8 meter cuma butuh 25 hari. Setelah saya coba renungkan, tukang yang dipilih sebelumnya agaknya memang lebih banyak santainya.

Akan tetapi, apa daya, sebagai warga desa, katanya kita harus menomorsatukan tetangga. Tapi bagaimana kalau tetangga itu malah seenaknya saja? Capek deh!

Biaya printilan saat proses bangun rumah lumayan menguras kantong

Satu lagi yang menjadi beban mental saat kita membangun rumah di desa yakni biaya printilan yang tak masuk anggaran kita. 

Printilan tersebut terutama hidangan yang kita siapkan untuk para tukang. Di desa saya, yang tidak boleh absen untuk tukang yakni rokok. Mulai dari hari pertama sampai selesai, para tukang ini harus disediakan dua bungkus rokok.

Ya, secara SOP memang tidak ada protokol seperti itu, namun realitas sosial, rokok cukup menentukan cepat nggaknya proses pembangunan.

Kemudian, berbeda dengan membangun rumah di kota yang kebanyakan pemiliknya

Kemudian, berbeda dengan di kota yang punya rumah nggak ada di lokasi, di desa pemilik rumah biasanya lebih mengikuti proses pembangunan rumah karena ada di lokasi. Itu mengapa, saat jam istirahat, pemilik biasanya menyediakan jajanan atau camilan. 

Misal nih, mereka kerja jam 7, nanti jam 9 akan istirahat 20 sampai 30 menit. Tuan rumah yang baik tentunya harus menyediakan gorengan, minuman, kopi, dan lainnya. Kalau nggak, akan disindir dengan kata-kata nyelekit.

Kalau dihitung-hitung, biaya buat beli hidangan itu nggak sedikit. Cukup menguras anggaran yang telah direncanakan sebelumnya. Kalau di kota kan kita tinggal terima jadi, jadi nggak ada kewajiban-kewajiban seperti itu.

Sekian pengalaman saya saat renovasi rumah di desa. Ya, saya tau tidak semua tukang seperti itu, tapi yang seperti itu tentunya akan kalian temukan di desa, sebab sistem sosial di desa beda sama di kota. Jadi, buat kalian yang ingin pindah ke desa, jangan kaget ya kalau ketenangan yang kalian harapkan tidak ditemukan. Hehehe!

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version