Kemarin banget, saya datang ke acara seminar literasi yang diadakan kampus swasta di Bangkalan. Sebagai pegiat literasi kecil-kecilan, saya datang dengan niat membangun relasi dengan para pegiat literasi lokal lainnya. Kebetulan pembicaranya dari duta baca nasional, Gol A Gong dan pemateri dari founder komunitas lokal (katanya).
Tapi, sepanjang acara saya justru kecewa. Lalu saya sadar kalau Bangkalan sebenarnya nggak butuh seminar literasi, apalagi jargon-jargon ndakik-ndakik nggak penting. Bangkalan lebih butuh gerakan nyata dan bukti soal literasi dari para pegiatnya.
Seminar literasi hanya berisi ajakan dan jargon kosong
Sepanjang saya ikut acara seminar literasi di Bangkalan itu, nyaris nggak pernah ada keseriusan tindak lanjut tentang literasi yang dibahas. Selalu saja dikatakan literasi itu penting. Kalau berliterasi bisa sukses mengguncang dunia. Klise banget. Selesai seminar ditutup, literasi kian dilupakan. Seakan-akan, diksinya hanya mewah di pamflet, banner dan mimbar seminar saja.
Selain itu, format seminar bikin literasi terasi memuakkan. Suasananya terlalu formal. Bahasa yang digunakan terlalu kaku dan menjemukan. Parahnya lagi, acara seminar justru menyajikan lebih banyak sambutan pejabat kampus daripada pembahasan atau bahkan aksi nyata literasi itu sendiri.
Lebih dari itu, dengan dalih literasi, seminar sering kali sepaket dengan jualan buku dan lomba berbayar berkedok gratis. Ajakan ikut nulis, yang tulisannya lolos terbit, wajib beli bukunya. Lalu semuanya menulis dan semuanya diloloskan tanpa kurasi yang jelas. Itu semua, berawal dari seminar.
Isi seminar kadang hanya menggaungkan jargon
Pada seminar yang saya ikuti kemarin, sang pemateri lokal justru lebih banyak menyelipkan jargon. Bahkan dengan bangga bilang kalau literasi Bangkalan itu hebat. Kebohongan yang dikemas dengan indah. Faktanya, literasi di Bangkalan ambyar. Akui saja.
Perpustakaan sepi. Siswa dan mahasiswa enggan beli buku. Komunitas literasi lokal juga sepi dan nggak diminati. Membaca, menulis, dan berdiskusi berbasis bacaan masih langka di Kabupaten ini.
Buktinya, dalam seminar saja, pemateri lokal dari Bangkalan juga belum jelas pernah benar-benar membaca atau menulis karya seperti apa? Faktornya memang nggak selalu karena inidividunya. Faktor sistem juga berpengaruh, misalnya harga buku yang masih tergolong mahal-mahal serta nggak ada keseriusan struktural dalam bentuk kebijakan yang benar-benar berusaha ingin menghidupkan geliat literasi di Bangkalan.
Poinnya adalah, berhenti memberi ilusi dengan baluran jargon kosong. Sampaikan saja realitas, lalu fokus pada gerakan nyata.
Lebih dari itu, alih-alih sebagai narasumber yang kredibel memberi wawasan tentang literasi, pemateri justru berbicara bak seorang motivator tanpa bukti nyata. Kalimatnya seperti lirik jadul yang diulang-ulang puluhan tahun, “literasi itu amat sangat penting”, “literasi itu bikin kita was wes weos joss”.
Bacot.
Bangkalan lebih butuh gerakan nyata dan bukti
Daripada seminar nggak jelas dengan pemateri yang serba jargon ala motivator, Bangkalan lebih butuh gerakan akar rumput literasi yang nyata dan memberikan bukti. Gerakan nyata dalam arti ada aksi solidaritas kumpul bareng rutin dan membaca, bukan hanya bacot satu arah seperti seminar. Geliat semacam ini sudah banyak di Madura bagian lain seperti Sumenep dan Pamekasan. Bahkan di Sumenep sudah ada Sumenep Book Party. Komunitas Nemor juga hidup berkolaborasi dengan banyak pegiat ilmu di sana. Bangkalan? Masih sibuk seminar terus. Istilah founder Instagram literasi tanpa gerakan nyata justru kerap dijadikan portofolio ngisi seminar-seminar literasi. Sampah!
Bangkalan lebih butuh diberi banyak bukti kalau kita sebagai pegiat literasi, utamanya yang suka ngisi seminar-seminar itu, dengan karya. Buktikan kalau kita juga seorang pembaca buku dan penulis yang tekun. Coba sesekali ceritakan buku yang sedang dibaca di media sosial atau di komunitas lokalnya. Bagikan tulisan yang baru terbit, di media online dengan kurasi, media lokal koran, atau bahkan media nasional.
Kalau tulisannya dalam bentuk buku, beri bukti kalau sedang usaha atau malah bisa terbit di penerbit yang punya kurasi, bukan terbit hanya karena bayar. Itu literasi berbasis gerakan nyata dan bukti. Bangkalan lebih butuh itu daripada seminar literasi yang pembahasannya sudah terlalu basi untuk diulang-ulang terus.
Kalau literasinya hanya dalam seminar dan jargon klise, literasi Bangkalan ya akan begini-begini terus
Eka Kurniawan di Podcast Malaka terbaru bilang, kalau penulisnya (boleh jadi pegiat literasi juga) hanya bergaul di situ-situ saja, ya diskusi dan seminarnya boleh jadi justru hanya melakukan pengulangan kesalahan yang sama.
Dalam kasus Bangkalan, kalau penulisnya masih di level terbit buku berbayar dan sudah ngaku penulis dan berlagak mengisi seminar literasi, ayolah. Itu belum cukup buat dibagikan di seminar yang lebih banyak sambutannya daripada isinya. Untuk literasi, kita bergerak dulu saja bersama tanpa saling menggurui dan berlagak si paling literat di mimbar seminar.
Kita, para pegiat literasi Bangkalan, fokus bergerak bersama dulu saja sebagai pembelajar di komunitas-komunitas lokal yang ada. Kalau belum ada, mari bentuk dan ramaikan. Sambil lalu, kita terus membaca, berbagi bacaan, dan mencoba terus menulis berkualitas dengan ukuran objektif kurasi orang lain yang lebih kredibel. Bisa melalui koran, tulisan media online, dan bahkan buku melalui penerbit mayor atau indie yang kredibel. Lupakan seminar, mari mulai benar-benar membaca, menulis, dan berliterasi.
Ini juga pengingat bagi saya, lho ya! Pengingat buat kita semua yang peduli pada literasi Bangkalan.
Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Asumsi Bangkalan Madura Nggak Butuh Gramedia itu Keliru, Kabupaten ini Tetap Butuh, kok!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
