Informasi
ADVERTISEMENT

Kabupaten Bangkalan, kawasan tertinggal yang terus dibebani banyak proyek pembangunan

Bangkalan Lebih Cocok Jadi Ibu Kota Provinsi Madura daripada Pamekasan Terminal

Bagi warga Bangkalan Madura, agaknya cuma satu yang bisa dibanggakan oleh mereka, yakni letak geografisnya yang dekat dengan Surabaya. Ya, apa-apa yang menjadi hal langka di Bangkalan Madura, warga kabupaten ini bisa mudah menjumpainya di Surabaya. Mau kuliner, cari tempat hiburan, nge-mall, ingin kuliah di kampus yang bagus, atau sekedar cari toko buku, tinggal nyebrang saja lewat Suramadu.

Maka dari itu, maklumin saja ya kalau banyak orang Bangkalan Madura akhirnya berhijrah ke Surabaya.

ADVERTISEMENT

Menyadari kondisi itu, saya sebagai warga Bangkalan Madura benar-benar merasa iba dengan kabupaten saya ini. Belum lagi kalau mendengar narasi-narasi pejabat publik kita. Aduh, terlalu manis. Seakan kabupaten ini tidak punya masalah-masalah yang serius. Padahal kenyataannya, bertahan hidup di Bangkalan Madura itu pahit. Berikut saya jelaskan!

UMK Bangkalan paling memprihatinkan

Sudah jadi pengetahuan umum rasanya kalau Bangkalan itu bukanlah kabupaten biasa. Kabupaten ini masuk sebagai salah satu kawasan kota metropolitan di Indonesia, yakni Gerbangkertosusilo. Tapi gaes, karena disebut metropolitan jangan mengira wajah Bangkalan itu terlihat seperti kota maju. Malah sebaliknya, terasa tertinggal.

Mari saya jelaskan dari UMK-nya saja. Dari seluruh wilayah metropolitan di Indonesia, Bangkalan Madura ini termasuk yang UMK-nya paling rendah. Daerah metropolitan lain di Indonesia, rata-rata UMK-nya 3 juta ke atas, lah di Bangkalan cuma 2,5 juta.

Jangan jauh-jauh ke metropolitan lain lah, di kawasan Gerbangkertosusila aja, yakni Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan, semuanya di atas 3 juta, bahkan 5 juta. Cuma di Bangkalan Madura ini yang UMK-nya 2,5 juta.

Haduh, nasib nasib. Jadi ya, untuk warga Bangkalan, berhentilah berbangga pada kabupaten ini secara berlebih. Apalagi cuma karena ada Trans Jatim kalian nyamain Bangkalan sama Jepang. Jauh, kdo!

Jadi tempat menumpuk proyek pembangunan

Bangkalan Madura itu bisa dibilang masih asri. Di sini, belum banyak perumahan ataupun pabrik-pabrik industri berdiri. Jadi, mungkin kalian tidak heran jika banyak rencana proyek, baik dari pemerintah pusat atau tingkat provinsi, ditumpuk di Bangkalan Madura. Tapi, sebagai warga asli yang sudah lama mendiami kabupaten ini, saya malah pesimis dengan segudang proyek pembangunan itu.

Misal nih, MoU yang katanya pabrik-pabrik dari China mau pindah ke Bangkalan Madura, ini sumber daya manusianya emang udah siap? Akses pendidikan warga kabupaten ini saja rendah, Pak/Bu. Ini belum ngomongin kualitas, tapi aksesnya. Lah, malah dihadapin sama warga China yang kualitas pendidikannya di atas awan. Apa nggak curiga warga Bangkalan malah jadi tamu di tanah sendiri?

Lagian, apa kalian tidak berpikir, kalau UMK Bangkalan masih sekecil itu, adil nggak sih perusahaan China buka cabang di sini. Ah, bisa jadi mereka cuma cari pekerja murah saja.

ADVERTISEMENT

Ah sudahlah, mari kembali pada pembahasan. Lupakan dulu UMK yang kecil itu.

Sebelum niat pabrik China itu benar-benar dipindahkan, apakah proyek IISP di Bangkalan Madura itu juga akan tetap dilaksanakan? Proyek yang katanya mau menjadikan Bangkalan sebagai pusat wisata dan keilmuan Islam. Masih ingat, kan?

Kalaupun masih ingat, pahami pula bahwa semua proyek itu pasti butuh lahan. Nah, kalau butuh lahan, pastikan ya bahwa proyek itu tidak akan mengambil lahan masyarakat lokal. Hehehe.

Belajarlah dari yang sudah-sudah

Bagi saya, proyek pembangunan tanpa kesiapan sumber daya manusia yang matang hanyalah omong kosong. Saya mengatakan demikian bukan tanpa bukti. Lihatlah jembatan Suramadu yang membentang di selat Madura itu. Itu biaya pembangunannya tidak sedikit. Tapi bagaimana hasilnya? Jauh dari harapan.

Okelah fungsi jembatannya berhasil, kendaraan bisa lalu lang tiap hari. Tapi apa cuma itu, tentu saja tidak. Jembatan Suramadu diharapkan bisa membangun Madura, khususnya Bangkalan. Tapi hingga kini, kabupaten itu tetap tertinggal. Jauh dari kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Nah itu apa penyebabnya? Ya karena masyarakatnya belum disiapkan. Yang ada malah bikin hubungan Bangkalan dan Surabaya tegang. Di Bangkalan banyak anak jalanan, di Surabaya banyak begal.

Jadi, maksud saya, Pak/Bu, kalau ingin memasukkan proyek apa pun ke Bangkalan Madura, monggo sumber daya manusianya disiapkan dulu. Tingkatkan pendidikan warganya, naikkan penghasilan masyarakatnya, juga perbaiki kualitas hidupnya. Kalau nggak gitu, ya akan percuma. Buang-buang anggaran saja.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jangan Keluyuran ke Bangkalan Madura, Niat Menenangkan Pikiran Malah Dibuat Menyesal karena Perjalanan yang Melelahkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2026 oleh .

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.