Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Bahaya Influencer Nakal: Tarif Endorse Jutaan, Insight Konten Penuh Kepalsuan!

Riyanto oleh Riyanto
18 Oktober 2023
A A
Bahaya Influencer Nakal: Tarif Endorse Jutaan, Insight Konten Penuh Kepalsuan!

Bahaya Influencer Nakal: Tarif Endorse Jutaan, Insight Konten Penuh Kepalsuan! (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kenapa ada bisnis yang mau menggunakan jasa influencer untuk mempromosikan produk atau jasa? Demi menaikkan awareness, kan? Agar materi promosi ramai yang nonton, kan? Nah, apa jadinya jika semua views dan likes dari konten promosi yang dilakukan oleh sang influencer itu semuanya palsu? Bujet endorse itu hanya akan hilang tak berbekas.

Apakah semua influencer seperti itu? Nggak juga. Apakah oknum influencer nakal itu sedikit? Nggak juga!

ADVERTISEMENT

Efektivitas influencer untuk promosi

Dari dulu saya selalu mempertanyakan efektivitas influencer dalam promosi bisnis, terutama di ranah coffee shop atau F&B sejenisnya. Alasannya simpel. Trafiknya tidak bisa diukur dengan jelas. Tetapi itu dulu, saat para selebgram hanya eksis melalui foto Instagram dan belum ada fitur analytic profesional.

Dengan adanya reels dan munculnya fitur analytic yang layak, pandangan saya sedikit berubah. Keberhasilan promosi melalui seorang influencer bisa dilihat dari berapa banyak views yang didapat, berapa banyak yang berkomentar pada postingan itu, berapa banyak dari audience sang selebgram yang akhirnya melakukan follow ke akun pengendorse.

Mungkin hal-hal itu tidak langsung berdampak pada ramainya bisnis, namun tetap berdampak besar pada awareness yang terbangun di media sosial. Dan saya rasa memang itu tujuan dari mengendorse influencer saat ini. Demi awareness.

Baik influencer maupun pebisnis sama-sama diuntungkan. Influencer dapat uang dari video yang dibuat, dan pebisnis mendapatkan awareness yang bisa dirasakan secara nyata. Insight dari video promosi sang influencer juga bisa diminta sewaktu-waktu.

Terlihat happy ending? Tidak juga. Nyatanya, tidak sedikit oknum influencer atau selebgram atau KOL atau apalah itu sebutannya, yang memalsukan jumlah views dan jumlah likes dari video promosi yang mereka buat. Kalau bukan laknat, kata apa yang harus saya gunakan?

Kalian (kita) dibayar mahal untuk promosi

Saya sebenarnya sempat berpikir untuk membuat tulisan ini. Soalnya ada beberapa nama yang saya tahu jelas-jelas melakukan praktik nakal seperti ini. Namun akhirnya saya putuskan untuk nekat menulisnya dengan satu alasan. Para influencer itu dibayar mahal untuk sekali pembuatan video promosi.

Baca Juga:

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

Untuk satu video reels misalnya, tarifnya bisa jutaan! Siapa pun yang mengendorse influencer itu berharap dengan uang yang dikeluarkan, maka akan ada dampak terhadap bisnisnya. Seperti yang saya bahas di atas, dampak paling nyata ya awareness di media sosial.

Akan tetapi kalau sudah mengeluarkan uang jutaan dan mendapatkan hasil palsu, dan terlebih tidak tahu kalau views dan likes dari video promosi itu palsu, bukankah itu hanya kesia-siaan? Bukankah itu tidak etis? Atau lebih parahnya, bukankah itu merupakan penipuan?

Oke, saya mengaku. Sejak beberapa bulan tidak pernah nulis di Terminal Mojok, saya memang rutin membuat konten reels di media sosial seputar kopi. Dan syukurnya sudah sering deal dengan berbagai brand.

Setiap kali memberikan tawaran, saya selalu memberikan jaminan video promosi akan tembus minimal sepuluh ribu views dengan organik. Itulah kenapa setiap kali ada kerja sama dengan brand, video promosi akan saya kerjakan seserius mungkin—video non promosi juga serius, sih—mulai dari penulisan script yang berpotensi rame (dengan rumus hook + kasus + konflik + klimaks + konklusi + CTA), production value, sampai ke bridging dari topik bahasan ke materi promosi. Itu semua saya olah dengan matang sehingga hasil video bisa saya jamin bakal menaikkan awareness.

Influencer nakal tetap mengeluarkan upaya untuk bikin konten, tapi…

Makanya saat mengetahui ada yang main nakal dengan mengakali views dan likes, bagaimana bisa saya tidak kecewa? Apakah saya bilang bahwa influencer yang nakal itu tidak mengeluarkan effort untuk membuat video promosi? Ya tidak juga.

Saya yakin mereka sangat effort, bahkan menggunakan peralatan lebih mahal, lebih canggih, dan juga dengan teknik videografi yang jauh di atas kapasitas saya. Hasil video akun-akun itu secara sinematografi memang oke. Saya bisa bilang hasil video itu layak dijual mahal kalau memang yang dijual adalah videonya, dan bukan awareness di media sosial sang pemilik akun itu. Sejauh ini paham?

Kalau kemudian para pemain nakal itu protes dengan bilang susah mendapatkan views yang banyak, ya jangan menjual jasa promosi video di media sosial, dong. Sekali lagi, para influencer atau apa pun itu namanya, dibayar untuk menaikkan awareness dari yang dipromosikan. Kalian—atau kita—punya audience yang siap menonton konten yang dibuat. Nah, pemilik bisnis ingin “meminjam” audience itu biar lebih dikenal.

Akan tetapi kalau sekarang seorang selebgram gagal dalam “meminjamkan” audience-nya untuk promosi, untuk apa melakukannya? Untuk apa pamer punya puluhan ribu followers kalau tidak ada yang menonton konten buatannya? Oh, apa followers-nya juga hasil beli? Serius sekali ingin melakukan kenakalan, ya?

Jangan bohong lagi! Ini rahasia views dan likes palsu

Kenapa saya bisa bilang banyak yang melakukan kenakalan? Ya karena hal itu terlihat dengan jelas asal kita tahu ke mana melihatnya. Buat para pebisnis atau pemilik brand, kalian harus perhatikan hal ini baik-baik. Jangan tertipu dengan views puluhan ribu dan likes ribuan. Kedua hal itu bisa dibeli.

Coba lihat saja daftar orang yang melakukan likes pada konten sang influencer yang terindikasi nakal. Kalau mayoritas yang menekan likes adalah bule, entah orang India, Rusia, Nepal, atau bahkan Bikini Bottom, sudah pasti likes itu hasil beli. Untuk jumlah orang views memang tak bisa dilihat. Tapi kalau daftar orang yang menyukai konten tersebut ada ribuan dan mayoritas orang asing, bukankah jumlah views juga menjadi tanda tanya besar?

Ditambah ada hal lain yang akan sangat terlihat. Untungnya, atau celakanya bagi pemain nakal, sekarang jumlah orang yang melakukan share dari sebuah postingan, bisa terlihat jelas pada postingan itu. Di Instagram misalnya, lihat saja tanda pesawatnya. Sudah terhitung di sana.

Apakah masuk akal apabila views kontennya puluhan ribu, likes ribuan, tapi tidak ada yang menekan tombol share sama sekali? Atau ada, tetapi sangat sedikit jumlahnya? Ditambah, minim juga orang yang berkomentar. Semua itu sudah menjadi tanda-tanda bahwa duit jutaan yang diberikan oleh pebisnis, tidak akan menghasilkan apa pun kecuali kekecewaan!

Menambah jumlah views secara tidak organik itu wajar

Saya paham bahwa algoritma Instagram itu susah ditebak. Mendapatkan views yang konsisten itu memang susah-susah gampang. Selama ini saya mengalaminya sendiri. Ada konten yang cukup dua hari sudah tembus sepuluh ribu, dan ada yang butuh satu minggu untuk menembus sepuluh ribu. Tetapi akhirnya itu bisa menjadi bahan evaluasi entah script-nya kurang oke atau yang lain.

Saya juga paham bahwa kadang meski merasa sudah melakukan yang terbaik, views mentok di situ-situ saja. Saya pernah mengalami hal itu di beberapa minggu awal aktif bikin konten. Dulu yang saya lakukan adalah memberi stimulus dengan fitur promosi Instagram. Agar video tersebut dibawa oleh Instagram ke orang-orang yang saya target. Hal itu bisa dan sah dilakukan. 

Kenapa saya menyinggung mengenai itu? Karena jika memang merasa views organik dari konten promosi stuck di angka tertentu, sang influencer bisa menawarkan kepada pihak yang sudah mengendorse untuk melakukan stimulus. Caranya ya dengan menggunakan fitur promosi dari Instagram.

Bujet yang digunakan ya harus ditanggung oleh sang influencer, dong. Kenapa menurut saya hal itu masih masuk akal? Soalnya baik sang influencer maupun pihak yang mengendorse, sama-sama mengetahui kondisi dari konten promosi, dan sepakat melakukan tindakan. Selain itu, konten itu juga akan lebih tepat sasaran menjangkau audience yang sesuai dengan keinginan sang pengendorse, bukan views robot dan likes suntikan yang entah datang dari mana itu.

Mending stop jadi influencer! Apa nggak malu nakal gitu?

Kalau sang influencer malu mengakui kontennya tidak mendapat banyak audience padahal followersnya puluhan ribu dan melakukan cara-cara nakal biar kelihatan rame, mending pensiun aja, deh. Ganti profesi lain yang lebih cocok. Atau turunkan bujet endorse aja, sesuaikan dengan kapasitas akun. Jangan memberi tarif jutaan kalau cuma mau malsuin views dan likes biar kelihatan rame.

Atau begini saja, mending ganti model bisnis. Stop menawarkan jasa endorse. Punya kamera bagus, kan? Punya alat canggih-canggih, kan? Ngeditnya pakai PC spek dewa, kan? Jago bikin konten sinematik, kan? Nah, yaudah, mending buka jasa pembuatan video promosi sekalian! Stop jadi influencer. Nggak malu apa bohong terus?

Penulis: Riyanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Influencer Bukanlah Dewa, dan Kalian Nggak Perlu Membela Mereka.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2023 oleh

Tags: beli followersendorsefollowersinfluencerinstagramkontenMedia Sosial
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

Orang yang Menumpuk Notifikasi dan Melarikan Diri Perlu Dirukyah Ningsih Tinampi mojok.co

Orang yang Menumpuk Notifikasi Sebaiknya Dirukyah Ningsih Tinampi

25 Oktober 2020
Grup Facebook Warga Demak Nggak Kalah Gayeng dari Info Cegatan Jogja terminal mojok.co

Menuai Banyak Likes, Tapi Mampus Dikoyak Sepi

5 September 2019
Akui Saja Kalian Kecanduan Judi Slot, Pake Ngaku Hobi Segala

Buzzer Capres VS Buzzer Judi Slot: Mana yang Lebih Menyebalkan?

30 Mei 2023
20 Singkatan Bahasa Inggris Gaul, Kunci Bisa Membaur di Media Sosial Mojok.co

20 Singkatan Bahasa Inggris Gaul, Kunci Bisa Membaur di Media Sosial

21 Desember 2023
Orang yang Mematikan Centang Biru WhatsApp Pasti Punya Alasan terminal mojok.co

Orang yang Mematikan Centang Biru WhatsApp Pasti Punya Alasan

16 November 2020
Grup FB: Alasan Terberat untuk Meninggalkan Facebook

Grup FB: Alasan Terberat untuk Meninggalkan Facebook

8 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

18 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.