Setiap Ramadan, pinggir jalan mendadak berubah jadi titik sedekah. Orang-orang berdiri membawa kotak takjil, menyetop motor yang lewat, lalu membagikan kolak, kurma, atau gorengan dengan wajah sumringah. Niatnya jelas mulia yaitu berbagi rezeki kepada mereka yang mungkin belum sempat sampai rumah saat azan magrib tiba. Tapi di beberapa tempat, pemandangan hangat itu kadang berubah agak kacau.
Motor melambat mendadak, mobil ikut menepi, antrean kendaraan memanjang, dan jalanan yang tadinya lancar tiba-tiba macet seperti ikut “berbuka” lebih cepat. Sedekahnya tetap baik, hanya saja kadang cara membaginya membuat jalan raya ikut jadi korban suasana Ramadan.
Sedekah di pinggir jalan yang kadang lebih mirip operasi penyekatan
Setiap Ramadan, jalanan mendadak berubah fungsi. Selain sebagai jalur kendaraan, ia juga jadi tempat paling populer untuk menunaikan niat baik bernama bagi-bagi takjil. Masalahnya, niat baik itu sering dilakukan dengan metode yang cukup mengejutkan. Berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan kotak makanan ke pengendara yang bahkan belum sempat mengerem. Dari jauh memang terlihat hangat, tapi dari dekat rasanya seperti sedang melewati razia dadakan yang petugasnya membawa kolak.
Saya pernah melambatkan motor karena melihat kerumunan di depan. Awalnya saya kira ada kecelakaan. Ternyata bukan, sekelompok orang berdiri di tengah jalan dengan senyum tulus sambil membagikan takjil ke siapa saja yang lewat. Akhirnya kendaraan di belakang ikut melambat, beberapa bahkan berhenti total, dan dalam lima menit suasananya sudah mirip antrean parkir gratis di mal saat diskon besar.
BACA JUGA: 9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli
Detik-detik menjelang magrib yang mendadak jadi arena rebutan takjil
Mendekati waktu berbuka, suasana jalanan memang selalu berubah. Orang yang pulang kerja ingin cepat sampai rumah, anak kos ingin cepat sampai warteg, dan pengendara motor mulai menghitung jarak dengan waktu azan. Di tengah kondisi itu, pembagian takjil kadang muncul seperti event kejutan yang tidak pernah diumumkan sebelumnya.
Awalnya semua terlihat tertib. Pengendara berhenti sebentar, menerima satu bungkus makanan, lalu melanjutkan perjalanan. Tapi ketika jumlah orang yang datang lebih banyak dari takjil yang tersedia, suasananya bisa berubah cepat. Ada yang mendekat lebih dulu, ada yang memotong antrean, ada juga yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan demi memastikan dirinya kebagian.
Dalam beberapa menit, kegiatan berbagi yang niatnya mulia bisa berubah seperti flash sale yang lupa pakai sistem nomor antrean.
Bagi-bagi takjil: antara ibadah sosial dan konten media sosial
Tidak bisa dimungkiri, kegiatan bagi-bagi takjil sekarang sering datang dalam satu paket lengkap dengan dokumentasi. Ada yang membawa kamera, ada yang sibuk mengatur angle, bahkan kadang pembagian takjilnya sempat dihentikan sebentar karena perlu diulang demi mendapatkan gambar yang lebih bagus.
Saya pernah melihat satu adegan yang cukup unik. Seorang pengendara sudah menerima takjil dan hampir jalan, tapi diminta berhenti sebentar karena kameranya belum siap. Akhirnya bungkus makanan itu diserahkan lagi dengan pose yang lebih rapi, senyum yang lebih lebar, dan ekspresi syukur yang sedikit lebih dramatis. Di situ saya sadar bahwa sedekah di zaman sekarang kadang juga punya jadwal tayang.
Pengendara yang bingung harus ngerem atau ikut antre
Bagi orang yang hanya ingin lewat, situasinya sering serba salah. Dari jauh terlihat ada kerumunan di pinggir jalan, tapi tidak jelas apakah itu pembagian takjil atau sekadar orang yang lagi ngobrol ramai-ramai. Ketika sudah mendekat, baru kelihatan ada tangan yang menyodorkan makanan ke arah pengendara.
Di titik itu muncul dilema kecil yang cukup membingungkan. Kalau berhenti, takut menambah kemacetan di belakang. Kalau tidak berhenti, rasanya seperti menolak rezeki yang sudah diulurkan. Akhirnya banyak orang memilih solusi paling aman yaitu melambat sebentar, tersenyum canggung, lalu melaju lagi sambil berharap tidak dianggap sebagai manusia yang kurang menghargai kebaikan.
BACA JUGA: 5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli
Niat baiknya tetap perlu cara yang lebih tertata
Tradisi bagi-bagi takjil sebenarnya selalu menyenangkan untuk dilihat. Ia menunjukkan bahwa di tengah kesibukan dan kemacetan kota, masih ada orang yang mau berbagi tanpa pamrih. Masalahnya cuma satu, jalan raya bukan tempat yang paling ideal untuk menghentikan arus kendaraan hanya demi membagikan kolak dan gorengan.
Bukan berarti kegiatan ini harus dihentikan. Justru sebaliknya, akan jauh lebih terasa manfaatnya kalau dilakukan dengan cara yang sedikit lebih tertata. Misalnya tidak berdiri di tengah jalur kendaraan, tidak membuat orang harus mengerem mendadak, dan tidak mengubah jalan pulang orang lain menjadi sesi latihan kesabaran.
Pada akhirnya, sedekah yang baik itu bukan cuma soal niat, tapi juga soal memastikan kebaikannya tidak ikut membuat orang lain susah di jalan.
Penulis: Ramanda Bima Prayuda
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















