Awkarin Aja Udah Berubah Jadi “The New Karin”, Kalian Apa Tidak Bosan Jadi Tukang Hujat Terus?

awkarin

awkarin

Saya adalah pengikut baru Awkarin. Jujur, saya baru mengikuti instagram Awkarin sejak dia jadi relawan kebersihan demo mahasiswa lalu. Tapi saya adalah penggemar berat Sulli sejak drama To The Beautiful You ditayangkan. Tulisan ini saya buat bukan untuk membandingkan, tapi sebagai bahan renungan untuk kita semua.

Sulli dan Awkarin memang terkenal dengan label artis kontroversial. Mereka sama-sama memiliki banyak haters. Hampir setiap hari mereka mendapat komentar pedas dari netizen. Jika punya waktu coba tengok akun mereka, pilih satu atau dua postingan secara acak, pasti Anda akan menemukan berbagai komentar miring. Apa pun yang mereka bagikan di media sosial, mata batin netizen selalu berhasil menemukan celah agar bisa menghujat mereka.

Kemarin, Karin mengunggah tangkapan layar twitter di instagramnya. Kurang lebih begini isinya. Ada netizen yang bertanya, “Apakah selama ini Awkarin merasakan apa yang dirasakan Sulli?” Secara tidak langsung Awkarin menjawab iya, dia merasakan apa yang dirasakan oleh Sulli hanya saja dia berhasil bertahan dan menemukan bantuan dari orang-orang disekitarnya. Ia juga menyebutkan peran psikolog dan obat-obatan yang harus dikonsumsinya.

Dari seorang Youtuber, Awkarin menjelma menjadi idola baru bagi remaja Indonesia. Ia dianggap sebagai musuh besar para orang tua. Pergaulan dan gaya hidup Awkarin dinilai membawa pengaruh buruk bagi remaja Indonesia. Tidak hanya itu, dalam kutipan tweetnya tadi malam Ia juga menyebutkan bagaimana dia berjuang melawan komentar pedas netizen yang selalu mengaitkannya dengan kematian seseorang yang pernah dekat dengannya.

Iya, Awkarin seberjuang itu. Ibarat batu jika terus terkena air maka sedikit demi sedikit menjadi rapuh. Mungkin begitu juga yang dirasakan oleh Awkarin. Tahun berganti tahun, komentar demi komentar terus diterima. Beruntung masih banyak komentar positif yang mungkin memberikan sumbangan kekuatan untuk Awkarin bertahan hingga sekarang.

Sebelumnya, saya ingin bercerita ketika Tuhan berjanji akan ikut makan malam bersama nabi Musa dan pengikutnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki tua hendak meminta makan. Nabi Musa bilang tidak ada yang boleh makan sebelum Tuhan datang. Malam semakin larut, Tuhan tak kunjung datang. Esoknya Tuhan menjelaskan pada nabi Musa bahwa dia datang. Lelaki tua yang meminta makanan kemarin adalah hambanya. Tuhan berfirman: Ketika kalian memuliakan hambaku, kalian juga memuliakan-Ku. Jika kalian mengabaikan atau bahkan menistakan hambaku, maka kalian juga menistakan-Ku.

Cerita di atas mengajarkan untuk mencintai dan menghormati sesama manusia. Caranya bisa disesuaikan dengan keadaan dan profesi. Cara seorang influencer untuk mencintai dan menghormati sesama manusia adalah dengan membuat konten yang memberikan energi positif dan bermanfaat bagi pengikutnya. Cara seorang netizen mencintai dan menghormati sesama manusia adalah tidak menggunakan jarinya untuk memberikan komentar bernada hujatan, ancaman, atau amarah, sebaliknya jarinya lebih banyak digunakan untuk apresiasi karya dan menyebar kebaikan.

Cerita di atas juga mengajarkan manusia untuk banyak bercermin dan introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan sampai merasa dirinya lebih baik, lalu bisa dengan bebas menghina orang lain. Awkarin mungkin sudah ratusan kali bercermin dan introspeksi diri sehingga lahirlah ‘The New Karin’ yang ditandai dengan terjualnya akun instagram kepada Karin yang baru.

Karin sudah menjadi pribadi yang baru. Lalu bagaimana dengan netizen? Mungkin sebagian juga sudah hijrah, dan sebagian lagi masih bebal mengirimkan beberapa komentar buruk. Sekali lagi, manusia memang diminta banyak berintrospeksi tapi bukan berarti Anda dengan bebas ikut mengintrospeksi kehidupan orang lain. Kenapa?

Karena Anda tidak pernah tahu apa yang sudah Awkarin lalui. Ibarat gunung es, yang Anda tahu hanya permukaan saja. Padahal mungkin ia melalui lebih banyak hal dibanding yang diberitakan di media.

Karena Anda belum tentu bisa menjalani hidup sebagai Awkarin. Iya, hidup sebagai diri sendiri saja masih banyak perasaan insecure, apalagi mau hidup sebagai Awkarin. Saya yakin netizen penghujat tidak akan betah meski dibayar ratusan juta.

Karena belum tentu Anda lebih baik dari Awkarin. Anda melihat perilaku dan perkataan Awkarin sebagai perbuatan menyimpang. Siapa yang tahu, diam-diam netizen penghujat juga gemar menyisipkan kata-kata kasar di kehidupan nyata mereka. Siapa yang tahu, diam-diam netizen juga pacarannya keluar masuk hotel. Again, no one perfect.

Karena Anda pun tidak suka dihujat dan dimaki. Itu saja. Saya harap anda paham poin ini.

Dear netizen, sudah saatnya kita menjaga perasaan masing-masing. Bagi anda yang percaya Tuhan, berhentilah menghujat manusia. Bagi Anda yang tidak percaya Tuhan, tolong lakukan atas dasar kemanusiaan. Karena saya, Anda, dan Awkarin adalah manusia. Kita sama-sama punya hak dicintai dan dihormati. Kita sama-sama punya kewajiban mencintai dan menghormati.

BACA JUGA Mari Periksa Maksud Tweet Budiman Sudjatmiko yang Bandingkan Awkarin dan Tri Mumpuni atau tulisan Winda Ariani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version