Orang asli Banyuwangi biasa menyebutnya dengan lagu kendang kempul, seperti campursari kalau di Jawa. Sementara bahasa yang digunakan adalah bahasa Osing.
Kalau diibaratkan, adanya Festival Kebo-keboan merupakan wadah untuk menyalurkan minat dan bakat jin maupun setan yang ada di Banyuwangi untuk tetap eksis.