Nggak Perlu Ngomel-ngomel tentang Fasilitas Kesehatan kalau Sekadar Aturan Minum Obat Saja Tidak Patuh

Menghadapi Pahitnya Dunia Aja Kuat, Masa Menghadapi Pahitnya Obat Ngeluh? Ini Alasan Kenapa Obat Rasanya Pahit aturan minum obat

Menghadapi Pahitnya Dunia Aja Kuat, Masa Menghadapi Pahitnya Obat Ngeluh? Ini Alasan Kenapa Obat Rasanya Pahit (Unsplash.com)

Masih banyak orang yang tak patuh aturan minum obat, dan self diagnose tanpa pengetahuan yang cukup

Tuntutan masyarakat akan fasilitas kesehatan dari hari ke hari semakin tinggi. Hal ini terlihat banyaknya minat masyarakat Indonesia untuk berobat keluar negeri. Ada 600 ribu hingga satu juta masyarakat Indonesia lebih memilih rumah sakit luar negeri untuk berobat dibanding dalam negeri hal ini karena layanan kesehatan dan teknologi media yang belum ideal.

Maraknya masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri tentunya dilandaskan banyak faktor, dan teknologi mungkin salah satunya. Label berobat ke luar negeri menjadi suatu hal yang menjamin kesembuhan di sebagian orang. 

Tuntutan masyarakat akan idealnya fasilitas kesehatan selalu menjadi buah pembicaraan hangat bagi kami tenaga kesehatan. Terutama saat era BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan mulai diterapkan muncul fenomena baru yakni pembagian pasien umum dan pasien pengguna BPJS. 

Label yang melekat pada pasien BPJS ini terkadang dianggap negatif bagi beberapa kalangan. Seperti dilayani ketus lah, pelayanan tidak cepat, dan semacamnya. 

Aturan minum obat yang tak dipatuhi

Mungkin itu hal lain yang bisa dibahas lain waktu juga. Hal yang ingin saya bahas adalah ketidakpatuhan pasien dalam minum obat. Dengan penerapan BPJS tentunya akses dalam fasilitas obat termasuk mendapatkan obat akan mudah didapatkan oleh pasien. 

Tentu wajar jika melihat jumlah pengguna BPJS ini tinggi tingkat kesembuhan pun tinggi juga. Nyatanya tidak juga. Ada hal lain yang menjadi penghambat kesembuhan, yakni ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. 

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada 2018, jumlah pasien hipertensi yang mengkonsumsi obat antihipertensi secara rutin baru mencapai 54,4 persen. Sisanya, 32,3 persen tidak secara rutin mengkonsumsi obat antihipertensi dan 13,3 persen tidak minum obat antihipertensi. Dari jumlah pasien yang tidak rutin dan tidak mengkonsumsi obat, sebanyak 59,8 persen pasien beralasan merasa sudah sehat.

Dari data Riskesdas tersebut  menunjukkan secara gamblang ada hal aneh yang terjadi yakni jumlah tidak patuhnya pasien hipertensi tidak minum obat, dan perlu kajian mendalam perihal alasan yang keluar dari pasien yakni merasa sudah sehat, dan hal ini rasanya perlu dijelaskan secara konkret. Oleh karena itu saya mencoba untuk mencoba mendalami. 

Bagaimana persepsi kepatuhan minum obat pasien?

Sebelum pandemi Covid menerpa dunia, saya berstatus mahasiswa pascasarjana yang sedang mencoba menyelesaikan penelitian tesis saya di salah satu Rumah sakit swasta di Yogyakarta, tepatnya di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Penelitian tesis saya cukup berbeda dengan rekan saya lainnya karena, saya menggunakan pendekatan metode kualitatif.  Saya mengkaji persepsi kepatuhan minum obat pasien hipertensi. Tepatnya judul penelitian saya adalah “Persepsi Pasien Hipertensi Tentang Kepatuhan Minum Obat Di Instalasi Rawat Jalan Rs Pku Muhammadiyah Yogyakarta : Studi Kualitatif

Alasan saya mengambil  tema penelitian ini murni berasal dari rasa penasaran saya. Ada rasa penasaran kenapa jumlah ketidakpatuhan minum obat di masyarakat Indonesia masih meningkat.

Penelitian saya menggunakan pendekatan kualitatif, dan tentu saja saya  cukup kesulitan menggunakan metode ini. Tidak semua pasien mau untuk ditanya-tanya tentang kondisi pengobatan mereka. Tapi ya, mau bagaimana lagi?

Dan pada akhirnya tuntas juga penelitian saya. Selama penelitian saya cukup memahami bahwasanya para pasien hipertensi cukup termotivasi ingin sembuh. Itu salah satu temuan saya yang saya temukan saat melakukan wawancara di sana. Namun, ada hal lain yang diluar prediksi saya, bahwasanya pasien-pasien yang sedang menjalani pengobatan ini adalah manusia. 

Menjadi pesakitan itu menakutkan

Selama melakukan wawancara pada pasien-pasien hipertensi, saya menemukan hal-hal yang cukup mengagetkan saya. Saya berkuliah dengan latar farmasi, dan tahu asal usul perihal obat terutama tujuan obat untuk apa. 

Pasien hipertensi seyogyanya harus meminum obat antihipertensi seumur hidupnya. Alasannya ialah menjaga kondisi tekanan darah pasien agar tidak melebihi yang seharusnya, dan tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan. 

Pasien hipertensi yang naik tekanan darahnya  20/10 mmHg memiliki resiko dua kali lipat mengalami penyakit jantung koroner. Kenaikan tekanan darah tersebut juga memiliki resiko terjadinya stroke dan gagal ginjal. Penyakit hipertensi merupakan penyumbang terbesar kedua terjadinya gagal ginjal setelah penyakit diabetes.

Pada penelitian yang saya lakukan, saya bertemu dengan pasien-pasien yang merasa takut untuk minum obat. Salah satu pasien dengan sadar enggan minum obat karena, mispersepsi kalau minum obat terus akan rusak ginjalnya. Dirinya bahkan sempat masuk UGD karena, kondisinya tekanan darahnya tidak baik. 

Pasien lainnya yang saya temui untuk wawancara membagikan pengalaman, dan perasaannya. Jika dirinya dibutuhkan oleh anak-anaknya. Dirinya merasa memiliki kewajiban untuk sehat demi anak-anaknya. Hampir rata-rata pasien yang saya temui minum obat demi keluarganya bukan dirinya sendiri. 

Patuh pada aturan minum obat untuk menjaga diri dan orang lain

Melansir dari Kompas.id pada 2021 lalu, supir Bus Transjakarta mengalami epilepsi (kejang). Buntut dari kejadian tersebut, terjadilah kecelakaan yang menewaskan sang sopir dan satu penumpang, serta melukai 31 penumpang lainnya.

Dari keterangan saksi yakni teman satu mes dengan sang supir di Ciputat diketahui bahwasanya sang supir pernah mengaku mengidap penyakit saraf dan harus minum obat khusus setiap hari. Hal Ini semakin diperkuat temuan obat kejang fenitoin. Akan tetapi, kandungan obat fenitoin tidak bisa ditemukan dalam badan sang supir yang sudah meninggal sehingga dipastikan beliau tidak minum obat sebelum kecelakaan.

Merasa sembuh, merasa sehat

Berbeda dengan hal yang saya sampaikan sebelumnya masih ada beberapa pasien yang merasa cukup untuk minum obat. Mereka merasa sudah tidak merasakan gejala apa pun lagi. Dari obrolan saya sesama sejawat hal ini sering dilakukan pasien-pasien dengan obat-obat antibiotik. 

Golongan obat antibiotik yang diresepkan sejatinya harus diminum hingga tuntas dan habis. Sehingga infeksi bakteri yang menyebabkan sakit bisa tuntas secara paripurna. Ketidakpatuhan pada aturan minum obat antibiotik bisa menyebabkan resistensi antibiotik. 

Ogah minum obat generik

Masyarakat kita masih antipati pada golongan obat generik. Harga murah untuk menutupi biaya kesehatan tidak dilihat oleh beberapa orang ini. Padahal, zat aktif yang digunakan pada obat generik sama halnya dengan obat merk yang sejenis. Kesan ada harga ada kualitas sepertinya masih mempengaruhi cara pandang ini. 

Saya paham betul bahwa di kala diri sedang sakit, banyak hal-hal yang terpikirkan. Hal yang saya tangkap selama penelitian saya para pasien memikirkan keluarganya. Mereka merasa tidak berdaya dan merasa tidak berguna di kala mereka seharusnya hadir secara optimal untuk keluarga malah mereka harus meringkuk sakit.

Hal-hal inilah yang perlu kita pahami. Jikalau rekan, keluarga, ataupun kolega teman-teman harus minum obat seumur hidupnya jangan diberikan tatapan kasihan. Berilah tatapan penyemangat dan berikan kata-kata afirmasi agar kepatuhan minum obat terlaksana dengan baik. 

Dan tentunya jika patuh aturan minum obat kondisi kesehatan para pasien bisa terjaga. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Bukan sebaliknya mengamini kalau sakit tidak berdaya dan tidak minum obat.

Hal itu malah menjadikan permasalahan sakit tidak membaik. Jadi mari kita sama-sama memahami bahwasanya sehat itu tidak perlu repot ini dan itu. Tidak perlu berfasilitas mewah, dan opname ditangani dokter kelas yang paling wahid. Mulailah terlebih dahulu dengan patuh aturan minum obat. 

Penulis: Nabial Chiekal Gibran
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Paracetamol, Obat yang Aman tapi Juga “Bahaya”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version