Anime yang Akan Tayang di Indonesia vs Sensor di TV Indonesia

anime boku no hero akademia detective conan kamen rider MOJOK

anime boku no hero akademia detective conan kamen rider MOJOK

Pada 27 juni 2020, tak ada angin tak ada hujan sebuah fanpage anime di Facebook membagikan postingan salah satu TV swasta nasional, Rajawali Televisi atau RTV. Mereka akan menyiarkan salah satu anime action terkenal, yaitu Boku no Hero Academia.

Sontak, banyak teman Facebook saya yang suka anime membagikan postingan tersebut. Di masa tayangan drama Korea yang sedang jadi demam di TV swasta indonesia, RTV berani menayangkan Boku no Hero Academia. Keren.

Jujur, saya sangat salut kepada RTV. Sebelumnya, RTV juga menayangkan beberapa program TV Jepang yang sudah cukup terkenal, Tokusatsu pada khusunya; yaitu Kamen Rider dan Super Sentai dan satu anime yang cukup legendaris di kalangan anak tahun 90-an; Chibi Maruko-chan.

Anime baru tahun 2010-an ke atas memang jarang ditayangkan di TV nasional. Terakhir kalau tidak salah Noragami yang beberapa tahun lalu ditayangkan di GTV yang juga menayangkan Spongebob Squarepants. Dan jam tayangnya jam 3 pagi, siapa yang mau nonton anime di TV pukul 3 pagi?

Untuk yang belum tahu, Boku no Hero Academia, atau My Hero Academia adalah komik Shounen yang ditulis Kōhei Horikoshi dan dimuat di majalah manga “Weekly Shounen Jump”. Di indonesia, komik ini diterbitkan oleh M&C Comics. Komiknya sudah mencapai 26 volume dan animenya sudah mencapai empat musim. Animenya ditayangkan pertama kali pada 2016 sampai musim keempat di tayangkan akhir tahun 2019 kemarin.

Manga ini bercerita tentang seorang anak muda bernama Midoriya Izuku. Dia hidup di dunia di mana semua orang punya bermacam kekuatan yang disebut “quirks” dan menjadi pahlawan super adalah pekerjaan yang banyak diidamkan orang. Midoriya bercita-cita menjadi pahlawan super seperti idolanya, All Might. Namun, dia tidak punya “quirks”.

Setelah membaca postingan tersebut saya berpikir, bagaimana dengan sensor? Inilah yang bikin banyak orang malas nonton TV indonesia. Di Naruto saja darah di sensor atau gambarnya diganti hitam-putih. Padahal, di Boku no Hero Academia, sejak episode awal banyak adegan yang menampilkan darah dan berkelahi, apalagi saat ujian masuk SMA UA.

Tangan Midoriya beberapa kali patah sampai membiru karena tak bisa mengendalikan “quirks”-nya. Lalu, beberapa tokoh perempuan pakai kostum yang cukup terbuka, apalagi jika sampai musim kedua ditayangkan, pasti bagian Toga Himiko banyak yang dipotong.

Sensor, memang dilakukan TV supaya tidak kena teguran Komisi Penyiaran Indonesia. Darah, rokok, adegan pukul-pukulan pasti disensor. Karena sering menonton RTV, saya meyakini kalau Boku no Hero Academia tidak akan ditayangkan pada jam prime time, mungkin di atas pukul 9 atau 10 malam. Tapi ya karena sensor indonesia sedikit bikin emosi, film di jam tayang malam saja masih disensor saat ada adegan berdarah-darah.

Lalu di stasiun NET.TV, pada tanggal 12 juni silam juga mengumumkan menayangkan anime Detective Conan yang cukup legendaris di indonesia. Tapi ya kasus yang ditangani Conan ada pembunuhan, pencurian dan lain-lain. Kalau adegan dipotong-potong, mungkin inti cerita yang disajikan tidak tersampaikan kepada penonton.

Setelah itu saya berpikir, kesambet apa kok mau menayangkan anime yang cukup baru di Indonesia? Mungkin, TV swasta sedang mencoba menggaet pasar anak muda yang menggemari sub kultur jepang, seperti awal drama Korea tayang di sini. Drama Korea awalnya hanya dinikmati pecinta sub kultur Korea, tapi akhirnya banyak orang yang belum menggemari drama Korea jadi suka.

Menurut saya, tayangnya anime di TV Indonesia itu kabar bagus. Apalagi kalau bukan untuk jadi hiburan karena ada TV swasta yang “terlalu suka” menayangkan sinetron kolosal yang pakai naga dari kardus, suara hati istri di-zoom out zoom in, dan lain-lain. Pecinta sub kultur Jepang bisa menonton anime dari layar TV lagi dan mengenalkan anime kepada orang awam.

Dan jika Boku no Hero Academia dan Detective Conan sukses, bisa saja anime-anime lain akan ditayangkan di TV swasta Indonesia. Saya sih berharap Kaguya Sama Love is War, karena itu anime yang tidak ada adegan pukul memukul, jadinya lebih aman dari sensor pihak TV.

BACA JUGA: Ujian Mental di Jalanan Kota Bekasi atau tulisan Rakhmat Darmawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version