Analisis Serius Soal Makna Lagu Aisyah Istri Rasulullah

Awalnya berlebihan kalau lagu Aisyah Istri Rasulullah dianalisis pake teori. Tapi kok lagunya trending dan ngasih pengaruh secara psikis (baca: bikin halu).

Artikel

Avatar

Disclaimer: Analisis makna lagu Aisyah Istri Rasululloh di sini betulan serius, ngutip scholar dan pakai kata-kata yang ndakik-ndakik juga. Kalau nggak kuat baca, silakan dadah-dadah ke kamera.

Awalnya saya pikir terlalu berlebihan kalau lagu Aisyah Istri Rasulullah dianalisis pake teori. Tapi kok ya lagunya sangat trending dan ngasih pengaruh secara psikis buat pendengarnya (baca: bikin halu). Kalau kata Freud dalam teori psikoanalisisnya, manusia emang bergerak atas dorongan irasional kayak dorongan naluri dan biologis, bukan oleh dorongan “kebenaran”. Buktinya, kita lebih banyak melakukan sesuatu yang kita suka, bukan yang kita yakini benar.

Apa hubungannya Freud sama lagu Aisyah Istri Rasulullah ini? Ya itu, kita suka sama lagu ini karena dorongan naluri dan biologis, karena kalau ditelisik secara isi, apakah lagu ini benar dan pantas, harusnya sih kita nggak akan suka. Saya bakal jelasin alasannya kenapa.

Lagu Aisyah Istri Rasulullah, dari dua nama yang ada di judul saya sudah terdengar subhanallah. Bagaimana tidak, Muhammad saw adalah Nabi, dan Aisyah ra adalah istrinya. Tapi, biar bisa memahami lagu ini dan mengungkap maknanya dengan serius, kita harus meminggirkan dulu perasaan subhanallah ini.

Sifat dari teks ialah ia tidak selalu hadir sebagai dirinya, ada makna yang dibawanya. dan cara orang menyampaikan turut memberi andil terhadap pemberian makna.

Walau bagi Paul Ricoeur untuk memahami teks kita perlu melakukan distansi atau mengambil jarak antara subjek dengan teks sehingga subjektivitas tak mereduksi makna. Tapi, bagi Gadamer tak ada yang bisa melepaskan diri dari dari subjektivitas, baik itu penutur maupun yang menangkap tuturan. Selalu ada tendensi orang melahirkan wacana begitupun yang menangkap lalu memberi makna. Apakah itu tendensi historis, politik, romantic, dan lain-lain.

Dalam hermeneutika Ricoeur, untuk memahami wacana dan tindakan ia menjelaskan tiga istilah
1. Lokusi: yaitu tindakan tutur untuk menyatakan sesuatu yang sifatnya informatif
2. Ilokusi: yaitu tutur informatif sekaligus bertujuan melahirkan tindakan tertentu
3. Perlokusi: yaitu tindakan tutur yang mempunyai efek (mendorong, memotifasi, menakut-nakuti, menipu, menghasut dan dorongan-dorongan lain)

Bagi saya, posisi lagu ini sebagai Teks berada pada dua keadaan, yaitu Ilokusi dan Perlokusi. Dengan makna yang menipu (menjadi Aisyah Palsu), sekaligus mendorong untuk segera berrumah tangga. (Ingat kalau kamu masih pelajar atau mahasiswa, ditahan dulu).

Baca Juga:  5 Tipe Tetangga Kos yang Bikin Emosi Jiwa

Seseorang yang mendengarkan atau menyanyikan lagu ini bila tak selektif akan mengalami dampak imajinatif. Seolah ia merasa menjadi seperti Aisyah istri Muhammad saw, Romantis, dan penuh kebahagiaan. Perlu dicatat, Walau lagu itu kamu nyanyikan hingga berbusa-busa mulut, kamu putar hingga liriknya menyatu dengan telinga, dan kamu mengganti nama menjadi Aisyah kamu tidak akan pernah sama dengan Aisyah.

Kamu adalah dirimu. Orang arab menyebutnya tamanny yaitu ibarat orang yang sedang digoreng dalam api neraka lalu memohon untuk dikeluarkan dan dikembalikan ke dunia agar kembali beramal saleh, itulah tamanny, harapan yang tidak mungkin terwujud.

Dalam bukunya Diah Kristina, Analisis wacana kritis, ia menjelaskan Model analisis wacana Versi Van Dijk tentang kognisi sosial bahwa, teks harus diamati sejak awal mula teks itu diciptakan. Apa asumsi yang terbangun di benak produsen teks? Apa agenda yang ingin disampaikannya? Dan bagaimana lingkungan sosial serta latar belakang akademis membentuk pola pikir penutur hingga menghasilkan sebuah teks?

Untuk menjawab ini Van Djik membagi komponen kedalam tiga istilah yaitu : Teks, kognisi sosial, dan konteks.

1. Teks: perlu dicermati bagaimana teks itu dibuat. Dalam lagu Aisyah isteri rasulullah teks dibuat dengan bahasa semenarik mungkin sehingga dapat merasuki hati pendengar (agar pendengar baper dan melankolis).

2. Kognisi Sosial: mempelajari produksi teks yang melibatkan kognisi individu. Bahwa mereka adalah penyanyi atau produser musik yang akan melakukan segala upaya agar produksinya terkenal sehingga hal itu memberi untung, apakah secara individu demi banyaknya viewer, followers, maupun secara komunitas ketenaran produsernya.

3. Konteks: mengkritisi konstruksi wacana bahwa setiap format harus diasumsikan memiliki segmentasi konsumennya masing-masing. Sebelum produsen menciptakan lagu, ia harus berpikir desain seperti apa yang bisa diterima oleh konsumen. Maka perlu persesuaian, artinya kalau produksinya seperti ini maka dalam pandangan produsen bahwa kunsumennya ya seperti itu, buktinya apa? Itu produksinya bisa laku.

Sehingga bagian akhir dalam analisis teks ialah ingin mengungkap makna. Makna dari lagu Asiyah istri rasulullah yaitu ingin merepresentasikan kecintaannya pada aisyah sekaligus produsen teks ingin eksis supaya musik-musiknya laku, dan dampaknya konsumen yang kurang saring akan terjebak perasaan melankolis, sampai ingin segera seperti mereka padahal belum saatnya.

Ketidakbenaran pun kalau diulang-ulang secara terus menerus maka akan diterima dan dianggap sebagai kebenaran ideal, seperti lagu ini, kalau diulang-ulang pada mereka yang belum ideal dihawatirkan ada yang mau jadi Aisyah-Aisyah-an dan Muhammad-Muhammad-an bukan pada akhlaqnya yang uswatun hasanah melainkan sebagai suami-isteri ideal oleh mereka—yang masih di usia dini, mengingat kenyataannya lagu ini juga sangat laku baik dari usia paruh baya bahkan sampai anak-anak.

Baca Juga:  Panjang Umur untuk Senior yang Nggak Baper saat Diledek Balik

Setiap bahasa merupakan cermin dari konstruksi sosial. Kembali ke Psikoanalisisnya Freud bahwa manusia dikendalikan oleh sesuatu yang disukai oleh alam bawah sadarnya, apa jadinya jika semua anak-anak maupun remaja di bawah umur yang suka dengan lagu semacam ini menuntut dirinya untuk menjadi demikian? Jangankan anak-anak, orang-orang tua saja dihadapan apa yang diingini rasionalitasnya menjadi tak berdaya.

Saya berasumsi, seandainya Nabi Muhammad saw dan Aisyah ra masih hidup, mereka tak akan sudi namanya dinyanyikan dan diekspresikan secara sensual seperti sekarang ini.

Tapi kita bebas dalam menangkap makna, dalam konsep Roland Barthes ia menyebutnya sebagai Death of The Author atau kematian sang penutur. Ketika suatu teks keluar menjadi tuturan maka ia bukan lagi milik penutur melainkan bebas diberi makna oleh yang menerima tuturan. Apakah Lagu ini menjadi motivasi, menggelikan, atau bikin mual itu tergantung pre-understanding yang dimiliki masing-masing individu.

Sementara Produsen teks semakin eksis, konsumennya terjebak kemageran dan keinginan untuk terus rebahan. Dua keadaan yang berbanding terbalik. Mereka untung panggung mentasnya terbuka lebar, kamunya rugi, rugi waktu, pemikiran, maupun perasaan diarahkan untuk mengahayal.

Kalau mau jadi Aisyah ra, jangan hanya lihat aspek rumah tangganya saja, perhatikan juga aspek lain. Ia adalah perempuan cerdas yang menguasai banyak bidang ilmu, menghafal ribuan hadis. Kamu, berapa buku yang sudah dibaca? Aisyah adalah Ummul Mukminin yang pernah melakukan konsolidasi besar, memimpin perang jamal menuntut keadilan. Kamu? sudahkah perang melawan rasa malas, rasa jenuh, dan rasa-rasa yang menghambatmu untuk maju? Lalu modal kamu jadi Aisyah apa? Rebahan?!

BACA JUGA Yang Tidak Dinyanyikan dalam Lagu Aisyah Istri Rasulullah atau tulisan Abdul Gani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
50


Komentar

Comments are closed.