Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor

Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor Mojok.co

Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor (unsplash.com)

Vespa matic kini jadi ikon gaya hidup baru. Desain klasik dan timeless, serta performa mesinnya yang halus jadi daya tarik utama motor ini. Nggak heran kalau Vespa matic jadi pilihan mereka yang ingin kendaraan roda dua premium. 

Akan tetapi, di balik kesan premium, Vespa matic sering mendapat kritik tajam dari kalangan para mekanik.  Tukang servis motornya membencinya karena kendaraan satu ini benar-benar merepotkan. 

Sejarah dan popularitas Vespa matic di Indonesia

Sebelum membahas kendaraan ini lebih jauh, saya ingin sedikit menjelaskan bagaimana Vespa matic ini bisa begitu populer di Indonesia.

Vespa pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan Italia, Piaggio, pada 1946 sebagai solusi transportasi murah pasca-Perang Dunia II. Desainnya yang sederhana, ringan, dan efisien membuatnya cepat populer di Eropa. Evolusi Vespa ke versi matic atau otomatis baru dimulai pada akhir abad ke-20. 

Di Indonesia, Vespa mulai dikenal sejak 1960-an melalui impor dan lisensi produksi lokal. Popularitasnya meledak pada 2010-an berkat tren retro dan gaya hidup urban. Popularitas Vespa matic di Tanah Air tak lepas dari citra premiumnya. Bagi kalangan muda dan profesional, memiliki Vespa bukan hanya soal perkara transportasi, tapi juga simbol status.

Selain desain, Vespa Matic menawarkan kenyamanan berkendara yang superior. Suspensi depan single-sided swingarm memberikan stabilitas lebih baik di jalan bergelombang. Sementara mesin injeksi modernnya hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Vespa Matic juga dilengkapi teknologi canggih seperti ABS (Anti-lock Braking System) pada model high-end, konektivitas Bluetooth untuk dashboard digital, dan desain ergonomis yang nyaman untuk perjalanan jauh.

Akan tetapi, semua keunggulan itu harus diganjar dengan harga yang tidak murah. Harga Vespa Matic baru bisa mencapai Rp40-100 jutaan, jauh di atas motor matic Jepang seperti Honda Scoopy atau Yamaha NMAX yang hanya sekitar Rp20-30 juta.

Perawatan repot

Di balik desain dan fiturnya, Vespa matic menyimpan catatan kecil bagi pemilik maupun tukang servis. Tidak sedikit pemilik yang mengeluhkan biaya servis rutin yang mahal, bisa mencapai Rp1-2 juta per kunjungan di dealer resmi. Sementara itu, suku cadang seperti ban Pirelli atau filter oli asli harganya dua kali lipat dari merek lain. 

Apalagi di daerah seperti Jawa Tengah, di mana infrastruktur jalan belum sempurna, biaya perbaikan bisa membengkak karena potensi terjadi kerusakan bisa lebih sering. Belum lagi kelangkaan dealer. Di Indonesia, jaringan Piaggio masih terbatas dibanding Honda atau Yamaha, sehingga pemilik di luar kota besar harus bepergian jauh untuk servis. Ini menambah biaya waktu dan transportasi. 

Intinya, tidak hanya harga pembelian yang mahal, Vespa matic juga mahal dan repot secara perawatan. 

Baca halaman selanjutnya: Vespa matic dibenci …

Vespa matic dibenci tukang servis

Tidak hanya tantangan bagi pemilik, Vespa matic juga jadi persoalan sendiri bagi para mekanik karena kerumitannya. 

Desain Vespa matic unik, tidak seperti motor matic Jepang. Vespa menggunakan sistem transmisi CVT dengan belt khusus. Untuk mengganti oli atau membersihkan karburator, mekanik harus membongkar banyak bagian, yang memakan waktu berjam-jam. “Vespa ini seperti puzzle Italia, susah dibuka tapi gampang rusak kalau salah,” kata seorang mekanik yang pernah saya tanya.

Tantangan lain ada pada suku cadang mahal dan langka. Banyak komponen Vespa impor langsung dari Eropa, sehingga harganya selangit. Misalnya, shock absorber depan bisa Rp5 juta, sementara di motor lain hanya Rp500.000. Bengkel nonresmi sering kesulitan mendapatkan parts asli, dan menggunakan KW bisa merusak mesin. Ini membuat mekanik enggan menerima Vespa karena risiko tinggi jika ada kesalahan.

Kerepotan lainnya

Selain itu, perlu tools khusus untuk servis Vespa matic. Tukang servis perlu alat spesial seperti torque wrench khusus atau scanner OBD untuk diagnosa elektronik. Bengkel kecil biasanya jarang punya alat ini, sehingga mereka terpaksa menolak atau mengenakan biasa ekstra. 

“Saya benci Vespa karena bikin capek dan nggak untung,” ujar mekanik lain yang pernah saya tanya. Selain itu, manual servis Vespa rumit, dengan instruksi dalam bahasa Inggris atau Italia, yang tidak semua mekanik pahami.

Kerepotan itu belum termasuk masalah overheat atau kebocoran oli sering muncul karena desain klasik yang tak sepenuhnya adaptif dengan iklim tropis Indonesia. Di jalan macet dan di bawah terik matahari, Vespa mudah panas dan perbaikan memerlukan skill tinggi. Ini kontras dengan motor Jepang yang “plug and play”.

Akibatnya, banyak mekanik menyarankan pemilik untuk ke dealer resmi, yang antreannya panjang dan mahal.

Meski dibenci, ada juga mekanik yang justru menyukainya, biasa sih mekanik spesialis Vespa yang bakal menguliknya. Komunitas modifikasi Vespa di Indonesia juga sering berkolaborasi dengan mereka untuk upgrade performa. Namun, secara umum, reputasi “mahal dan rewel” membuat Vespa kurang favorit mekanik di bengkel.

Penulis: Budi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version