Adik Saya Masih SD dan Ia Mengaku Sedang Jatuh Cinta. Ini Respons Saya

Alya, Pemegang Kunci Cerita AADC yang Katanya “Lebih Baik” daripada Cinta anak sd jatuh cinta anak kecil pacaran suka lawan jenis cara menyikapi orang dewasa orang tua panduan mojok.co

anak sd jatuh cinta anak kecil pacaran suka lawan jenis cara menyikapi orang dewasa orang tua panduan mojok.co

Di atas kendaraan, adik saya cerita bahwa ia tengah jatuh cinta pada seorang wanita berinisial L. Saya berusaha sekuat mungkin tidak tertawa, menghargai perasaannya.

Orang tua zaman dulu menyebut gejala ini cinta monyet, sampai-sampai ada lagunya, dibawain band Goliath, tapi saya nggak mau nganggap cinta adik saya itu cinta monyet. Saya enggak mau nganggap cinta adik saya itu cuma cinta-cintaan yang kemudian pantas untuk ditertawakan—walaupun ya saya pengin ketawa. Setidaknya saya berusaha merespons curhatannya dengan serius.

Apa salahnya kalau anak kecil jatuh cinta pada lawan jenis? Kan tidak. Wajar kok, anak kecil juga punya perasaan. Mereka juga bisa benci, suka, dengki, dan merasakan perasaan lainnya. Cinta kan bagian perasaan juga.

Saya nggak mau menyepelekan perasaannya karena menurut saya, selama ini orang tua kita terbelenggu makna jatuh cinta itu pasti pacaran, dan pacaran berarti enak-enakan, maksiat, kacau, orang enggak bener. Padahal, makna seperti ini klise dan sudah basi. Imbasnya, banyak anak yang tak berani membagi cerita tentang percintaannya ke orang tua, ke keluarga. Mereka takut bakal diketawain, takut bakal langsung dituduh berbuat yang enggak-enggak. Seolah perasaan jatuh cinta adalah dosa.

Terus si anak jadi tidak tahu bagaimana seharusnya mengekspresikan perasaan jatuh cintanya. Mereka akan mencari orang lain yang kira-kira akan lebih nyaman untuk dicurhati, dan satu-satunya yang biasanya bisa mendukung curhatannya adalah justru teman sebayanya yang bahkan tidak tahu juga bagaimana itu cinta yang “wajar” untuk anak kecil. Atau lebih parahnya lagi, sebab media sosial sudah menjadi keseharian anak-anak sekarang, mereka otodidak, meniru segalanya dari sana. Tanpa terbatas.

Akhirnya orang tua dan keluarga kehilangan kendali atas perbuatan anaknya. Jangankan anak kecil, orang dewasa saja paham cinta bisa membuat orang melakukan hal tak terduga. Jadi bayangkan saja anak-anak yang jatuh cinta tanpa dampingan orang tua.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan menghadapi anak-anak yang sedang jatuh cinta?

Pertama, buka ruang seluas-luasnya untuk anak bercerita, tentang apa pun. Sederhana, anak tidak akan mau cerita, apalagi tentang cinta, jika tidak kepada orang terdekatnya, orang kepercayaannya. Jika dengan keluarganya saja tidak dekat, anak tidak akan berani bercerita pada kita. Dan itu akibatnya bisa buruk, anak bisa jadi mencari tempat curhat lain yang belum tentu bijaksana.

Kedua, jika anak sudah berani berbicara tentang cinta pada kita, suka pada lawan jenis, dengarkan saja dengan saksama. Biarkan mereka merasa aman dengan privasi atas perasaannya.

Ketiga, jangan beri judgement, penilaian, penghakiman kepada si anak. Jangan langsung dilarang pacaran kayak kebiasaan orang tua kita. Bisa jadi si anak cuma cerita dia suka sama seseorang tanpa tahu pacaran itu apa, lebih-lebih sampai ingin melakukannya. Setelah itu baru kita ajak diskusi gimana cara mengelola rasa cintanya biar menurut kita, tetap wajar-wajar aja.

Kepada adik, saya sampaikan ke dia bahwa jatuh cinta itu alamiah. Semua manusia akan merasakannya. Saya juga mempersilakannya untuk nembak orang yang dicintainya, meski dia masih kelas 5 SD. Syaratnya, dia harus terus melaporkan perkembangannya kepada saya. Kalau mau nembak, curhat lagi. Hasil nembaknya diterima atau ditolak, curhat lagi. Dan seterusnya, biar saya tahu bagaimana dia menyikapi perasaan cinta yang masih asing baginya.

Ini terlihat sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Anak-anak zaman sekarang dapat mengakses informasi yang kita orang dewasa mungkin tak bisa bayangkan, tapi dengan pemahaman tak seutuh orang dewasa. Oleh karena itu, memberi anak akses untuk bercerita merupakan hal penting agar kita tidak cuma jadi keluarga sedarah, tapi juga temannya tumbuh berkembang.

BACA JUGA Selamat, Kamu Tidak Juara Kelas, Dik! dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version