Informasi

Adab bimbingan skripsi yang hilang: dosen pembimbing bukan customer service 24 jam, pahami!

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas Mojok.co bimbingan skripsi

Saya tidak habis pikir melihat sebuah polemik tentang bimbingan skripsi yang ramai di Threads dan Tiktok. Konteksnya begini, jadi ada seseorang mengunggah pengalamannya sebagai mahasiswa yang kesulitan menghubungi dosen pembimbing skripsinya.

Dia bercerita sambil membagikan potongan percakapan dari WhatsApp dan sebuah foto saat dirinya sidang. Kesan yang digambarkan adalah sang dosen terlihat apatis, cuek, karena berkali-kali tidak merespons percakapan tersebut. Padahal, menurut si mahasiswa ini, dia harus segera mengejar kelulusan.

Karena warga Wakanda ini terkenal emosional, postingan tentang bimbingan skripsi itu pun mendapat reaksi keras. Terlebih stigma soal dosen yang selama ini tertanam kan soal sulitnya dihubungi mahasiswa ketika ingin bimbingan. Akhirnya, kasus ini memicu ledakan emosi. Dosen tersebut dianggap nggak profesional, diminta dicabut status dosennya, bahkan komentar lain sudah mengarah ke makian, hujatan, sumpah serapah, dan doa-doa buruk.

Nah masalahnya, di Threads, muncul sebuah klarifikasi dari anak dosen yang membuat saya menyadari bahwa cerita dan masalahnya ternyata tidak sesederhana itu. Di postingan itu, diperlihatkan bahwa memang ada chat yang tidak direspons, tetapi ada pula chat yang direspons oleh dosennya. Isinya soal menentukan jadwal bimbingan, memberikan koreksi dan revisi, meminta mahasiswa tersebut mengirimkan naskahnya, sampai mempersilakan mahasiswa mendaftar ujian.

Yang menarik perhatian saya, ada chat dari mahasiswa yang seolah menentukan secara saklek jadwal bimbingan skripsi. Lah, jadi mahasiswanya nih yang ngatur-ngatur? Dan menurut cerita dari anak dosen tersebut, si mahasiswa ini baru intens melakukan bimbingan mendekati akhir semester setelah sebelumnya menghilang tanpa kabar.

Karena saya tidak tahu keseluruhan hubungan keduanya, maka saya tidak ingin menyalahkan salah satu pihak. Namun kasus ini membuat saya ingin menarik konteksnya soal satu hal yang penting dalam relasi akademik, yaitu adab dalam berhubungan dengan dosen pembimbing.

Adab bimbingan skripsi yang harus diketahui

Sebagai mahasiswa, kita perlu tahu bahwa ada beberapa adab yang setidaknya membuat kita dihargai dan disayang oleh dosen pembimbing.

Ada pertama dan yang paling mendasar adalah jangan menjadi mahasiswa hantu yang lama menghilang lalu mendadak muncul ketika tenggat kelulusan sudah semakin dekat. Kemudian dengan tanpa dosa menuntut semuanya serba cepat. Ingat baik-baik, skripsi itu tanggung jawab mahasiswa.

Dosen memang punya kewajiban membimbing, tapi soal menjaga progress dan komunikasi ada di tangan mahasiswa itu sendiri. Kalau satu semester mahasiswa santai kemudian sebulan sebelum tenggat waktu kelulusan muncul dengan kepanikan, maka mahasiswa tidak bisa seenaknya menuntut dosen pembimbing mengikuti ritme kepanikannya. Enak aja, Anda yang molor, dosen yang diminta cepat.

Adab kedua adalah tentang menentukan jadwal. Saya sering mendengar keluhan dosen pembimbing tesis saya soal mahasiswa yang tiba-tiba mengirim chat, “Pak, saya ingin bimbingan skripsi hari Senin tanggal sekian.” Lah sudah lama nggak muncul, terus tiba-tiba menuntut dosen yang mengikuti jadwal mahasiswa. Lah kamu kira dosen ini kerjanya cuma overthinking di kamar kayak kamu?

Ada baiknya jika bertanya terlebih dahulu, “Apakah Bapak/Ibu berkenan jika saya meminta kesediaan waktu bimbingan skripsi pada pekan ini? Jika berkenan, kira-kira pada hari apa saya bisa menemui Bapak/Ibu?” Komunikasikan itu setiap awal minggu untuk tahu jadwal dosen pembimbing satu minggu ke depan. Kalau memang ingin memberikan pilihan, tawarkan dua atau tiga tanggal, lalu biarkan jamnya mengikuti kesediaan dari dosennya.

Paham waktu boleh lho

Adab yang ketiga, pahami soal waktu menghubungi dosen. Sebaiknya kirim pesan pada jam kerja, kecuali memang ada urusan yang mendesak. Kalau tidak dibalas satu kali, itu nggak berarti ada pengabaian dari dosennya. Dari pengalaman saya, saya biasanya menghubungi dosen pada pagi hari. Jika belum ada respons, akan saya hubungi lagi saat siang, lalu saya ingatkan kembali saat sore hari.

Dalam konteks yang mendesak, misalnya hanya butuh tanda tangan dosen pembimbing, saya biasanya mengirimkan pesan sebagai pengingat sekitar dua jam sekali. Tetapi kembali lagi, itu pengecualian, bukan komunikasi rutin yang dilakukan setiap kali bimbingan skripsi. Lagi pula, kalau memang dosen yang bersangkutan tidak menanggapi hingga berminggu-minggu, ya langsung konsultasikan dengan pihak prodi atau jurusan.

Kita perlu menyadari kalau pembimbing kita bukan hanya membimbing satu orang. Bisa jadi ada mahasiswa lain dari kalangan S2 atau S3. Selain itu mereka juga punya tanggung jawab lain, mulai dari mengajar, meneliti, dan urusan administrasi lainnya. Mereka juga tentu punya kehidupan di luar kampus yang harus dijalani. Memahami soal ini cukup menjadi alasan agar kita tidak mikir kalau chat kita diabaikan.

Adab yang keempat, adalah jangan cuma ngandelin WhatsApp atau email. Setidaknya berusaha datang ke kampus. Cari tahu jadwal dosennya, tanyakan kepada teman apakah dosen sedang mengajar pada hari itu.

Saya biasanya akan menanyakan ke mahasiswa junior, kira-kira dosen pembimbing saya mengajar mereka pada hari apa saja di minggu tersebut. Saya akan menunggu beliau setelah kelas dan langsung menemuinya. Jadi ada effort, nggak cuma nunggu dibalas chatnya aja!!!

Pada saat bertemu, tetap menanyakan apakah dosennya bersedia memberikan bimbingan skripsi walau 15 menit? Itu tanda kita memahami kesibukan dari dosen pembimbing.

Bawa progress skripsi yang jelas

Adab kelima yang sering dilupakan adalah datang membawa perbaikan dan progress yang jelas, jangan cuma mengeluh dan panik. Dosen tentu nggak mungkin membaca semua skripsi secara menyeluruh, maka dari itu kerjakan revisi yang diberikan, kemudian preview revisi dari dosennya agar beliau mengingatnya, setelah itu sampaikan perbaikan yang sudah dilakukan.

Tandai apa saja yang sudah diperbaiki, susun pertanyaan dan sampaikan kesulitan dengan jelas. Jangan jadi mahasiswa ngeyel yang selalu membawa kesalahan yang serupa sehingga membuat dosen kesal dan kembali menyoroti bab yang sama. Efek buruknya kembali ke mahasiswanya sendiri.

Saat mendapatkan kritik, artinya skripsi kita masih ada ruang untuk diperbaiki. Dan itu baik agar semuanya jadi lebih siap saat disidangkan nanti. Selain itu, yang terpenting adalah ketika ada masalah serius, maka kedepankan komunikasi dengan pihak terkait dulu.

Bicarakan terlebih dahulu dengan dosen terkait. Kalau sulit, maka dengan dosen wali, koordinator prodi, atau pihak akademik lainnya. Jangan semuanya langsung dilempar ke media sosial. Viralitas tidak selalu membawa kebaikan. Dia bisa saja jadi api yang membakar siapa pun, bahkan pada mahasiswa itu sendiri.

Saya paham frustrasinya bimbingan skripsi, tapi…

Sebagai seseorang yang dua kali menjadi mahasiswa, saya paham bagaimana frustasinya ketika mengerjakan skripsi dan tesis. Sangat sah ketika seseorang mengeluh dengan bilang, “beberapa kali pesan saya nggak direspons dan itu bikin saya kesulitan ke proses berikutnya.”

Tapi itu semua sangat berbeda efeknya ketika seseorang justru memilih memajang tangkapan layar yang tidak utuh sehingga melahirkan framing tertentu di media sosial.

Melihat kasus ini, saya makin tahu bahwa dunia akademik kita perlu banyak berbenah. Terutama soal cara menghargai waktu, menghormati orang lain, dan berhati-hati ketika menceritakan seseorang di ruang publik seperti media sosial.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Tipe Dosen yang Nggak Cocok Jadi Dosen Pembimbing Skripsi. Mahasiswa Lebih Baik Menghindarinya demi Lulus Tepat Waktu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.