Kalau ada satu nama yang layak menggantikan Tok Dalang sebagai kepala Kampung Durian Runtuh dalam serial Upin Ipin, itu adalah Abang Iz.
Sebagai penonton setia Upin Ipin sejak masih belum masuk sekolah sampai usia awal 20-an, saya sampai pada satu kesimpulan penting. Kampung Durian Runtuh sebenarnya tidak kekurangan tokoh, tapi mengapa Tok Dalang belum pensiun dan melakukan regenerasi kepemimpinan?
Tok Dalang, sebagai figur sepuh yang selama ini menjadi penenang konflik dan penyangga moral kampung, tentu tidak bisa selamanya aktif. Usia dan kebijaksanaan ada masanya untuk diwariskan. Setiap orang ada zamannya. Pertanyaannya, siapa yang pantas menggantikan posisi Kepala Desa Kampung Durian Runtuh?
Jawabannya, setelah bertahun-tahun observasi santai dari layar televisi, mengerucut pada satu nama: Abang Iz.
Kemampuan Abang Iz dalam serial Upin Ipin
Abang Iz bukan tipe tokoh yang sibuk memberi nasihat tanpa praktik. Dia seorang wirausahawan yang hidupnya penuh trial and error. Kedai Runcit yang berhasil dia kelola setelah diakuisisi dari Abang Zain menunjukkan satu hal penting: dia bisa mengelola aset, bukan cuma bermimpi.
Belum lagi portofolio pekerjaannya yang absurd tapi realistis. Abang Iz memiliki kerjaan sampingan sebagai sales asuransi, sales filter air, sampai inovator kuliner dadakan. Ini bukan sekadar gimik karakter, tapi gambaran nyata orang yang paham cara bertahan hidup di ekonomi kampung. Seorang kepala desa ideal memang bukan yang paling pintar pidato, tapi yang tahu cara dapur tetap ngebul.
Sosok dermawan tanpa hobi pencitraan
Kalau dibandingkan dengan Mail yang hitungannya detail sampai ke sen terakhir, atau Ah Tong yang jelas-jelas pebisnis murni, Abang Iz dalam serial Upin Ipin berdiri di tengah. Dia berdagang, tapi empatinya tetap hidup.
Dalam episode Gerobok Rezeki, Abang Iz menyisihkan dagangannya untuk warga kurang mampu tanpa drama kamera dan baliho. Dia bahkan mengajak kolaborasi, bukan mengambil panggung sendirian. Ini kualitas langka, bahkan di dunia nyata, yaitu membantu tanpa perlu terlihat paling baik.
Empati yang tidak sekadar basa-basi
Satu hal yang sering luput dari kandidat pemimpin adalah empati praktis. Abang Iz dalam serial Upin Ipin menunjukkannya lewat kunjungan ke panti werdha. Dia tidak datang sebagai pahlawan, tapi sebagai manusia yang mau mendengar dan menemani.
Pemimpin kampung bukan hanya pengatur administrasi, tapi pengayom emosi warganya. Dan Abang Iz, entah disengaja atau tidak oleh penulis skenario, punya itu.
Dia dengan sukarela memberi bantuan tanpa imbalan. Selain pada episode Panti Werdha, dia juga mentraktir si kembar Upin Ipin yang merupakan yatim-piatu jajan es krim. Abang Iz juga menggalang dana untuk surau yang terbakar, menolong Tok Dalang ketika terjatuh dari motor sehingga karpet masjid yang dibawa jadi kotor semua. Pokoknya Abang Iz memenuhi standar dari segi empati.
Baca juga: 5 Cameo dalam Upin Ipin yang Selalu Berhasil Mencuri Perhatian Penonton.
Abang Iz Upin Ipin serbabisa tapi tetap membumi
Abang Iz religius, bisa jadi imam, jago olahraga, bisa bermusik, memancing dan tampil menjadi dirinya sendiri. Multitalenta tanpa terlihat sok paling bisa.
Ini penting, karena pemimpin desa sering kali harus jadi segalanya dalam satu waktu: panitia, penengah, motivator, bahkan MC acara tujuh belasan. Hal ini sebelas dua belas juga dengan profil Tok Dalang sebagai lansia produktif dengan berbagai kesibukan dan keahlian. Mereka berdua pun tidak menyombongkan keahlian.
Abang Iz dan fantasi kepemimpinan ideal
Jika Kampung Durian Runtuh dalam serial Upin Ipin adalah miniatur masyarakat, maka Abang Iz adalah gambaran pemimpin ideal versi rakyat kecil. Mottonya adalah bekerja, peduli, dan tidak menganggap dirinya sempurna tapi terus melakukan koreksi serta perbaikan.
Barangkali ini yang membuat karakter Abang Iz terasa relevan. Jujur saja, kalau dunia nyata punya lebih banyak “Abang Iz”, mungkin urusan kepemimpinan lokal tidak akan serumit sekarang.
Jadi, jika suatu hari Tok Dalang memilih pensiun dengan tenang, saya tidak ragu. Kampung Durian Runtuh dalam serial Upin Ipin sudah punya penerus yang layak, yaitu Abang Iz.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA 5 Alasan Abang Iz Lebih Cocok dengan Kak Ros di Upin Ipin.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
