Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Protektifnya Bapak-bapak dengan Alat Pertukangan Mereka

Iqbal AR oleh Iqbal AR
20 Desember 2020
A A
Betapa Protektifnya Bapak-bapak dengan Alat Pertukangan Mereka terminal mojok.co

Betapa Protektifnya Bapak-bapak dengan Alat Pertukangan Mereka terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Selama ini kita selalu mengenal kaum ibu-ibu sebagai kaum yang super protektif ketika berurusan dengan wadah makanan atau minuman Tupperware. Bertahun-tahun jokes itu selalu muncul dan menghiasi hari-hari semua orang. Tentu, tidak sedikit yang bosan dengan jokes tersebut. Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, jokes ibu-ibu dan Tupperware ini sebenarnya sudah berlebihan. Bukan berarti jokes seperti ini jelek, tapi mbok ya diganti yang lebih fresh gitu. Kalau boleh usul, misalnya, soal betapa protektifnya bapak-bapak dengan alat pertukangan mereka.

Bagi masyarakat urban, metropolitan, hal ini tentunya agak kurang relate. Wajar, orang-orang kelas menengah ke atas tidak punya waktu (dan mungkin tidak punya skill) untuk “nukang” atau mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari membetulkan ledeng, kran air, genteng bocor, sampai membangun rumah. Bagi masyarakat desa, atau sub-urban kelas menengah ke bawah, ini adalah sesuatu yang akrab sekali. Terutama bagi bapak-bapak. Mereka seakan punya tuntutan harus punya kemampuan “nukang” walaupun hanya bisa memaku tembok atau memasang bohlam.

ADVERTISEMENT

Di balik semua ini, muncul satu fenomena yang sebenarnya cukup lucu dan mirip dengan ibu-ibu yang protektif terhadap Tupperware. Iya, di balik segala hal tentang kuli, tukang, perkakas, dan segala macamnya, ada bapak-bapak yang sangat protektif terhadap alat-alat pertukangannya. Memang terdengar aneh bagi orang-orang yang awam dengan dunia pertukangan. Namun, bagi orang yang cukup akrab seperti saya, fenomena ini sudah lumrah. Saya yakin bahwa fenomena ini tidak terjadi di lingkungan tempat tinggal saya saja, tapi di mana-mana

Saya pernah dapat cerita dari ayah saya tentang betapa protektifnya kakek saya dulu terhadap peralatan tukangnya. Mulai dari gergaji, tang, obeng, palu, linggis, hingga meteran pun tidak akan dipinjamkan kepada siapa pun. Mungkin sebagian orang menganggap kakek saya pelit, (saya dulu juga menganggap begitu, sih). Akan tetapi, ada alasan mengapa kakek saya bisa seprotektif itu pada alat pertukangan milik beliau. Ya bagaimana tidak protektif, dua buah gergaji, satu buah tang, dan dua buah selang air kecil, tidak pernah kembali setelah dipinjam oleh orang. Mungkin batas toleransi kakek saya sudah habis, maka jadilah beliau sangat protektif terhadap alat pertukangannya.

Ternyata, kejadian itu menimpa paman ayah saya juga. Saya mendapat ceritanya beberapa hari lalu, ketika beliau sedang mengerjakan calon kamar baru saya. Ceritanya, beliau habis beli gergaji baru, dan ketika dua kali pakai, ada tetangga mau pinjam. Paman ayah saya memberikan pinjaman gergaji, tetapi bukan gergaji baru, melainkan gergaji lama yang sudah agak jelek. “Takut hilang atau tidak kembali. Masih baru e ini,” katanya pada saya. Jadi, di balik sikap cueknya, bapak-bapak kadang punya satu sifat posesif, yaitu pada alat pertukangannya.

Bahkan, tidak jarang permasalahan alat pertukangan ini bisa jadi masalah yang runyam. Misalnya kita meminjam gergaji pada tetangga yang sudah bapak-bapak, lalu gergajinya hilang, rusak, atau tidak kita kembalikan. Jangan harap hubungan kita dengan bapak-bapak tetangga itu akan kembali baik seperti semula. Bapak-baak itu akan diselimuti kemarahan dan kesedihan akan gergajinya. Sementara kita akan selalu diselimuti rasa bersalah yang sangat dalam. Belum lagi kalau sampai bapak-bapak itu marah-marah sama kita, ya habis dilalap kita sama bapak-bapak tetangga hanya karena satu alat pertukangan.

Menarik memang mengamati satu sifat unik bapak-bapak ini. Kok, ya bisa protektif itu sama alat tukang. Padahal, kalau dibandingkan dengan ibu-ibu dan Tupperware, prestisenya pun kalah jauh. Tupperware setidaknya masih bisa dipamerkan ke orang lain, dipajang, atau dibawa ke mana-mana. Lha alat tukang? Paling ya dipakai sebulan sekali atau dua kali. Itu pun pamernya paling ke tukang-tukang lainnya, tidak bisa e khalayak umum. Dipajang pun tidak bisa, dibawa ke mana-mana apalagi. Dari segi harga pun juga tidak beda jauh kalau mau cari tengah-tengahnya. Namun, di sinilah menariknya. Betapa bapak-bapak itu sangat cinta, melindungi, bahkan posesif terhadap alat pertukangannya. 

BACA JUGA 4 Alasan Tupperware Ketinggalan Selalu Bikin Ibu atau Istri Marah dan tulisan Iqbal AR lainnya.

Baca Juga:

Pak Menkes, yang Wajib Pintar Nggak Cuma Ibu, Bapaknya Juga!

Ejekan Nama Bapak yang Menciptakan 6 Momen Menyebalkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: alat tukangBapak
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

bahagia

Jadilah Bahagia Walau Tidak Terlahir Dari Keluarga Kaya, Nak

29 Juni 2019
Pembagian Peran Ibu dan Bapak di Mata Anak Kelas 1 SD (Pixabay)

Hasil Pengamatan Anak Kelas 1 SD: Ibu Doyan Lembur, Bapak Masak dan Merapikan Rumah

1 November 2022
5 Lagu Sunda yang Maknanya Nggak Kalah sama 'Cidro' dan 'Sewu Kutho' terminal mojok.co didi kempot campursari sunda keroncong sunda

Mendengarkan Didi Kempot, Mengulang Masa Lalu

5 Mei 2020
hari tua bapak

Menikmati Hari Tua Seperti Bapak

18 Juni 2019
5 Alasan Bapak Sendiri Adalah Instruktur Menyetir Terbaik

5 Alasan Bapak Sendiri Adalah Instruktur Menyetir Terbaik

11 Oktober 2022
bapak

Bapak

4 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.