Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tradisi Palugada di Industri Kreatif, Perlu atau Malah Bikin Sengsara?

Dimas Bagus oleh Dimas Bagus
28 November 2020
A A
Tradisi Palugada di Industri Kreatif, Baik atau Buruk? terminal mojok.co

Tradisi Palugada di Industri Kreatif, Baik atau Buruk? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Wah, gemuk banget nih organisasinya…”

“Duh, kebanyakan hierarki!”

“Lho, ini harusnya bisa dikerjain langsung sama 1 orang, nih!”

Mungkin begitulah cara kita memandang soal kondisi organisasi sebuah institusi atau perusahaan yang banyak berisi “baby boomers”. Eh, tapi sebentar. Tradisi palugada begini ternyata juga eksis akhir-akhir ini dan banyak banget mendapat kecaman dari pelaku industri, terutama industri kreatif. Ejekan-ejekan ini banyak hadir di sebuah grup anak-anak agency terbesar (se-Indonesia) di Facebook yang kini postingan lokernya lebih banyak dari postingan sharing ilmunya.

Contohnya, ada seorang employer yang mem-posting informasi loker untuk posisi “videografer”. Di mana employer itu, katakanlah, ya nggak paham-paham banget apa sih itu “videografer”. Intinya dia ingin merekrut individu yang bisa membuat video dengan mengambil gambar lalu mengeditnya. Selain itu, ia bisa mengoperasikan beberapa software yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut.

Yang menarik, di kolom komentar di antara timbunan link-link portfolio, ada satu individu yang dengan justifikasi pengalamannya menjabarkan apa sih “videografer” itu. Si fulan ini terlebih dahulu menertawakan informasi loker tersebut. Katanya, ini sih “kerjaan dua orang tapi gaji satu orang”. Menurutnya, untuk mengambil gambar dan mengedit video butuh dua personil karena keduanya adalah disiplin ilmu yang berbeda. Saya paham betul apa maksudnya.

Contoh menarik lagi, yaitu tentang sebuah pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini meroket dan banyak dicari, yaitu seorang social media specialist. Ada seorang social media manager, ada seorang content writer, ada seorang admin, ada seorang analyst, dan ada buanyaaak yang lainnya. Intinya, ia mahir menggunakan media sosial dan paham seluk beluk algoritma dan bisa mengoperasikannya sebagai media yang ampuh untuk menumbuhkan bisnis perusahaan atau brand.

Beberapa hari kemudian, di grup yang sama, ada sebuah loker dari seorang employer yang ingin merekrut “social media specialist” dengan tugas, content writing, graphic design, bisa mengoperasikan Ads, mahir Photoshop, bisa membuat strategi digital, dan yang lainnya. Maka, mudahlah menebak isi respons-respons di kolom komentar. “INI SIH PALUGADA BANGET YA ALLAH MO NANGISSS,” kata seseorang yang paling menancap di ingatan saya.

Baca Juga:

Mengenal Baeksang Arts Awards, Ajang Penghargaan Terbesar Industri Perfilman Korea Selatan

Nah, saya jadi sedikit tergelitik, sih, sebenarnya. Teringat bagaimana kita ramai-ramai menertawai tradisi “robot” para karyawan atau pegawai senior di sebuah perusahaan mana saja. Di mana ada satu pekerjaan yang harusnya bisa diselesaikan oleh satu personil saja, tapi nyatanya ada lebih dari tiga personil di pos itu. Akhirnya, organisasi jadi gemuk dan cost perusahaan membengkak. Kultur organisasi ini sanggup bertahan belasan hingga puluhan tahun lamanya.

Sedangkan di sisi lain, kita jugalah yang selalu berbangga diri menjadi seorang specialist. “Tugas gue cuma bikin konten. Kalau mau report analisa, lo ke analyst aja.” Begitulah kita yang selalu memegang teguh standar ganda. Kalau peraturan A bikin gue rugi, itu salah. Tapi kalau bikin gue untung, ya bisa diatur, lah. Lha, terus apa bedanya kita dengan mereka, Bambang?

Di dunia yang serba bergerak cepat ini, kita dituntut untuk adaptif dan harus bisa multitasking. Kebayang nggak, di luar sana banyak orang yang diam-diam mempelajari berbagai macam ilmu sekaligus, sehingga ketika dia dihadapkan dengan banyak kesempatan kerja, kesempatannya untuk diterima juga lebih besar. Berapa banyak seorang content creator yang melakukan banyak hal sekaligus mulai dari pengambilan gambar hingga editing seorang diri? Kalau menurut saya sih, yang terpenting selama kita berposisi sebagai pencari kerja, maka yang bisa menentukan kualifikasi pekerja adalah si pemilik usaha atau si employer itu sendiri. Fair, enough?

Memang, sih, kebanyakan adalah perusahaan yang baru saja memulai tim in-house untuk beberapa pekerjaan yang butuh spesialisasi tersendiri, misal, digital marketing. Biasanya, mereka hanya punya seorang digital strategist dan seorang creative designer. Mereka juga mengerjakan semua pekerjaan digital marketing mulai dari manage media sosial, e-mail marketing, hingga website sekaligus. Nah, kalau misal mau jadi seorang spesialis, ya lebih baik ke agency saja.

Saya sendiri saat ini sedang menuntut diri saya untuk menguasai beberapa skill yang memang berhubungan dengan pekerjaan saya. Kenapa tidak? Toh, yang dibutuhkan cuma belajar, belajar, dan belajar. Menjadi multitasker sama sekali tidak masalah buat saya. Banyak skill berarti banyak cuan. Dan yang terpenting, kita harus menghentikan kebiasaan mengejek dan menertawai pemberi kerja yang tidak sesuai keinginan kita. Sekali lagi, mereka beroperasi dengan budget yang bisa jadi terbatas dan beberapa alasan lainnya. Di saat kita menertawai, maka ada banyak pencari kerja yang maju terus pantang mundur. Kata mereka hajar aja dulu, siapa tau perusahaannya nanti berkembang. Nah, loh, nyesel deh nantinya.

BACA JUGA Memasuki Era Penulis Serba Ada dan Serba Bisa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2020 oleh

Tags: Industri KreatifPalugada
Dimas Bagus

Dimas Bagus

Buruh pabrik yang nggak pernah ikut aksi demo.

ArtikelTerkait

Mengenal Baeksang Arts Awards, Ajang Penghargaan Terbesar Industri Perfilman Korea Selatan terminal mojok

Mengenal Baeksang Arts Awards, Ajang Penghargaan Terbesar Industri Perfilman Korea Selatan

13 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil Mojok.co

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

7 Februari 2026
Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti Mojok.co

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti

9 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.