Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dilema Privasi Saat Ingin Keluar dari Grup WhatsApp

Nur Mar Atushsholihah Siregar oleh Nur Mar Atushsholihah Siregar
7 November 2020
A A
Grup WhatsApp Keluarga Besar Adalah Kawah Candradimuka Sebelum Berdebat di Sosial  Media

Dilema Privasi dan Serb Salah Saat Memutuskan Keluar dari Grup WhatsApp terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

 Katanya alasan terbesar seseorang membuat tulisan itu biasanya berangkat dari keresahan di dalam dirinya. Hal ini pula yang saya rasakan saat membuat tulisan ini. Bukan hanya mempertimbangkan sehari atau dua hari, saya bahkan butuh berbulan-bulan berpikir untuk bisa keluar dari salah satu grup WhatsApp.

Lantas, pikiran saya berkecamuk tentang apa sih faedah yang didapat saat tergabung dalam sebuah grup WhatsApp? Tidak dapat dimungkiri, pasti di antara kita semua memiliki setidaknya lebih dari dua grup WhatsApp. Hitung saja mulai dari grup keluarga inti, grup keluarga besar, grup teman SD, SMP, SMA hingga kuliah. Belum lagi grup kantor, grup nongkrong, dan grup-grup ajaib lainnya.

Pusing nggak sih, kalau terlalu banyak grup seliweran yang selalu memenuhi notifikasi HP? Anehnya tidak hanya puluhan chat, bahkan tak jarang ada ratusan chat yang menumpuk belum tentu terbaca. Namun, semakin banyak chat yang belum terbaca akan membuat semakin malas untuk ikut nimbrung dalam obrolan yang sedang dibicarakan. Memang sih beberapa pasti ada info yang penting juga.

Belum lagi kalau ternyata grup tersebut isinya benar-benar membuat jengah saat membacanya. Kalau tidak menyebarkan berita yang tidak penting, pamer pencapaian diri, bahkan sampai pada membuat opini yang mengundang perdebatan orang di dalamnya. Faktanya tidak semua orang peduli dan ingin tahu berita yang telah disampaikan tersebut.

Parahnya lagi nih, saat kita ketahuan telah membaca postingan tersebut dan tidak ikut berkomentar, lalu ada saja yang bilang, “Kok cuma di-read sih?” Demi apa pun ini membuat kesal sampai ke ubun-ubun, seakan saya berdosa telah membaca, namun tidak meninggalkan komentar.

Huft, tarik napas panjang dulu.

Dilemanya adalah saat saya memutuskan untuk hengkang dari salah satu grup WhatsApp pasti akan ada oknum yang mempertanyakan kenapa saya keluar dari grup. Semakin canggih zaman, nyatanya tidak membuat kita semakin nyaman akan privasi. Bahkan setiap orang rasanya harus tahu dan menerima alasan kita untuk keluar dari grup WhatsApp.

Sangat disayangkan karena tidak semua orang paham akan kondisi psikologis seseorang. Pastinya setiap orang itu punya alasan saat dia memutuskan untuk tidak lagi bergabung dalam satu grup WhatsApp. Selain grup itu hanya “nyampah” biasanya saya keluar dari grup karena obrolan di dalamnya sudah sangat membuat tidak nyaman.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Tapi, bisa nggak sih saat ada yang keluar dari grup komentarnya, “Oh dia keluar dari grup, ya udah terserah dia.” Tanpa ada embel-embel kenapa oh kenapa. Begitu lebih enak rasanya, ya!

Seperti misalnya salah satu grup WhatsApp alumni kampus saya yang membuat saya bingung harus beralasan apa untuk bisa keluar. Saya tidak pernah membenci atau tidak menyukai seseorang secara personal, saya hanya tidak suka atas apa yang mereka posting. Terkadang grup WhatsApp itu sekalipun sudah di-mute kenyataannya masih memancing perhatian saya untuk membukanya.

Namun, kesalnya setelah dibuka tak jarang membuat hati bergumam dan menyesali telah membacanya. Bukannya lebay wahai sobatku, terkadang hal kecil bisa bikin kita gedeg.

Pernah salah seorang teman saya keluar dari grup tepat setelah teman lain mengirim postingan terkait kemajuan tugas akhirnya. Hal ini cukup menghadirkan perdebatan di dalam grup, banyak spekulasi bermunculan. Mayoritas orang beranggapan teman saya keluar karena tersinggung dengan postingan tersebut. Sebab, kami semua tahu bahwa teman saya yang baru saja keluar itu “mandek” dan terkendala terkait TA.

Tanpa dipaksa, secara jujur dia mengatakan pada saya kalau dia tersinggung dengan apa yang ada di grup tersebut. Sedangkan ketika saya bertanya kepada teman yang memposting hal tersebut, dia katakan bahwa niatnya sebatas untuk memotivasi. Dia ingin membangkitkan semangat teman-teman di grup agar tetap semangat dalam mengerjakan TA.

Sungguh dua persepsi yang jauh berbeda bukan?

Itulah mengapa saya katakan kita butuh memahami secara psikologis sebelum mengirim sesuatu. Tidak semua orang punya toleransi yang sama terhadap sesuatu hal atau masalah. Kita semua punya kadar berbeda dalam mengatasi sebuah persoalan. Menurut kita biasa, bisa jadi bagi orang lain itu sangat menguras jiwanya.

Niatnya membuat grup WhatsApp adalah untuk saling mengakrabkan dan memudahkan penyebaran informasi penting. Eh, pada akhirnya malah memunculkan masalah baru yang membuat beberapa anggota tidak akur. Inilah mengapa cukup lama saya pikirkan alasan apa yang tepat untuk bisa keluar dengan tidak menyakiti perasaan para anggota grup. Sebab menurut saya, keluar dari grup tanpa pemberitahuan itu tidak sopan. Artinya, saya akan tidak menghargai anggota grup yang biasanya mayoritas adalah para senior.

Padahal tidak semua alasan bisa blak-blakan kita katakan di dalam grup. Serbasalah memang, mau tetap di dalam grup, tetapi menyesakkan hati atau memilih keluar, tetapi harus siap dibilang sombong atau tidak sopan. Haduh, kalau sudah begini rasanya ingin kembali ke masa-masa dimana kalau mau ngirim pesan bayarnya per karakter huruf aja deh… hahaha.

BACA JUGA Ditolak Perusahaan Saat Melamar Kerja Bukan Berarti Tidak Layak dan tulisan Nur Mar Atushsholihah Siregar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2020 oleh

Tags: grup whatsappMedia Sosial
Nur Mar Atushsholihah Siregar

Nur Mar Atushsholihah Siregar

Hamba Allah

ArtikelTerkait

Netizen Indonesia Memang Paling Nggak Sopan, di Tengah Kabar Duka Masih Ada yang Bacot Ngeributin Agama Kiki Fatmala

Netizen Indonesia Memang Paling Nggak Sopan, di Tengah Kabar Duka Masih Ada yang Bacot Ngeributin Agama Kiki Fatmala

2 Desember 2023
Orang Dewasa Nonton Kinderflix: Udah Salah Lapak, Nyampah di Kolom Komentar lagi!

Orang Dewasa Nonton Kinderflix: Udah Salah Lapak, Nyampah di Kolom Komentar lagi!

9 November 2023
Saya Punya Alasan untuk Tidak Perhitungan Follow IG Orang terminal mojok.co

Saya Punya Alasan untuk Tidak Perhitungan Follow IG Orang

7 Januari 2021
Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong! terminal mojok.co

Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong!

15 Januari 2021
Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

14 November 2023
Bekerja, Terima Kasih pada Penggiat Diskusi Online

Terima Kasih pada Penggiat Diskusi Online

7 Desember 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.