Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ferry Kombo dan Fathur, Dua Mantan Ketua BEM yang Beda Nasib

Iqbal AR oleh Iqbal AR
8 Juni 2020
A A
Ferry Kombo dan Fathur, Dua Mantan Ketua BEM yang Beda Nasib mas fathur

Ferry Kombo dan Fathur, Dua Mantan Ketua BEM yang Beda Nasib Emangnya Kenapa Kalau Mas Fathur Jadi Tukang Endrose?

Share on FacebookShare on Twitter

Narasi anti rasisme memunculkan korban baru. Bukan, kita bukan sedang bicara soal kematian Geroge Floyd yang menimbulkan kekacauan cukup besar di Amerika Serikat. Kita sedang membicarakan Ferry Kombo, Ketua BEM Universitas Cendrawasih yang diancam pidana 10 tahun oleh negara, atas tuduhan melakukan perbuatan makar dalam aksi damai menentang rasisme Papua setahun yang lalu. Tidak hanya Ferry, 6 tahanan politik (tapol) lainnya juga dijatuhi tuduhan serupa.

Para aktivis, pegiat hak asasi dan beberapa tokoh Papua meminta dukungan solidarias atas apa yang menimpa Ferry Kombo dan beberapa tapol lainnya. Veronica Koman salah satunya, ia mengunggah video singkat yang menunjukkan Ferry Kombo meminta dukungan dan solidaritas kepada masyarakat. Sebagai pengingat, kasus rasisme yang menimpa mahasiswa asal Papua sampai saat ini masih belum ketemu jluntrungannya, belum tahu siapa yang diputuskan bersalah.

ADVERTISEMENT

Kasus ini juga yang menyebabkan adanya Solidaritas Mahasiswa Papua yang menyatakan akan menggelar aksi demo jika tuntutan untuk membebaskan tahanan politik ini tidak digubris. Ketidakadilan hukum yang menimpa para pelaku rasisme dan para aktivis anti rasisme ini jelas tidak mencerminkan keadilan sosial.

Ini jelas berbanding terbalik dengan mantan Ketua BEM UGM, Atiatul Muqtadir atau Fathur yang mendadak jadi bintang ketika aksi mahasiswa pada 2019 lalu. Entah dia turun ke jalan atau tidak, Fathur tiba-tiba hadir dalam diskusi di acara Mata Najwa beberapa waktu setelahnya. Tak ayal, setelah itu Fathur menjadi idola baru dan menjadi potret mahasiswa kritis, meskipun kiprahnya turun ke jalan masih perlu dipertanyakan. Bahkan, dalam aksi #GejayanMemanggil, Fathur enggan turun ke jalan. Entah apa alasannya.

Imbas dari kepopulerannya, Fathur kini berubah dari seorang ketua BEM, menjadi “selebgram”, salah satunya melalui foto Instagram-nya yang mempromosikan sebuah marketplace daring. Meskipun pada bio Instagram-nya dia menulis “bukan aktivis dan bukan selebgram,” masyarakat masih menganggap bahwa Fathur tidak lebih baik dari para aktivis 98 yang dulu sangat kritis, dan kini malah mengekor pada pemerintah.

Potret dua mantan Ketua BEM dari dua kampus berbeda ini jelas merupakan ironi, bagaimana semangat perjuangan yang dulu sama-sama diperjuangkan membutuhkan banyak solidaritas, ini malah salah satu “pimpinannya” memilih untuk berbelok dan tidak melanjutkan perjuangannya, meskipun dalam kasus Fathur dia tidak mengekor pada Pemerintah. Demo RKUHP yang dulu Fathur gaungkan dan demo anti rasisme Papua yang Ferry Kombo dan kawan-kawan lakukan, harusnya menjadi satu perjuangan yang sama yang harus diperjuangkan. RKUHP hanya dipending, dan kasus rasisme Papua belum selesai, jelas perjuangan Fathur dan Ferry Kombo juga belum selesai.

Dalam kasus rasisme Papua yang sampai saat ini malah menjera Ferry Kombo ke dalam ancaman pidana, suara-suara dari mantan “aktivis” mahasiswa yang dulu ikut aksi demo RKUHP masih agak jarang ditemukan. Ada, belum cukup banyak. Memang, kita tidak bisa memaksa orang untuk bersolidaritas dan mendukung sebuah ide atau aksi, tetapi untuk urusan rasisme, tidak ada alasan untuk tidak bersolidaritas, kecuali pelaku rasisme itu sendiri.

Ini adalah potret bagaimana perlakuan dan nasib yang berbeda yang dialami oleh Fathur dan Ferry Kombo, mantan Ketua BEM yang pernah (dan masih) menyuarakan ketidakadilan. Meskipun berbeda isu, kedua aksi tersebut bermuara pada satu gagasan yang sama, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga:

Sisi Gelap Kerja di Korea Selatan: Gaji Besar tapi Hak-hak Lain Tergadaikan  

Dosa Gubernur Jawa Timur pada Orang Madura: Rasisme Dibiarkan, Pendidikan Konsisten Rendah, Kemiskinan Tetap Tinggi!

Mungkin tidak cukup adil membandingkan apa yang dialami oleh Fathur dan apa yang dialami oleh Ferry Kombo sebagai perbandingan yang adil. Namun, atas nama solidaritas dan demi menjunjung keadilan, pantas kalau kita mengkritisi kekontrasan nasib yang dialami oleh kedua mantan ketua BEM ini. Memaksa Fathur untuk bersuara terhadap apa yang dialami oleh Ferry Kombo juga bukan sebuah hal yang etis dilakukan. Ini hanya sebuah gambaran atau potret perbedaan nasib yang sangat disayangkan.

Fathur boleh saja memanfaatkan kepopulerannya dan “kekuatannya” untuk urusan pribadi. Endorse, menulis buku, atau hal-hal lain. Namun kalau saya menjadi Fathur dengan apa yang dia miliki sekarang, tentu saya akan dengan sukarela menggalang dukungan dan solidaritas untuk Ferry Kombo dan tahanan politik lain yang terancam pidana. Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi bahwa aktivisme dan solidaritas bukan soal pemaksaan, tetapi soal hati nurani.

BACA JUGA Emangnya Kenapa kalau Mas Fathur Jadi Tukang Endorse? atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2020 oleh

Tags: FathurFerry Komboketua BEMrasisme
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Mas Leon Alvinda Putra, Plis Jangan Jadi Artis Jalur Aktivis terminal mojok

Mas Leon Alvinda Putra, Plis Jangan Sampai Jadi Artis Jalur Aktivis

30 Juni 2021
Timses Calon Ketua BEM Adalah Profesi yang Nggak Sia-sia terminal mojok.co

Timses Calon Ketua BEM Adalah Profesi yang Nggak Sia-sia

5 Januari 2021
Kalau Bikin Kajian Strategis BEM, Tolong Referensinya Jangan Makalah Anak SD kastrat BEM kampus makalah APA style mojok.co

Kalau Bikin Kajian Strategis BEM, Tolong Referensinya Jangan Makalah Anak SD

16 Desember 2020
papua

Kerusuhan Menyengsarakan Masyarakat: Damailah Papua

2 September 2019
Karakter Ikonik Diperankan oleh POC, Perjuangan Kesetaraan yang Nanggung

Karakter Ikonik Diperankan oleh POC, Perjuangan Kesetaraan yang Nanggung

15 September 2022
UEFA uang rasisme mojok

UEFA: Gercep Perkara Duit, Lambat Perkara Rasisme

22 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 alasan Alun-alun Tegal jadi tempat jogging favorit warga Mojok.co

4 alasan Alun-alun Tegal jadi tempat jogging favorit warga

21 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

20 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.