Ada satu hal yang belakangan terasa berubah ketika naik KA BIAS dari Madiun menuju Solo: waktu tempuhnya.
Dulu, perjalanan yang bisa ditempuh sekitar satu setengah jam kini terasa semakin panjang. Dalam beberapa perjalanan, penumpang bahkan harus menyediakan waktu hingga dua jam. Selisih setengah jam mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka yang punya urusan, jadwal kuliah, atau keperluan lain di kota tujuan, tambahan waktu itu bukan perkara kecil.
Bagi kalian yang belum tau apa itu KA BIAS, saya jelaskan dikit. KA ini adalah kereta yang menghubungkan Bandara Adi Soemarmo dengan Madiun dan Caruban. Mudahnya sih, seperti itu.
Awalnya, KA BIAS menjadi pilihan transportasi yang cukup menyenangkan untuk perjalanan Madiun–Solo. Tarifnya relatif terjangkau, tidak perlu berhadapan dengan kemacetan jalan raya, dan penumpang bisa menikmati perjalanan tanpa harus menyetir sendiri. Tinggal duduk, menunggu stasiun tujuan, lalu turun. Sederhana sekali konsepnya.
Namun, belakangan perjalanan dengan kereta ini terasa seperti menguji kemampuan seseorang dalam berdamai dengan waktu. Belum lagi ketika perjalanan harus berhadapan dengan pekerjaan perawatan atau maintenance jalur yang terasa cukup sering terjadi.
Bagi penumpang, situasi seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan: sebenarnya kapan perjalanan bisa kembali terasa efisien?
Rencana bisa bergeser
Tentu saja, perawatan jalur kereta bukan sesuatu yang bisa dianggap tidak penting. Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas. Tidak ada yang ingin perjalanan berlangsung cepat, tetapi justru mengorbankan keamanan. Perawatan merupakan bagian penting dari operasional perkeretaapian. Masalahnya bukan pada kegiatan perawatan itu sendiri, melainkan bagaimana dampaknya terhadap kenyamanan dan kepastian waktu perjalanan penumpang.
Sebab, bagi penumpang, terlebih untuk KA BIAS, informasi mengenai perjalanan bukan sekadar angka yang tertera di aplikasi. Ada aktivitas lain yang sudah disusun berdasarkan perkiraan waktu kedatangan. Mahasiswa, misalnya, bisa saja harus mengejar jadwal kuliah atau kegiatan organisasi. Ada pula penumpang yang bepergian untuk bekerja, mengurus keperluan keluarga, atau melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi lain.
Tambahan waktu tiga puluh menit bisa membuat seluruh rencana ikut bergeser. Apalagi jika penumpang harus memperhitungkan waktu perjalanan dari stasiun menuju tempat tujuan. Rasanya kurang menyenangkan ketika sudah memilih kereta dengan harapan perjalanan lebih praktis, tetapi tetap harus menyediakan waktu cadangan yang semakin banyak.
Kepastian informasi
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kepastian informasi. Penumpang tentu bisa memahami jika ada pekerjaan perawatan yang mengharuskan perjalanan berjalan lebih lambat. Namun, informasi yang jelas mengenai kondisi perjalanan, perkiraan waktu tempuh, dan kemungkinan perubahan jadwal akan sangat membantu. Dengan begitu, penumpang bisa menyesuaikan rencana tanpa harus menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
Jangan sampai penumpang justru mengetahui adanya perubahan waktu perjalanan ketika sudah berada di dalam kereta. Transportasi publik semestinya tidak hanya menawarkan tarif yang terjangkau, tetapi juga memberikan kepastian dan kemudahan bagi orang-orang yang menggunakannya.
Potensi KA BIAS
KA BIAS sebenarnya punya potensi besar sebagai penghubung wilayah Madiun, Magetan, Ngawi, Sragen, hingga Solo. Keberadaannya memudahkan mobilitas masyarakat antarkota tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi. Karena itu, menjaga kepercayaan penumpang menjadi hal yang tidak kalah penting dari menjaga kondisi sarana dan prasarana.
Pada akhirnya, penumpang KA BIAS tidak sedang mengikuti lomba siapa yang paling cepat sampai di Solo. Mereka hanya ingin sampai sesuai perkiraan waktu yang sudah direncanakan. Kalau dulu perjalanan Madiun–Solo bisa ditempuh sekitar satu setengah jam, tentu wajar jika penumpang berharap efisiensi itu tetap diperhatikan.
Sebab, naik kereta seharusnya membuat perjalanan lebih mudah, bukan membuat penumpang harus belajar menambah stok kesabaran setiap kali membeli tiket.
Penulis: Septyani Dwi Ayu Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kereta Api Madiun Jaya, Andalan Baru Saya Perjalanan Madiun-Jakarta dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok