Bagi masyarakat eks-Karesidenan Pekalongan, khususnya warga Tegal, objek wisata pemandian air panas Guci adalah kasta tertinggi untuk urusan liburan keluarga. Mau healing tipis-tipis? Ke Guci. Mau cari hawa dingin mirip Puncak tapi malas kena macet Bogor? Ya ke Guci.
Berbicara tentang ikon wisata di kaki Gunung Slamet ini, ingatan saya mendadak melayang ke masa kecil. Dulu, setiap kali diajak orang tua berendam di sana, rasanya campur aduk. Di satu sisi senang bisa main air hangat di tengah udara berkabut, di satu sisi ada perasaan waswas yang menyelinap. Maklum, kepala saya saat itu sudah dijejali berbagai mitos horor seputar Guci oleh orang-orang tua.
Setelah nalar saya kembali saat sudah dewasa, ternyata ada dua mitos legendaris di Guci Tegal yang dulu sukses bikin saya clingukan ketakutan.
Patung naga dan kurcaci yang konon “shift malam” setiap Jumat Kliwon
Kalau kamu berkunjung ke Guci, pemandangan ikonik yang bakal langsung menyambut adalah keberadaan patung naga dan kurcaci. Nah, mitos yang paling santer terdengar waktu saya kecil adalah: patung-patung ini bisa hidup dan bergerak layaknya makhluk bernyawa kalau malam Jumat Kliwon tiba. Istilah kerennya, mereka lagi shift malam, capek jadi pajangan seharian penuh.
Konon, patung naga di Pancuran 13 itu bukan sekadar hiasan semen biasa, melainkan rumah bagi sosok gaib bernama Nyai Rantensari (ada juga yang menyebutnya Naga Cerek). Dia dipercaya sebagai dayang sakti dari penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul, yang diutus menjaga mata air. Sementara patung kurcaci di sekitarnya bertugas sebagai “tim pengawas” agar si naga tetap kalem dan tidak berbuat gaduh.
Waktu kecil, mitos ini sukses bikin saya paranoid setengah mati. Saban kali melintasi Pancuran 13, saya ogah melirik patung-patung itu lama-lama. Ada ketakutan absurd yang menghantui isi kepala bocah saya: takut tiba-tiba patung kurcacinya berkedip atau naganya mendadak melompat dari tembok lalu minta disuapi sate tegal lengkap dengan bumbu kecapnya. Alhasil, momen mandi yang harusnya relaks justru berubah jadi ajang uji nyali karena mata saya sibuk clingukan waspada.
Cari jalan pintas kaya raya lewat ritual pesugihan naga cerek
Selain dikenal karena khasiat air hangatnya yang konon bisa menyembuhkan segala macam penyakit kulit, Guci Tegal juga punya sisi gelap dalam narasi selera lokal: tempat nyupang alias pesugihan. Ini adalah jenis mitos yang selalu berhasil membuat bulu kuduk saya merinding setiap kali melewati area air terjun.
Mitosnya, di balik derasnya air terjun Guci, terdapat sebuah gua tersembunyi yang menjadi singgasana mistis dari Naga Cerek. Konon, di hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, tempat gelap ini kerap didatangi oleh orang-orang yang frustrasi dengan isi dompetnya untuk melakukan ritual pesugihan instan. Syarat yang diminta pun sangat klise namun mengerikan: harta berlimpah harus ditukar dengan tumbal nyawa dari anggota keluarga sendiri.
Dulu, cerita tumbal ini sukses membuat saya memandang air terjun dengan tatapan ngeri. Saya selalu membayangkan ada mata tak kasat mata yang sedang mengincar saya untuk dijadikan korban pesugihan berikutnya.
Meskipun ritual ini katanya dilakukan saat malam sepi atau dini hari biar khusyuk, tetap saja menurut saya rasanya agak berisiko tinggi. Bayangkan, Guci Tegal yang sekarang adalah daerah wisata super sibuk di mana penginapan dan villa bertebaran di mana-mana.
Alih-alih mendapatkan wangsit gaib dengan tenang, pelaku pesugihan malah harus selalu waswas. Takutnya, pas mereka lagi komat-kamit merapal mantra di tengah malam, tiba-tiba ada rombongan anak muda yang lagi kelayapan karena kelaparan cari sate kelinci, atau kepergok bapak-bapak ronda yang salah paham lalu meneriaki mereka maling. Mau kaya instan lewat jalur mistis, malah berakhir digebuki warga karena disangka mau berbuat kriminal. Sungguh skenario pesugihan yang rawan gagal total.
Mitos Guci Tegal yang nakutin, tapi juga bikin berkesan
Dua mitos horor di atas hanyalah bumbu penyedap yang membuat perjalanan ke Guci Tegal terasa jauh lebih berkesan. Tanpa adanya cerita patung naga yang bisa hidup atau misteri pesugihan di balik air terjun, Guci mungkin cuma akan dinilai sebagai tempat pemandian air hangat biasa.
Jadi, kapan kita ke Guci Tegal lagi? Tenang saja, patung naganya dijamin tidak bakal menggigit kok, sebab tersapu banjir bandang pada akhir tahun 2025.
Penulis: Malik Ibnu Zaman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kabupaten Tegal Bernasib Suram Tanpa Kehadiran Wisata Guci dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok