Meski secara geografi begitu dekat, ada perbedaan mencolok antara mahasiswa Surabaya dan mahasiswa Bangkalan. Dari sekilas aja, udah keliatan bedanya
Bagi yang tidak pernah berkunjung ke Surabaya dan Bangkalan mungkin bertanya-tanya bagaimana kondisi dua wilayah ini. Secara geografis, keduanya bertetangga dan masih satu wilayah kota metropolitan, yakni Gerbangkertosusila. Apalagi kalau membayangkan Jembatan Suramadu yang menghubungkan dua wilayah ini, pastilah mengira kalau keduanya tidak jauh berbeda.
Nah, alasan itu kadang membuat calon mahasiswa seluruh Indonesia memilih dua wilayah ini untuk kuliah. Karena ingin merantau ke kota besar, mereka daftar ke kampus di Surabaya, sementara pilihan keduanya mengambil di Bangkalan. Siapa tahu, meski tak di Surabaya, bisa diterima di kampus tetangganya.
Ya, saya tidak menyalahkan hal demikian, tapi menganggap dua wilayah ini punya lingkungan sama, bagi saya perlu dipikir ulang. Sebab, aslinya keduanya jauh berbeda. Berikut saya jelaskan.
Vibes mahasiswa Surabaya lebih warna-warni, di Bangkalan sangat islami
Perlu kita pahami bahwa meskipun Surabaya dan Bangkalan bertetangga, lingkungan sosial keduanya begitu berbeda. Di Surabaya, karena jadi salah satu kota terbesar di Indonesia, tentunya lebih beragam. Sementara Bangkalan, masih seragam.
Hal itu juga berlaku dalam kehidupan mahasiswanya. Di Surabaya, kalau bahasa saya, mahasiswanya lebih warna-warni. Fashionnya luar biasa modis. Ada yang bertema metal, vintage, bohemian, edgy, pokoknya rame. Apalagi kalau kalian ketemunya mahasiswa dari jurusan seni, aduh tercengang-cengang deh.
Nah, hal demikian sulit ditemukan di Bangkalan. Di kabupaten ini, dominasi fashionnya cuma satu, yakni Islami. Bahkan, keluyuran di lingkungan kampus pakai sarung sudah biasa di sini. Jadi, cocok nih buat mahasiswa yang hidupnya cukup religius.
Mahasiswa Surabaya nongkrongnya di coffee shop, di Bangkalan cukup di warkop
Kemudian, pilihan tempat nongkrong para mahasiswa di Bangkalan dan Surabaya juga berbeda. Di Bangkalan, rata-rata mahasiswa lebih memilih nongkrong di warkop dengan menu kopi sachet, teh manis, mi instan, dan gorengan yang biayanya lebih murah. Selain agar hidup lebih hemat, sedikitnya pilihan coffee shop kekinian juga menjadi alasan kebiasaan tersebut.
Hal itu akan berbeda jika kalian kuliah di Surabaya. Di kota ini, biaya jajan kalian bisa naik berkali-kali lipat. Sebab, nongkrongnya bukan lagi di warkop, tapi di coffee shop. Di UNESA saja misalnya, tepat di depan gerbang kampusnya berdiri Tomoro Coffee, Kopi Kenangan, dan Kopi Haya, yang harga menunya bisa dua kali lipat dengan warkop biasanya.
Ya, untungnya hal demikian belum ada di Bangkalan. Setiap keluar gerbang kampus di Bangkalan, kita masih disambut warkop, bukan coffee shop. Jadi, bisa lebih hemat.
Mahasiswa Bangkalan lebih sering demo
Selanjutnya, jika kalian suka demonstrasi, kampus di Bangkalan agaknya menjadi pilihan yang tepat bagi calon mahasiswa. Di kabupaten ini, aksi mahasiswa bisa dibilang lebih sering dibandingkan di Surabaya. Setiap semester pasti ada saja demo yang diinisiasi oleh para mahasiswa di Bangkalan.
Hal itu berbeda dengan situasi mahasiswa di Surabaya. Di Surabaya, demonya seperti karena FOMO saja. Saya bilang FOMO karena demo di Kota Pahlawan selalu terlambat, mungkin masih nunggu arahan pusat. Mahasiswa di kota lain udah ramai, di Surabaya masih adem ayem. Barulah beberapa minggu kemudian mereka turun ke jalan berasa paling sangar. Wkwkwk.
Ya, di Bangkalan pun sebetulnya masih ada minusnya, yakni isu demonstrasi yang diangkat hanya lingkup regional, dan tiap tahun selalu itu-itu saja isunya. Misalnya, ya masalah keamanan, sampah, pendidikan, dan lain sebagainya.
Nah, untuk isu nasional, mahasiswa Bangkalan juga lebih lambat lagi. Masih nunggu yang di Surabaya, sementara yang di Surabaya nunggu yang di Jakarta. Haduh!
Sama-sama banyak mahasiswa pragmatis, tapi di Surabaya lebih humanis
Meskipun intensitas demonstrasi di Bangkalan dan Surabaya berbeda, ada satu hal yang sebetulnya tetap sama, yakni aktivisnya sama-sama banyak yang pragmatis. Mungkin itu alasan di Bangkalan isu demonya terus sama tiap tahun. Ya, cuma buat menggertak dan jadi ajang orasi buat unjuk diri saja.
Di Surabaya pun demikian, isu demonstrasi yang diangkat juga gagap, ya tentunya karena nunggu keputusan pusat. Bahkan, sering kali aktivis mahasiswa di kota besar ini keciduk ngopi sama penguasa, bahkan minta uang ke mereka. Hmmm!
Tapi bedanya, bagi saya, mahasiswa di Surabaya sebetulnya lebih punya alternatif lain, yang menurut saya akan lebih humanis. Alasannya, di Surabaya tetap ada kok LSM yang tetap menjaga integritasnya, seperti YLBH, Save Street Child (SSC) Surabaya, KontraS, dan lain sebagainya.
Nah, LSM yang seperti itu bisa jadi pilihan untuk menjaga gerakan kita tetap humanis saat menjadi mahasiswa di Surabaya. Di Bangkalan? Belum ada gerakan seperti itu, padahal secara data LSM-nya sangat banyak.
Ya, demikianlah perbedaan kehidupan mahasiswa di Bangkalan dan Surabaya. Saya tidak mengatakan bahwa ada yang lebih baik atau buruk dari salah satunya ya. Tentu, kita punya selera dan kecenderungan masing-masing. Maka dari itu, saya bantu tuliskan supaya kalian tidak pusing akan memilih akan kuliah di mana. Heheheh. Sekian!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kuliah di Surabaya Memberikan Hal-hal yang Tak Bisa Jogja Tawarkan, Ironi Pudarnya Predikat Kota Pelajar dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok