ADVERTISEMENT

Cibinong yang dulu bukanlah yang sekarang, padahal baru ditinggal merantau sebentar

Cibinong yang dulu bukanlah yang sekarang, padahal baru ditinggal merantau sebentar

Sekarang, saya harus rela menerima kenyataan bahwa Cibinong sudah berubah. Cibinong bukan lagi sekadar daerah transit yang dekil

Punya kampung halaman yang diam-diam ambisius itu lumayan bikin kaget. Apalagi kalau meninggalkannya dalam wujud daerah yang suasananya bikin ngantuk, lalu pulang-pulang sudah dandan ala kota metropolitan.

ADVERTISEMENT

Begitulah perasaan saya ketika kembali ke Cibinong setelah beberapa tahun merantau.

Dulu, dalam ingatan saya, Cibinong hanyalah sebuah tempat numpang lewat. Sebuah wilayah di tengah-tengah jalan raya panjang yang membelah rute Jakarta menuju Bogor. Mentok-mentok, hiburan warganya cuma keliling area Pemda di hari Minggu pagi demi berburu bubur ayam, cilok, dan pakaian murah. Cibinong adalah definisi tata kota yang pasrah; hidup segan, mati pun tak ada anggarannya.

Tapi itu dulu ges. Sekarang, suasananya berubah drastis sampai bikin saya merasa kayak orang udik di kampung sendiri.

Trotoar rapi dan kafe Cibinong yang bikin minder

Coba saja lewati Jalan Tegar Beriman hari ini. Saya sampai harus mengucek mata melihat pedestrian yang dibangun lebar dan rapi. Trotoarnya ramah pejalan kaki, lengkap dengan lampu-lampu estetik yang kalau malam menyala dengan pongahnya.

Lalu lihatlah Stadion Pakansari. Dulu, tanah di sana mungkin cuma lahan kosong tempat jin buang anak. Kini, daerah ini jadi stadion megah berstandar internasional yang rutin dipakai pertandingan besar.

Di sekitarnya, kedai kopi artisan yang menjual es kopi susu seharga makan siang kuli bangunan menjamur di mana-mana. Orang-orang nongkrong dengan pakaian skena, ngobrolin work-life balance, ini di Cibinong loh, saudara-saudara!

Padahal kalau dipikir-pikir, ya wajar saja

Setelah kekagetan itu mereda, saya mulai berpikir agak jernih. Sebenarnya, kemajuan Cibinong ini bukanlah sebuah keajaiban yang jatuh dari langit. Cibinong itu Ibu Kota Kabupaten Bogor.

Sebagai pusat pemerintahan dari kabupaten dengan populasi terbanyak se-Indonesia (lebih dari 5,5 juta jiwa), wajar saja kalau infrastrukturnya harus mentereng. Mengutip data pemerintah, APBD Kabupaten Bogor itu angkanya ngeri-ngeri sedap, nyaris menyentuh Rp12 triliun per tahun. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mereka juga terus naik di angka 71 lebih.

ADVERTISEMENT

Dengan  uang sebanyak itu dan status sebagai “ibu kota” kabupaten, sudah sepantasnya Cibinong punya mal segede Cibinong City Mall (CCM) atau jalanan mulus bebas PKL liar di pusat pemerintahannya. Justru aneh sih kalau bertahun-tahun statusnya ibu kota kabupaten, tapi infrastrukturnya setara kelurahan.

Masalahnya ada di standar kita yang terlalu rendah

Mungkin standar saya adalah ironi. Kenapa saya dan mungkin banyak warga asli Cibinong merasa kaget?

Barangkali masalahnya bukan pada Cibinong yang bergerak terlalu cepat, melainkan pada standar kita yang telanjur rusak. Kita, masyarakat Indonesia, sudah terlalu terbiasa melihat daerah kabupaten tampil seadanya. Kita terbiasa menerima nasib bahwa yang berhak punya trotoar estetik dan ruang publik layak cuma warga Kota Madya.

Jadi, ketika sebuah pemerintah daerah akhirnya bekerja membangun kotanya dengan anggaran yang ada dan itu memang bare minimumnya sih. Kita malah kaget. Kita menganggap kewajaran itu sebagai sebuah kemewahan yang salah tempat.

Sekarang, saya harus rela menerima kenyataan bahwa Cibinong sudah berubah. Cibinong bukan lagi sekadar daerah transit yang dekil. Meskipun jujur saja, sampai hari ini saya masih agak gugup kalau harus masuk ke kafe di sekitar Pakansari.

Masalahnya sederhana. Dompet saya masih bermental Cibinong coret, sementara kotanya sudah telanjur bergaya Jakarta Selatan.

Penulis: Zain Ahdan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Alasan Cibinong Adalah Pilihan Terbaik untuk Menetap di Luar Jabodetabek dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2026 oleh .

Zain Ahdan

Mahasiswa semester akhir yang mempunyai motto hidup “di-edankeun, kagok edan”.